Pencarian

Pemimpin Hebat: Membangun dengan Karya, Akhiri Jabatan dengan Marwah

Tokoh LAM Siak H. Makmur menilai pemimpin hebat bukan hanya diukur dari pembangunan dan penghargaan, tetapi dari integritas menjaga amanah hingga akhir jabatan.

riauexpose
riauexpose Redaksi · Senin, 21 September 2026 · 10:32:00 WIB · Editor: Redaksi
Pemimpin Hebat: Membangun dengan Karya, Akhiri Jabatan dengan Marwah
H. Makmur Tokoh LAM Siak (istimewa).

Oleh: H. MAKmur

Tokoh LAMR Siak

Riauexpose.com SIAK- Ada banyak cara untuk mengukur keberhasilan seorang pemimpin.

Ada yang melihat dari panjangnya jalan yang dibangun, megahnya gedung pemerintahan, banyaknya penghargaan yang diterima, besarnya anggaran pembangunan, atau ramainya baliho yang memuat wajah seorang kepala daerah.

Namun bagi saya, ada ukuran yang jauh lebih mendasar.

Seorang pemimpin besar adalah pemimpin yang mampu menjaga amanah sampai akhir masa jabatannya dengan kehormatan, integritas dan tidak tersandung perkara hukum akibat penyalahgunaan kekuasaan.

Pembangunan dapat terlihat oleh mata, penghargaan dapat terpajang di dinding, tetapi integritas hanya dapat dibuktikan oleh perjalanan waktu.

Pemimpin datang dengan janji.

Pemimpin bekerja dengan kewenangan.

Namun pemimpin dikenang dari bagaimana ia mempertanggungjawabkan seluruh kewenangan tersebut ketika masa jabatannya berakhir.

Inilah mengapa masyarakat Melayu memiliki falsafah yang begitu dalam.

“Biar putih tulang, jangan putih mata.”

Maknanya bukan sekadar keberanian menghadapi kesulitan. Ini semua merupakan gambaran tentang harga diri, kehormatan dan keteguhan memegang prinsip.

Falsafah itu dapat dimaknai sebagai pesan bahwa jabatan boleh berakhir, kekuasaan boleh berpindah, tetapi marwah dan nama baik jangan sampai dipertaruhkan karena perbuatan yang mencederai amanah rakyat.

Kita tentu tidak mengabaikan pentingnya pembangunan.

Jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit, pelayanan publik, infrastruktur ekonomi dan berbagai program pemerintah merupakan bagian penting dari keberhasilan kepala daerah.

Tetapi pembangunan seharusnya berjalan beriringan dengan tata kelola pemerintahan yang bersih.

Sebab seorang kepala daerah bukan hanya dituntut meninggalkan bangunan fisik, tetapi juga meninggalkan warisan moral dan pemerintahan yang sehat.

Ada kepala daerah di Riau yang menyelesaikan masa kepemimpinannya dan kemudian melanjutkan pengabdian di ruang publik lainnya.

Di Kabupaten Siak, catatan KPU menunjukkan pergantian kepemimpinan dari Alfedri kepada Afni Zulkifli pada 2025 lalu.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa akhir sebuah masa jabatan merupakan bagian penting dari catatan kepemimpinan, bukan sekadar bagaimana seseorang memulainya.

Sebaliknya, Riau juga memiliki catatan panjang mengenai kepala daerah yang kemudian berhadapan dengan proses hukum.

Pada Juli 2026, misalnya, Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru menjatuhkan vonis dua tahun penjara terhadap Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid dalam perkara korupsi.

Sebelumnya, KPK juga menetapkan Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby sebagai tersangka dalam perkara dugaan suap jual beli jabatan sekda pada Juli 2026. KPK menyebut perkara tersebut sebagai penindakan terhadap kepala daerah ketujuh di Provinsi Riau.

Catatan sejarah Riau bahkan menunjukkan sejumlah kepala daerah lainnya pernah berhadapan dengan perkara korupsi, mulai dari gubernur hingga bupati dan wali kota.

Fakta-fakta hukum tersebut memberikan satu pelajaran penting bagi kita semua.

Kekuasaan tidak pernah memberikan kekebalan terhadap hukum.

Jabatan setinggi apa pun tetap memiliki batas.

Kewenangan sebesar apa pun tetap harus dipertanggungjawabkan.

Dan tanda tangan seorang kepala daerah bukan hanya tinta di atas kertas, melainkan bagian dari tanggung jawab hukum dan moral.

Saya tidak mengatakan penghargaan tidak penting.

Penghargaan merupakan apresiasi atas sebuah capaian. Tetapi penghargaan bukanlah sertifikat bahwa seluruh perjalanan kepemimpinan seseorang telah sempurna.

Begitu pula pembangunan.

Gedung yang megah tidak dapat menjadi tameng dari persoalan hukum.

Jalan yang panjang tidak dapat menghapus kesalahan.

Angka investasi yang besar tidak otomatis menjadi ukuran kebersihan pemerintahan.

sejarah akan bertanya: Bagaimana amanah itu dijalankan?

Apakah kekuasaan digunakan untuk kepentingan rakyat atau justru untuk kepentingan pribadi dan kelompok?

Apakah jabatan menjadi jalan pengabdian atau berubah menjadi kesempatan memperkaya diri?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang semestinya menjadi cermin bagi setiap pemimpin.

Ukuran seorang pemimpin tidak hanya ketika ia sedang berada di atas panggung.

Justru ukuran yang sesungguhnya terlihat ketika masa jabatan hampir selesai.

Saat tidak lagi memiliki kewenangan sebesar sebelumnya.

Saat tidak lagi dikelilingi para pengawal dan pejabat.

Saat tidak lagi menentukan siapa yang datang dan siapa yang menunggu.

Di situlah terlihat apakah seorang pemimpin meninggalkan jabatan dengan kehormatan atau persoalan.

Pemimpin yang baik bukan hanya meninggalkan proyek.

Ia meninggalkan keteladanan.

Ia bukan hanya meninggalkan angka dalam laporan pembangunan.

Ia meninggalkan kepercayaan.

Dan yang paling penting, ia meninggalkan nama yang dapat disebut dengan kepala tegak oleh anak cucunya.

Bumi Lancang Kuning memiliki sejarah panjang tentang kepemimpinan Melayu.

Dalam tradisi Melayu, marwah bukan sekadar kata.

Marwah adalah harga diri.

Karena itu, falsafah “Biar putih tulang, jangan putih mata” seharusnya tidak hanya menjadi ungkapan dalam acara adat.

Itu semua harus menjadi prinsip moral dalam menjalankan pemerintahan.

Lebih baik kehilangan jabatan daripada kehilangan kehormatan.

Lebih baik kehilangan kesempatan memperkaya diri daripada kehilangan nama baik.

Lebih baik meninggalkan kekuasaan dengan sederhana daripada meninggalkan jabatan dengan persoalan hukum.

Sebab kekuasaan hanya sementara.

Jabatan ada batasnya.

Tetapi nama baik akan diwariskan kepada keluarga dan generasi setelah kita.

Maka kepada siapa pun yang sedang memegang amanah sebagai kepala daerah di Bumi Lancang Kuning, pesan saya sederhana.

Bangunlah daerah, tetapi jangan robohkan integritas.

Terimalah penghargaan, tetapi jangan kejar penghargaan dengan mengorbankan amanah.

Gunakanlah kekuasaan, tetapi jangan pernah biarkan kekuasaan menggunakan kita.

Rakyat tidak hanya akan mengingat berapa banyak bangunan yang kita dirikan.

Rakyat juga akan mengingat bagaimana kita mempertanggungjawabkan amanah ketika masa jabatan itu berakhir.

Dan bagi seorang pemimpin, tidak ada warisan yang lebih mahal daripada pulang dari kekuasaan dengan membawa nama baik, kehormatan dan pertanggungjawaban yang bersih.

Biar putih tulang, jangan putih mata.

Follow riauexpose.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
riauexpose
Profil Penulis riauexpose

Editor: Redaksi

Lihat Profil

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks