Tampak depan Hotel Hollywood di Riau

Ketika Alam Kita Jaga, Alam Kembali Memberi Manfaat bagi Manusia

H Makmur Tokoh Masyarakat Siak MKH LAMR Siak menyampaikan opini tentang pentingnya menjaga alam dan lingkungan demi masa depan generasi mendatang.
Tokoh Masyarakat Siak MKH LAMR Siak, H Makmur. Menurutnya, menjaga alam merupakan amanah manusia, karena ketika alam dipelihara dengan baik, alam akan kembali memberikan manfaat bagi kehidupan manusia dan generasi mendatang.

Oleh: H. Makmur

Tokoh Masyarakat Siak / Timbalan MKA LAMR Siak

Promo Fakultas Hukum UPBI

Fakultas Hukum UPBI

Riauexpose.com SIAK – Ada sebuah pesan yang sesungguhnya tidak pernah lapuk dimakan zaman: siapa menjaga alam, alam akan menjaga kehidupan. Alam mungkin tidak pernah berkata-kata, tetapi ia memiliki cara sendiri untuk membalas setiap perlakuan manusia.

Ketika hutan dijaga, ia menghadiahkan udara yang segar. Ketika sungai dipelihara, ia mengalirkan kehidupan. Ketika tanah dirawat, ia menumbuhkan rezeki. Ketika pohon ditanam dan dipelihara, ia bukan hanya memberikan teduh, tetapi juga menjadi titipan kehidupan bagi anak cucu di masa mendatang.

Begitulah hakikat hubungan manusia dengan alam. Ia bukan sekadar hubungan antara pemilik dan yang dimiliki. Alam bukan benda mati yang boleh diperlakukan sesuka hati.

Alam adalah amanah. Alam adalah sahabat kehidupan. Alam adalah rumah besar tempat manusia, tumbuhan, hewan, sungai, tanah, dan udara saling bergantung satu sama lain.

Menurut orang Melayu, menjaga alam bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan bagian daripada adab dan amanah.

Orang tua-tua Melayu telah lama mengajarkan bahwa manusia yang berakal bukanlah manusia yang mengambil sebanyak-banyaknya dari alam, tetapi manusia yang tahu batas dalam memanfaatkannya.

“Tanda orang memegang amanah, terhadap alam berhemat cermat.

Tanda orang berpikir panjang, merusak alam ia berpantang.

Tanda ingat kepada Tuhan, menjaga alam ia utamakan.”

Petuah itu terasa semakin penting pada zaman sekarang. Ketika pembangunan bergerak semakin cepat, ketika kebutuhan manusia semakin besar, kita harus kembali bertanya kepada diri sendiri. Apakah yang sedang kita bangun hari ini akan menjadi manfaat bagi anak cucu, atau justru menjadi beban yang mereka tanggung di kemudian hari?

Kita tidak boleh menjadi manusia yang hanya pandai memetik buah, tetapi lupa menanam pohon. Jangan sampai kita hanya pandai mengambil hasil bumi, tetapi lupa memelihara bumi.

Sebab, apabila hutan telah gundul, sungai telah tercemar, tanah telah rusak, dan udara telah kehilangan kesegarannya, pada akhirnya manusia sendiri yang akan menerima akibatnya.

Alam memiliki hukum keseimbangannya sendiri. Apa yang kita tanam, itulah yang pada akhirnya akan kita tuai.

Jika kita menanam pohon, kita sedang menanam kehidupan. Jika kita menjaga hutan, kita sedang menjaga masa depan.

Jika kita memelihara sungai, kita sedang menjaga sumber penghidupan. Jika kita merawat gambut dan lingkungan, sesungguhnya kita sedang menjaga keselamatan kampung halaman.

Alam tidak meminta terlalu banyak kepada manusia. Alam hanya meminta untuk tidak dirusak.

Melayu sejak dahulu memahami bahwa alam dan kehidupan manusia ibarat dua sisi dalam satu hamparan tikar. Jika salah satunya rusak, maka keseimbangan yang lain juga akan terganggu.

“Kalau tidak ada laut, hampalah perut.

Bila tidak ada hutan, binasalah badan.”

Ungkapan ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah peringatan. Laut memberi rezeki, hutan menjaga kehidupan, tanah menumbuhkan pangan, dan air mengalirkan keberlangsungan hidup. Semuanya saling berkaitan.

Kabupaten Siak, dengan kekayaan alam dan budaya Melayunya, memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga warisan ini. Kita boleh membangun, tetapi pembangunan harus memiliki adab.

Kita boleh memanfaatkan alam, tetapi jangan sampai menghabiskan alam. Kita boleh mengejar kemajuan, tetapi jangan sampai kehilangan akar kehidupan.

Kemajuan yang sesungguhnya bukan hanya terlihat dari berdirinya gedung-gedung dan terbukanya jalan-jalan baru.

Kemajuan juga harus terlihat dari hijaunya lingkungan, bersihnya sungai, lestarinya hutan, sehatnya udara, serta terjaminnya kehidupan anak cucu di masa depan.

Sebab pembangunan tanpa kelestarian ibarat mendirikan rumah di atas tanah yang terus digali. Mungkin tampak megah pada awalnya, tetapi perlahan fondasinya akan kehilangan kekuatan.

Hari ini kita semakin menyadari bahwa menjaga alam bukan berarti menolak pembangunan. Justru menjaga alam adalah cara paling bijak untuk memastikan pembangunan dapat berlangsung dalam waktu yang panjang.

Alam yang sehat memberi manfaat nyata kepada manusia. Hutan menjaga tata air dan kehidupan berbagai makhluk.

Mangrove menjaga pesisir dari ancaman abrasi sekaligus menopang kehidupan masyarakat. Tanah yang subur menjadi sumber pangan dan penghidupan. Sungai yang bersih menjadi sumber kehidupan bagi banyak generasi.

Karena itu, ketika kita menjaga alam, sesungguhnya kita tidak sedang berbuat baik kepada alam semata.

Kita sedang menyelamatkan diri kita sendiri. Kita sedang menjaga rumah tempat kita hidup. Kita sedang menitipkan kehidupan yang lebih baik kepada generasi yang belum lahir.

Anak cucu kita kelak mungkin tidak akan mengingat berapa banyak harta yang kita tinggalkan. Tetapi mereka akan merasakan apa yang kita wariskan.

Apakah kita meninggalkan hutan yang masih berdiri? Apakah kita meninggalkan sungai yang masih bersih? Apakah kita meninggalkan tanah yang masih subur? Ataukah kita meninggalkan kerusakan yang harus mereka perbaiki?

Inilah yang harus menjadi renungan bersama.

Sebagai masyarakat Melayu, kita mengenal nilai tuah dan marwah. Tuah alam harus dijaga, karena dari sanalah kehidupan tumbuh. Marwah manusia harus dipelihara, karena manusia yang beradat tidak akan tega merusak tempat ia berpijak.

Melindungi tuah, menjaga marwah.

Ungkapan itu dapat kita maknai lebih luas dalam kehidupan hari ini. Melindungi tuah berarti menjaga kekayaan alam yang telah dianugerahkan Tuhan.

Menjaga marwah berarti menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang memiliki tanggung jawab, akal, dan hati nurani.

Jangan sampai kita menjadi generasi yang pandai menikmati, tetapi gagal mewariskan.

Mari menanam lebih banyak daripada yang kita tebang. Mari memelihara lebih banyak daripada yang kita ambil. Mari memulihkan apa yang telah rusak. Mari menjaga sungai, hutan, tanah, gambut, dan pesisir sebagai bagian dari warisan kehidupan.

Alam adalah sahabat yang tidak pernah meminta balasan berlebihan. Ketika ia dijaga, ia akan memberi. Ketika ia dirawat, ia akan menghidupi. Ketika ia dilindungi, ia akan menjadi benteng kehidupan. 

71 / 100 Skor SEO
https://riauexpose.com/wp-content/uploads/2024/06/Merah-Ilustratif-Modern-Dirgahayu-Bhayangkara-Instagram-Story_20240629_090843_0000.png