Pencarian

ISPA di Riau Tembus 10.783 Kasus, Ribuan Anak dan Balita Terdampak

Dinkes Riau mencatat 10.783 kasus ISPA selama Agustus hingga awal September 2026. Ribuan anak dan balita terdampak kabut asap akibat Karhutla.

Anto
Anto Reporter · Selasa, 08 September 2026 · 19:33:00 WIB · Editor: Redaksi
ISPA di Riau Tembus 10.783 Kasus, Ribuan Anak dan Balita Terdampak
Petugas kesehatan membagikan masker kepada masyarakat sebagai langkah perlindungan dari paparan kabut asap dan polusi udara akibat Karhutla di Riau. (istimewa).

Riauexpose.com PEKANBARU – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Riau.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Riau mencatat 10.783 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang periode Agustus hingga awal September 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengatakan peningkatan kasus ISPA tersebut diduga berkaitan dengan kondisi kualitas udara yang memburuk akibat kabut asap Karhutla yang melanda sejumlah wilayah di Riau.

“Total penderita ISPA di Riau selama periode Agustus hingga awal September tercatat sebanyak 10.783 kasus,” kata Zulkifli.

Berdasarkan data Dinkes Riau, dari total kasus tersebut terdapat 5.321 pasien laki-laki dan 5.462 pasien perempuan. Angka ini menunjukkan bahwa dampak polusi udara telah menyentuh berbagai kelompok masyarakat.

Yang menjadi perhatian serius adalah tingginya kasus pada kelompok usia rentan, khususnya balita dan anak-anak.

Data mencatat sebanyak 1.937 balita usia 0–5 tahun terdeteksi mengalami ISPA. Rinciannya, 1.162 anak laki-laki dan 775 anak perempuan.

Sementara itu, kasus ISPA pada kelompok anak usia sekolah 5–9 tahun mencapai 1.844 kasus, terdiri dari 989 anak laki-laki dan 855 anak perempuan.

Meski terjadi peningkatan kasus, Zulkifli memastikan fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah terdampak masih mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Dinkes Riau juga terus memperkuat langkah mitigasi untuk menekan dampak kesehatan akibat paparan asap dan polusi udara. Salah satunya melalui pembagian masker gratis serta kampanye edukasi kesehatan kepada masyarakat.

Pemerintah daerah turut menyalurkan makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita yang terdampak.

Selain itu, oksigen konsentrator disiagakan di sejumlah Puskesmas sebagai langkah antisipasi apabila terjadi peningkatan pasien dengan gangguan pernapasan.

“Tim Medis Darurat (Emergency Medical Team) di setiap Puskesmas telah diaktifkan penuh untuk mengantisipasi gejolak lonjakan pasien secara mendadak,” ujarnya.

Di tingkat provinsi, Dinkes Riau juga mendirikan tenda posko darurat yang dilengkapi rumah oksigen dan tempat tidur medis untuk menangani pasien dengan kondisi kritis.

Upaya tersebut turut melibatkan akademisi perguruan tinggi dan organisasi profesi kesehatan untuk membantu pendistribusian masker, khususnya kepada masyarakat yang beraktivitas di ruang terbuka dan pengguna jalan.

Dinkes Riau mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala gangguan pernapasan dan segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan kesehatan.

Masyarakat juga diminta meningkatkan perlindungan diri dari paparan polusi udara dengan menerapkan protokol kesehatan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.

“Kita juga mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam menanggulangi dampak kesehatan yang diakibatkan polusi udara melalui penerapan protokol kesehatan, khususnya terhadap populasi rentan seperti anak, ibu hamil, orang dengan komorbid atau penyakit penyerta, dan lanjut usia,” katanya.

Dinkes juga mengingatkan pentingnya memastikan ketersediaan masker yang mampu menyaring partikel polusi udara saat masyarakat harus beraktivitas di luar ruangan.

Di sisi lain, tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan diminta aktif melakukan pemantauan dan pelaporan terhadap penyakit yang diduga berkaitan dengan paparan asap.

“Tenaga kesehatan kita di Faskes kita minta untuk segera melaporkan dan memantau kasus kejadian penyakit yang diakibatkan oleh asap seperti ISPA, iritasi mata, pneumonia, iritasi kulit dan asma ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota,” tutup Zulkifli.

Lonjakan 10.783 kasus ISPA di Riau sepanjang Agustus hingga awal September menjadi peringatan bahwa persoalan Karhutla tidak hanya menyangkut lingkungan dan kualitas udara, tetapi juga membawa konsekuensi langsung terhadap kesehatan masyarakat.

Terlebih, ribuan anak dan balita masuk dalam kelompok yang terdampak, sehingga pengendalian Karhutla dan perlindungan masyarakat dari paparan asap menjadi langkah yang semakin mendesak.

Follow riauexpose.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Anto
Profil Penulis Anto

Editor: Redaksi

Lihat Profil

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks