Tampak depan Hotel Hollywood di Riau

Gajah Jinak Indro Mati di Tesso Nilo, Polres Pelalawan Turunkan Tim Selidiki Penyebab Kematian

Gajah Jinak Indro Mati di Tesso Nilo, Polres Pelalawan Turunkan Tim Selidiki Penyebab Kematian
Personel Polres Pelalawan lakukan penyelidikan terkait kematian gajah bernama Indro (istimewa).

Riauexpose.com PELALAWAN – Seekor gajah jinak bernama Indro, penghuni Camp Elephant Flying Squad Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Lubuk Kembang Bunga, Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), dinyatakan mati pada Senin (29/6/2026) pukul 03.45 WIB setelah menjalani perawatan medis intensif.

Menyikapi peristiwa tersebut, Polres Pelalawan langsung menurunkan tim identifikasi untuk menyelidiki penyebab kematian satwa dilindungi itu.

Promo Fakultas Hukum UPBI

Fakultas Hukum UPBI

Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo melalui Kepala Subbagian Tata Usaha, Dian Indriati, menjelaskan kondisi Indro memburuk secara mendadak sekitar pukul 03.30 WIB.

Tim dokter hewan bersama mahout segera melakukan pemeriksaan darurat serta tindakan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR), namun upaya penyelamatan tidak membuahkan hasil.

“Dokter hewan bersama tim mahout segera melakukan pemeriksaan darurat terhadap fungsi pernapasan dan melakukan resusitasi jantung paru (CPR) selama beberapa menit. Namun, gajah Indro tidak memberikan respons dan dinyatakan mati,” ujar Dian dalam keterangan resminya.

Menurutnya, Indro diduga mengalami komplikasi kesehatan setelah melewati fase musth, yakni periode peningkatan hormon reproduksi pada gajah jantan yang umumnya disertai perubahan perilaku menjadi lebih agresif.

Tim Flying Squad mulai mendeteksi penurunan nafsu makan Indro sejak 25 April hingga 6 Mei 2026.

Memasuki awal Juni, perilakunya semakin agresif sehingga petugas hanya dapat memberikan pakan berupa batang pisang, pelepah kelapa, rumput gajahan, dan air minum dari jarak aman demi keselamatan mahout.

Pada 24 Juni 2026, petugas memasang rantai tambahan sebagai langkah pengamanan selama fase musth yang berlangsung lebih lama dari biasanya.

Setelah proses pembiusan dilakukan, kondisi kesehatan Indro justru terus menurun dengan berkurangnya nafsu makan dan minum secara drastis.

Tim medis kemudian melakukan berbagai tindakan penyelamatan, mulai dari pemasangan infus, pemberian suplemen energi, evakuasi feses secara manual, hingga terapi cairan dalam jumlah besar.

Meski sempat menunjukkan perkembangan dengan mulai minum dan tertarik pada pakan, kondisi Indro kembali memburuk hingga akhirnya ditemukan terbaring pada Senin dini hari.

Upaya penyelamatan kembali dilakukan, namun gajah berusia sekitar 45 tahun itu akhirnya dinyatakan mati pada pukul 03.45 WIB.

Sementara itu, Kapolres Pelalawan AKBP Jon Luis L melalui Kasat Reskrim AKP Bayu Ramdadan Efendi mengatakan pihaknya telah menurunkan tim identifikasi ke lokasi untuk melakukan penyelidikan terhadap penyebab kematian gajah Indro.

“Polres Pelalawan telah menurunkan tim identifikasi ke lokasi untuk melakukan penyelidikan dan memastikan penyebab kematian gajah bernama Indro. Proses penyelidikan dilakukan bersama pihak Balai Taman Nasional Tesso Nilo serta instansi terkait agar penyebab kematian dapat diketahui secara ilmiah dan objektif,” ujar AKP Bayu Ramdadan Efendi.

Bayu mengungkapkan, kepolisian akan mengumpulkan seluruh data, dokumentasi, serta hasil pemeriksaan medis maupun nekropsi yang dilakukan tim dokter hewan.

“Kami akan mendalami seluruh fakta di lapangan. Apabila nantinya ditemukan adanya unsur pidana, tentu akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” ujarnya.

Selama bertahun-tahun, gajah jinak tersebut menjadi bagian penting dari Flying Squad, yang memiliki peran strategis dalam mitigasi konflik antara manusia dan gajah liar di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo serta mendukung berbagai kegiatan konservasi di Provinsi Riau.

75 / 100 Skor SEO
https://riauexpose.com/wp-content/uploads/2024/06/Merah-Ilustratif-Modern-Dirgahayu-Bhayangkara-Instagram-Story_20240629_090843_0000.png