Riauexpose.com KALIMANTAN— Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan memicu kabut asap tebal hingga mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap kondisi iklim yang sangat kering akibat pengaruh El Nino menjadi salah satu faktor yang membuat lahan lebih mudah terbakar dan memicu munculnya titik-titik api.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan kondisi iklim yang kering menjadi salah satu faktor pendukung terjadinya karhutla.
Kondisi tersebut membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar, sehingga ketika api muncul, kebakaran dapat dengan cepat meluas dan menghasilkan kepulan asap.
“Kondisi iklim kering menjadi kondisi, membuat lahan dibakar dan banyak asap,” kata Ardhasena.
Menurut Ardhasena, hasil pemantauan BMKG pada Dasarian I Agustus 2026 menunjukkan kondisi El Nino berada pada intensitas sangat kuat.
Indeks IOD dasarian atau indeks bulanan tercatat sebesar +0,457, meningkat dibandingkan Juli yang berada di angka +0,242.
Sementara itu, nilai SSTA di wilayah Nino3.4 secara dasarian atau ENSO bulanan mencapai +2,77, naik dari +2,20 pada Juli.
“Nilai tersebut menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat,” jelasnya.
BMKG juga mencatat kondisi kemarau masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Berdasarkan hasil pemantauan, sebanyak 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.
Tingkat kekeringan dan status kewaspadaan berbeda-beda di setiap wilayah. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena wilayah yang mengalami kemarau panjang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Untuk wilayah Kalimantan, sejumlah daerah berada dalam status waspada hingga siaga terhadap potensi karhutla.
Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur berada dalam status waspada. Sementara itu, Kalimantan Tengah berada dalam status siaga.
Data yang diberikan menyebut Kalimantan Selatan dua kali, masing-masing sebagai status waspada dan siaga. Untuk publikasi, sebaiknya dikonfirmasi kembali kepada BMKG agar tidak terjadi kekeliruan wilayah.
BMKG Minta Mitigasi Karhutla Diperkuat
Dengan kondisi kemarau dan pengaruh El Niño yang sangat kuat, BMKG meminta upaya mitigasi karhutla terus diperkuat. Pemantauan titik panas, pencegahan pembakaran lahan, serta respons cepat terhadap munculnya api dinilai penting untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih luas.
Ardhasena menegaskan masih terdapat titik api yang perlu segera ditangani dan dimitigasi.
“Masih banyak titik api yang perlu dimitigasi,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla di Kalimantan masih perlu mendapat perhatian serius. Cuaca kering yang dipengaruhi El Niño dapat memperbesar risiko kebakaran, sementara asap dari karhutla berpotensi menyebar ke wilayah lain mengikuti kondisi angin.
Karena itu, pengendalian karhutla tidak hanya membutuhkan pemadaman ketika api sudah muncul, tetapi juga pencegahan sejak dini dengan memperkuat pengawasan terhadap kawasan rawan kebakaran.
“BACA JUGA”
Polda Riau Usut Karhutla PT TKWL Bengkalis, 5 Ahli Turun ke Lokasi
Riau Diselimuti Kabut Asap, Masyarakat Tunggu Sikap Tegas APH Usut Korporasi
Tanah, Bangunan dan Kendaraan Rp3,3 Miliar Dihibahkan Pemkab Bengkalis untuk RRI









