LONDON.riauexpose.com~ Kursi panas pelatih Real Madrid kembali memakan korban. Xabi Alonso resmi diberhentikan hanya tujuh bulan setelah ditunjuk menukangi Los Blancos.
Keputusan itu diumumkan Presiden Florentino Perez sehari usai kekalahan pahit dari Barcelona pada final Piala Super Spanyol.
Padahal, nama Alonso melambung tinggi saat membawa Bayer Leverkusen mematahkan dominasi Bayern Munich di Bundesliga.
Namun atmosfer Santiago Bernabeu ternyata menghadirkan tantangan berbeda.
Secara statistik, AlonsoAlonso membukukan rata-rata 2,24 poin per pertandingan—angka yang sebenarnya kompetitif.
Namun ia dinilai gagal mengendalikan ruang ganti yang sarat ego dan bintang besar.
Minimnya pengaruh di internal tim disebut menjadi faktor utama yang mempercepat akhir masa jabatannya.
Untuk sementara, Madrid menunjuk Alvaro Arbeloa sebagai pelatih interim. Manajemen diyakini akan menunggu hingga musim panas sebelum menetapkan nakhoda permanen.
Zidane Kembali ke Rumah?
Nama Zinedine Zidane langsung mencuat sebagai kandidat utama. Legenda Prancis itu punya rekam jejak emas dengan tiga gelar Liga Champions beruntun bersama Madrid.
Karisma dan kedekatannya dengan pemain diyakini mampu meredam gejolak ruang ganti.
Zidane disebut tertarik kembali melatih, meski santer terdengar ia memiliki kesepakatan lisan untuk menangani Timnas Prancis selepas era Didier Deschamps.
Jika pulang ke Bernabeu, ini akan menjadi periode ketiganya bersama Los Blancos.
Tuchel, Opsi Taktikal Kelas Dunia
Selain Zidane, Thomas Tuchel masuk dalam radar. Pelatih asal Jerman itu dikenal piawai meramu taktik dan memiliki pengalaman di klub-klub elite Eropa.
Ia pernah mempersembahkan Liga Champions untuk Chelsea, serta meraih gelar domestik bersama Paris Saint-Germain dan Bayern.
Tuchel dinilai mampu menghadirkan stabilitas instan dan identitas permainan yang jelas—dua aspek yang kini sangat dibutuhkan Madrid.
Dengan musim yang masih berjalan, manajemen Real Madrid bergerak cepat menyusun rencana jangka panjang.
Siapa pun yang datang nanti, satu hal pasti: Bernabeu menuntut lebih dari sekadar statistik—ia menuntut kharisma, kendali, dan trofi.










