Tampak depan Hotel Hollywood di Riau

Dunia Milik Berdua, Luka Ditanggung Sendiri: Tragedi Kapak di Balik Kata “Sayang”

4357e54e 1156 464f 9c4f d90904dc7269
Penulis: Toni Irawan, M.Pd.

riauexpose.com.~ Tidak selamanya cinta menjanjikan keindahan. Kadang ia datang dengan wajah paling lembut, namun menyimpan bayang paling gelap.

Dahulu, mereka adalah sepasang kekasih yang tampak sempurna di mata banyak orang.

Tawa mereka serasi, langkah mereka seirama. Seolah dunia hanya milik berdua, sementara yang lain sekadar latar yang tak berarti.

Setiap pelukan terasa seperti rumah. Setiap kata “sayang” terdengar seperti doa yang diamin-kan langit.

Namun perlahan, tanpa disadari, kehangatan itu berubah menjadi bara. Kata yang dulu menenangkan, mulai terasa menekan.

Cinta yang seharusnya membebaskan, justru menjelma menjadi ruang sempit tanpa jendela.

Hubungan yang terlihat indah dari luar, sering kali menyimpan retak di dalamnya.

Ketika rasa memiliki berubah menjadi keinginan menguasai, ketika perhatian berganti menjadi kecurigaan, di situlah cinta mulai kehilangan maknanya. Ia tidak lagi tumbuh, melainkan menggerogoti.

Hingga pada satu hari yang mestinya biasa saja, semuanya pecah. Tidak ada lagi dialog, tidak ada lagi ruang untuk saling memahami.

Yang tersisa hanyalah amarah yang meledak dan kekerasan yang tak termaafkan. Suara hantaman kapak memecah sunyi, meruntuhkan bukan hanya raga, tetapi juga kepercayaan yang pernah dibangun dengan penuh harap.

Dalam sekejap, “sayang” berubah menjadi luka. Dunia yang katanya milik berdua, runtuh tanpa sisa.

Ketika darah menetes di lantai, realitas paling pahit terkuak: cinta yang salah tempat bisa menjadi senjata paling mematikan. Dan pada akhirnya, saat rasa sakit itu datang, setiap orang harus menanggung lukanya sendiri.

Tragedi seperti ini mengajarkan kita bahwa cinta bukan sekadar rasa, melainkan tanggung jawab. Ia bukan tentang memiliki, tetapi tentang menghargai.

Bukan tentang menguasai, melainkan tentang menjaga. Jangan salahkan cintanya, sebab cinta tetaplah anugerah suci dari Sang Ilahi. Yang keliru adalah ketika ia berada di tangan yang tak mampu merawatnya dengan dewasa.

Sebab luka fisik mungkin akan sembuh oleh waktu, tetapi trauma karena dikhianati oleh orang yang paling dicintai adalah perih yang diam-diam menetap.

Dan dari sana kita belajar, bahwa dunia memang bisa terasa milik berdua, namun harga diri dan keselamatan tetaplah milik kita sendiri yang harus dijaga.**** 

 

#DuniaDunia

74 / 100 Skor SEO
https://riauexpose.com/wp-content/uploads/2024/06/Merah-Ilustratif-Modern-Dirgahayu-Bhayangkara-Instagram-Story_20240629_090843_0000.png