RIAUEXPOSE.COM PEKANBARU — Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Riau dalam beberapa hari terakhir belum sepenuhnya mengusir kabut asap.
Meski titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan nihil, udara berkabut masih menyelimuti sejumlah daerah, memunculkan kekhawatiran terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Kondisi ini menjadi pertanda bahwa hujan dan nihilnya titik api di wilayah Riau tidak serta-merta membuat persoalan kabut asap berakhir.
Asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan di provinsi tetangga masih berpotensi terbawa angin hingga memasuki wilayah Riau.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau, M Edy Afrizal, sebelumnya menyampaikan bahwa titik karhutla yang sempat menyala di Riau telah berhasil dipadamkan.
"Hujan yang turun hampir merata turut membantu mengendalikan kebakaran di sejumlah wilayah," ujar Edy.
Namun begitu, kabut asap masih terpantau di berbagai daerah. Edy menduga asap tersebut merupakan kiriman dari provinsi tetangga, terutama Sumatera Selatan yang masih dilaporkan memiliki banyak titik api.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan kabut asap tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman kebakaran di dalam wilayah Riau.
Pergerakan angin, keberadaan titik api di daerah lain, serta kondisi atmosfer turut memengaruhi sebaran asap yang sampai ke permukiman masyarakat.
Kabut asap yang bertahan di tengah turunnya hujan menjadi perhatian karena dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap polusi udara.
Konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Pekanbaru mencapai 147 mikrogram per meter kubik pada pukul 08.00 WIB.
Angka tersebut dikategorikan sangat tidak sehat dalam laporan tersebut.
Masyarakat diimbau menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar ruangan, mengurangi kegiatan di luar rumah ketika asap semakin pekat, serta memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi.
Meski titik api dilaporkan nihil, BPBD Damkar Riau menegaskan kewaspadaan tetap diperlukan untuk mencegah kebakaran kembali terjadi.
Pemantauan wilayah rawan harus terus dilakukan, terutama pada kawasan lahan gambut yang berpotensi terbakar ketika kondisinya mengering.
Masyarakat juga diingatkan agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Pencegahan sejak dini menjadi langkah penting agar Riau tidak kembali menghadapi kebakaran hutan dan lahan serta ancaman kabut asap berkepanjangan.
Hujan memang membawa harapan bagi pemulihan kondisi lingkungan. Namun, selama asap masih menyelimuti sejumlah wilayah Riau, persoalan belum sepenuhnya selesai.
Perlindungan kesehatan masyarakat dan pengawasan terhadap potensi karhutla tetap harus menjadi prioritas.