RIAUEXPOSE.COM PEKANBARU – Di balik toga dan senyum kebanggaan 127 wisudawan Fakultas Hukum (FH) Universitas Persada Bunda Indonesia (UPBI) Pekanbaru, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan, keterbatasan, hingga keteguhan untuk menuntaskan pendidikan.
Hal tersebut disampaikan Dekan FH UPBI, Dr. Irfan Ardiansyah, SH, MH, CPLA, dalam momen Wisuda ke-2 Universitas Persada Bunda Indonesia setelah bertransformasi menjadi universitas.
Tahun ini, UPBI mewisuda sebanyak 314 mahasiswa, dengan jumlah terbesar berasal dari Program Studi Ilmu Hukum, yakni sebanyak 127 wisudawan dan wisudawati.
Dr. Irfan berujar, angka 127 bukan sekadar jumlah lulusan yang tercatat dalam data akademik.
Di balik angka tersebut terdapat kisah perjuangan masing-masing mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan hingga akhirnya mengenakan toga.
“127 mungkin hanya sebuah angka. Tetapi bagi kami, 127 wisudawan FH UPBI hari ini memiliki cerita perjuangan tersendiri,” ujar Dr Hukum yang menjabat Ketua DPD KAI Riau itu.
Menurutnya, perjalanan para mahasiswa FH UPBI tidak semuanya berlangsung mudah. Ada yang datang ke kampus membawa harapan besar, namun harus menghadapi berbagai keterbatasan dalam proses pendidikan.
Bahkan, sebagian mahasiswa harus membagi waktu antara menjalani perkuliahan dengan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Di tengah kesibukan tersebut, mereka tetap berusaha menyelesaikan kewajiban akademik hingga akhirnya mencapai titik kelulusan.
“Ada yang datang ke kampus dengan penuh harapan. Ada yang harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan. Ada yang melewati berbagai tantangan akademik. Ada yang mungkin pernah hampir menyerah,” ungkap Irfan yang di sabut tepuk tangan wisudawan dan tamu undangan.
Namun begitu, kata Dr. Irfan, seluruh perjuangan tersebut menemukan maknanya pada hari wisuda.
Mereka yang sebelumnya menghadapi berbagai tantangan kini berdiri mengenakan toga dengan senyum penuh kebanggaan.
“Namun hari ini, semuanya berdiri dengan toga dan senyum kebanggaan,” katanya.
Dr. Irfan mengungkapkan, ijazah yang diterima para wisudawan bukan sekadar dokumen akademik sebagai tanda telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Lebih dari itu, ijazah menjadi simbol perjalanan panjang yang telah dilalui setiap lulusan.
“Ijazah yang saudara terima hari ini bukan hanya tanda bahwa saudara telah menyelesaikan pendidikan. Ijazah ini adalah bukti bahwa saudara pernah berjuang dan berhasil melewati sebuah proses,” tegasnya.
Di sisi lain, Dr. Irfan menyampaikan bahwa Universitas Persada Bunda Indonesia terus membangun dan mengembangkan kerja sama dengan berbagai pihak.
Kerja sama tersebut mencakup perguruan tinggi, dunia usaha dan dunia industri, instansi pemerintah, lembaga swasta, organisasi profesi hingga sekolah-sekolah mitra.
Menurutnya, kerja sama yang dibangun UPBI tidak sekadar mengejar banyaknya dokumen Memorandum of Understanding (MoU).
Yang lebih penting adalah memastikan kerja sama tersebut memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, dosen, lulusan maupun masyarakat.
“Kerja sama tersebut bukan semata-mata untuk menambah jumlah dokumen Memorandum of Understanding, tetapi tentang berapa banyak manfaat yang benar-benar dapat dirasakan oleh mahasiswa, dosen, lulusan, dan masyarakat,” jelasnya.
Kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi diarahkan untuk memperkuat pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pertukaran pengetahuan, pengembangan sumber daya manusia serta berbagai kegiatan akademik lainnya.
Sementara kerja sama dengan instansi pemerintah dan lembaga swasta didorong agar mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami dunia nyata, mengenal lingkungan kerja serta mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama berada di bangku kuliah.
Kolaborasi dengan dunia usaha, dunia industri, organisasi profesi dan berbagai mitra lainnya menjadi bagian dari upaya UPBI memastikan pendidikan yang diberikan kepada mahasiswa tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia kerja.
“Pendidikan yang diberikan tidak boleh terputus dari kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia kerja,” pungkasnya.