Riauexpose.com JAKARTA – Isu yang menyebut AirAsia berada di ambang kebangkrutan ditepis manajemen. Di tengah tekanan kenaikan harga bahan bakar pesawat dan sorotan terhadap kondisi keuangan perusahaan, AirAsia menegaskan bisnis tetap berjalan dan strategi jangka panjang terus disiapkan.
Group CEO AirAsia Group Bo Lingam menegaskan, perjalanan AirAsia selama 25 tahun telah melewati berbagai krisis, termasuk pandemi Covid-19 yang disebut sebagai salah satu tantangan paling berat dalam sejarah perusahaan.
Menurutnya, kondisi yang dihadapi saat ini berbeda dengan masa pandemi. Aktivitas penerbangan masih berlangsung dan permintaan perjalanan tetap kuat.
“Selama 25 tahun perjalanan AirAsia, kami telah menghadapi berbagai krisis, dengan pandemi Covid-19 menjadi tantangan yang paling berat. Kondisi saat ini berbeda karena masyarakat masih dapat bepergian dan aktivitas perjalanan tetap berlangsung,” kata Bo Lingam dalam pernyataan resmi AirAsia, Jumat (18/9/2026).
Manajemen menyatakan tetap mengambil langkah terukur untuk menghadapi tekanan industri penerbangan, antara lain menyesuaikan kapasitas penerbangan, mengendalikan biaya operasional, melakukan komunikasi dengan para pemangku kepentingan, serta memperkuat struktur keuangan perusahaan.
Di sisi lain, Co-founder AirAsia Tony Fernandes juga menepis kekhawatiran bahwa perusahaan membutuhkan penyelamatan atau bailout dari pemerintah.
Ia menyebut AirAsia memiliki likuiditas yang kuat dan tetap mampu menghadapi tekanan biaya bahan bakar.
Fernandes mengatakan AirAsia menargetkan penghimpunan dana lebih dari US$1 miliar, terutama untuk melakukan pembiayaan kembali atau refinancing utang. Langkah tersebut, menurutnya, bukan semata-mata untuk mendapatkan modal baru, melainkan menurunkan biaya dan memperbaiki struktur pembiayaan perusahaan.
Tekanan terhadap AirAsia memang tidak dapat diabaikan. Reuters melaporkan biaya bahan bakar perusahaan melonjak sekitar 66 persen pada kuartal II, sementara total liabilitas AirAsia tercatat sekitar 18,4 miliar ringgit per 30 Juni 2026.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memicu perhatian terhadap kesehatan keuangan maskapai tersebut.
Namun, dari sisi operasional, AirAsia menyebut permintaan penerbangan masih kuat. Tingkat keterisian kursi atau load factor AirAsia Group berada di sekitar 80 persen pada kuartal III, sedangkan pemesanan untuk kuartal IV menunjukkan perkembangan positif.
Untuk memperkuat fundamental bisnis, AirAsia juga melakukan restrukturisasi operasional dengan memangkas rute yang dinilai kurang optimal, mengembalikan 25 pesawat yang lebih tua kepada lessor, serta melakukan renegosiasi kontrak dengan sejumlah pemasok guna menekan biaya.
Manajemen AirAsia menegaskan perusahaan tidak ingin terganggu oleh spekulasi yang tidak berdasar.
Perhatian saat ini adalah menjaga keberlangsungan operasional, memperkuat fundamental bisnis, dan mempersiapkan strategi pertumbuhan jangka panjang.
“Perhatian kami adalah pada fundamental bisnis dan kami tidak akan teralihkan oleh spekulasi yang tidak berdasar dari sumber anonim,” ujar manajemen AirAsia.
Dengan demikian, isu AirAsia bangkrut perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih lengkap.
Perusahaan memang menghadapi tekanan keuangan dan kenaikan biaya yang signifikan, tetapi manajemen menyatakan kegiatan operasional tetap berjalan, permintaan perjalanan masih kuat, serta sejumlah langkah restrukturisasi dan pembiayaan sedang dilakukan.