Dokter Spesialis RSUD Siak Mogok, Bupati Afni Disorot, Layanan Kesehatan Warga Terancam

Puluhan dokter spesialis Aparatur Sipil Negara (ASN) di RSUD Tengku Rafi’an resmi menghentikan layanan medis sejak Selasa (17/3).
Puluhan dokter spesialis Aparatur Sipil Negara (ASN) di RSUD Tengku Rafi’an resmi menghentikan layanan medis sejak Selasa (17/3).(istimewa) Riauexpose.Com

SIAK, RIAUEXPOSE.ComPelayanan kesehatank di Kabupaten Siak, Riau, kini berada di ujung tanduk.

Puluhan dokter spesialis Aparatur Sipil Negara (ASN) di RSUD Tengku Rafi’an resmi menghentikan layanan medis sejak Selasa (17/3).

Promo Fakultas Hukum UPBI

Fakultas Hukum UPBI

Idul Fitri

Selamat dan sukses ketua DPD KAI Riau

Hal ini bukan tanpa alasan dan ini merupakan sebagai bentuk protes atas hak mereka para dokter spesialis yang belum dibayarkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak.

Belasan dokter spesialis mengaku kecewa karena tunjangan kelangkaan profesi sebesar Rp30 juta per bulan belum dibayarkan sejak September 2025 hingga Februari 2026.

Ironisnya, keterlambatan tersebut berdalih pada kebijakan efisiensi anggaran daerah yang sedang dialami Pemkab Siak.

Pengumuman penutupan layanan pun sempat mengejutkan masyarakat di negeri istana. Dalam pemberitahuan resmi di lewat akun media sosial, seluruh layanan poliklinik ditutup, kecuali poli Obgyn.

Kondisi ini membuat ribuan pasien rawat jalan kehilangan akses pelayanan kesehatan secara mendadak.

Situasi semakin memanas setelah audiensi antara dokter dan Pemkab Siak yang digelar pada Senin (16/3) berakhir tanpa hasil sesuai yang diharapkan para dokter.

Bupati Siak, Afni Zulkifli, tidak hadir dalam pertemuan penting tersebut. Bahkan, Kepala Dinas Kesehatan Siak juga turut absen, ketidak hadiran orang hebat di Siak itu memicu kekecewaan mendalam dari para tenaga medis.

Upaya lanjutan berupa undangan pertemuan di rumah dinas Bupati yang difasilitasi Sekretaris Daerah pun tidak membuahkan hasil.

Bupati kembali tidak hadir, memperkuat anggapan bahwa pemerintah daerah terkesan mengabaikan persoalan serius ini.

Para dokter menilai kebijakan efisiensi yang diterapkan tidak adil dan cenderung diskriminatif. Mereka menegaskan bahwa tunjangan tersebut merupakan bagian dari kontrak kerja sebagai kompensasi atas kompetensi dan tanggung jawab tinggi yang mereka emban.

“Jangan ada diskriminasi. Kami meminta hak kami segera dibayarkan sesuai dengan kompetensi yang kami miliki,” demikian pernyataan resmi para dokter spesialis ASN di Siak.

Aksi mogok ini dipastikan akan terus berlanjut hingga seluruh tunggakan selama enam bulan terakhir diselesaikan. Dampaknya, pelayanan kesehatan di RSUD Tengku Rafi’an lumpuh, dan masyarakat menjadi pihak yang paling dirugikan.

Seorang warga Kabupaten Siak, Ujang, mengaku sangat kecewa dan khawatir atas mogok massal dokter spesialis yang terjadi di RSUD Tengku Rafi’an.

Menurut pria asal Tualang itu, kondisi ini sangat merugikan masyarakat kecil yang bergantung pada layanan kesehatan pemerintah secara gratis.

“Terus terang kami sebagai masyarakat sangat terdampak. Mau berobat jadi susah, apalagi kalau penyakit serius. Kami berharap pemerintah jangan tutup mata, segera selesaikan masalah ini. Jangan sampai kami rakyat yang jadi korban kejahatan kemanusiaan,” ujar Ujang.

Kondisi ini juga memunculkan kekhawatiran besar terhadap jaminan kesehatan warga “Negeri Istana”. Banyak pihak menilai, kebijakan yang mengabaikan hak tenaga medis di tengah beban kerja tinggi merupakan langkah yang tidak bijak dan berpotensi merusak sistem layanan kesehatan di Siak.

Perhatian publik kini tertuju pada kepemimpinan Bupati Afni Zulkifli. Masyarakat menanti langkah tegas dan keberanian pemerintah daerah dalam menyelesaikan krisis ini, sebelum dampaknya semakin meluas dan kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan kian merosot.

Exit mobile version