Berani Tolak Perintah Salah, Inilah Kemenangan Sejati Polisi
Oleh: Adv. Abdul Syarif, SH, MH
RIAUEXPOSE.COM PEKANBARU - Ada satu ukuran yang tidak pernah tercantum dalam daftar kepangkatan, tidak pula tertulis dalam surat keputusan jabatan, tetapi justru menjadi penentu kehormatan seorang anggota kepolisian, yaitu integritas.
Polisi hebat bukanlah mereka yang selalu mendapatkan promosi jabatan, menduduki posisi strategis, atau memiliki kedekatan dengan lingkaran kekuasaan.
Polisi hebat adalah mereka yang tetap berdiri tegak pada kebenaran, bahkan ketika harus menghadapi tekanan, kehilangan kesempatan, atau menolak perintah yang bertentangan dengan hukum dan hati nurani.
Keberanian terbesar seorang aparat penegak hukum bukan hanya ketika berhadapan dengan penjahat di lapangan, melainkan ketika harus mengatakan tidak terhadap sesuatu yang salah, sekalipun perintah itu datang dari atasannya sendiri.
Dalam institusi sebesar Polri, loyalitas memang menjadi bagian penting dari disiplin organisasi.
Namun, loyalitas tidak boleh dimaknai sebagai kepatuhan tanpa batas. Loyalitas kepada institusi harus ditempatkan di bawah kepentingan hukum, konstitusi, dan keadilan.
Seorang anggota Polri memang wajib menghormati hierarki komando. Akan tetapi, hierarki tidak boleh menjadi alasan untuk membenarkan tindakan yang melanggar hukum. Perintah atasan bukanlah tiket untuk melepaskan tanggung jawab pribadi atas suatu perbuatan.
Di sinilah integritas seorang polisi benar-benar diuji.
Karier Melambung Tinggi Belum Tentu Berakhir dengan Kehormatan
Kita tidak bisa menutup mata bahwa dalam perjalanan institusi kepolisian, tidak sedikit pejabat yang kariernya melesat begitu cepat.
Mendapatkan promosi, menduduki jabatan strategis, memperoleh kepercayaan besar, bahkan berada di lingkaran kekuasaan yang menentukan arah kebijakan.
Namun begitu, perjalanan karier yang terlihat gemilang tidak selalu menjamin akhir pengabdian yang terhormat.
Ada kalanya jabatan yang dahulu menjadi kebanggaan justru berubah menjadi beban pertanggungjawaban.
Kekuasaan yang dahulu terasa kokoh dapat runtuh ketika persoalan hukum dan fakta mulai berbicara.
Waktu memiliki caranya sendiri untuk menjawab setiap perjalanan manusia.
Tidak semua yang melesat tinggi akan sampai di garis akhir sebagai pemenang. Sebaliknya, tidak semua yang berjalan perlahan, bahkan pernah tersisih dari persaingan jabatan, akan berakhir sebagai pihak yang kalah.
Jabatan bisa diberikan melalui keputusan pimpinan, tetapi kehormatan hanya bisa dibangun melalui tindakan dan dipertahankan dengan integritas.
Seorang polisi yang berintegritas harus memahami bahwa seragam yang dikenakannya merupakan simbol kepercayaan rakyat.
Bukan simbol kekuasaan untuk menekan, apalagi alat untuk memenuhi kepentingan kelompok tertentu.
Ketika seorang anggota polisi dihadapkan pada perintah yang bertentangan dengan hukum, ia harus memiliki keberanian untuk menguji, mempertanyakan, dan menolak perintah tersebut melalui mekanisme yang benar.
Keberanian seperti inilah yang seharusnya mendapat tempat dalam kultur organisasi kepolisian.
Jangan sampai seorang perwira merasa bahwa masa depan kariernya hanya ditentukan oleh seberapa jauh ia mampu menyenangkan atasan yang sering terngiang bahasa asal bapak senang.
Justru, keberanian menjaga batas antara perintah yang benar dan yang salah merupakan bentuk pengabdian tertinggi kepada institusi.
Polri membutuhkan perwira yang cerdas, profesional, tegas, dan berani. Namun, lebih dari itu, Polri membutuhkan pemimpin yang tidak kehilangan arah moral ketika kekuasaan berada di tangannya.
Sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah menjadi pejabat, tetapi juga bagaimana seseorang menggunakan jabatan tersebut.
Setiap anggota Polri akan sampai pada masa ketika pangkat, jabatan, fasilitas, dan segala bentuk kewenangan tidak lagi melekat pada dirinya.
Seorang polisi yang pernah menolak perintah tidak benar mungkin saja kehilangan peluang promosi.
Bisa jadi ia tidak mendapatkan jabatan yang diharapkan. Bahkan, dalam situasi tertentu, ia harus menghadapi tekanan yang tidak ringan.
Namun begitu, selama sikapnya didasarkan pada hukum dan kebenaran, ia tidak pernah benar-benar kalah.
Sebaliknya, seseorang yang memperoleh jabatan dengan mengorbankan prinsip bisa saja terlihat menang hari ini. Tetapi siapa yang dapat menjamin bahwa esok hari ia tidak harus mempertanggungjawabkan segala keputusan dan tindakannya.
Waktu akan membuka apa yang selama ini tersembunyi. Fakta akan menemukan jalannya. Dan sejarah akan memberikan penilaian terhadap setiap orang sesuai dengan apa yang telah diperbuatnya.
Polisi hebat bukanlah polisi yang selalu berhasil mencapai puncak karier, melainkan polisi yang mampu mempertahankan kehormatan hingga akhir masa kedinasannya.
Pemenang sejati bukan mereka yang paling tinggi pangkatnya, melainkan mereka yang tetap bisa berdiri tegak ketika masa jabatan berakhir, seragam dilepas, dan seluruh kekuasaan telah ditinggalkan.
Pensiun dengan kehormatan, meninggalkan institusi tanpa noda, dan dikenang karena integritas, bukan karena kekuasaan.