Ekonomi RI Tumbuh 5,45 Persen, Prabowo Terima Laporan Airlangga
RIAUEXPOSE.COM, JAKARTA – Di tengah dinamika ekonomi global, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,45 persen dan diklaim menjadi yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20.
Capaian tersebut dilaporkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Laporan itu menjadi salah satu sorotan dalam evaluasi dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo.
Pemerintah menilai kinerja investasi dan penguatan sektor produktif menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada di atas 5 persen.
“Ekonomi dan stabilitas sektor riil, ini ekonomi kita terus tumbuh di atas 5 persen, yaitu 5,45 persen. Ini lebih tinggi dari rata-rata global yang 3 persen, dan kita di sini tertinggi di G20, Pak Presiden, dan juga salah satu yang tertinggi di ASEAN,” ujar Airlangga dalam paparannya.
Menurut Airlangga, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di atas rata-rata global yang diperkirakan sebesar 3 persen. Meski demikian, perbandingan antarnegara perlu memperhatikan periode pengukuran dan ketersediaan data yang setara.
Selain pertumbuhan ekonomi, Airlangga menyampaikan sejumlah indikator yang menggambarkan perkembangan sektor riil dan kepercayaan konsumen.
Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur meningkat menjadi 52,4, berada di atas ambang batas 50 yang menandakan ekspansi aktivitas industri.
Indeks keyakinan konsumen juga tercatat sebesar 118,1. Sementara itu, tingkat pengangguran dilaporkan berada pada level 4,65 persen, yang menurut Airlangga merupakan tingkat terendah sejak 1994. Rasio Gini turut dilaporkan membaik menjadi 0,368.
Di sektor perdagangan, pemerintah melaporkan surplus sebesar US$7,25 miliar. Namun, periode acuan angka surplus tersebut tidak dirinci dalam paparan yang dipublikasikan.
Airlangga juga melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 1,24 persen. Pemerintah menyatakan posisi tersebut masih sesuai dengan arah kebijakan fiskal yang direncanakan.
Dari sisi moneter, suku bunga acuan Bank Indonesia dilaporkan berada pada level 5,75 persen. Cadangan devisa Indonesia mencapai US$146,3 miliar, yang disebut cukup untuk membiayai kebutuhan impor selama 6,5 bulan.
Sementara itu, penyaluran kredit perbankan tumbuh 13,65 persen dan dana pihak ketiga meningkat 10,94 persen. Rasio permodalan perbankan tercatat sebesar 24,10 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada pada level 2,11 persen.
Pemerintah juga menyiapkan sejumlah stimulus pada kuartal IV 2026 untuk menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun.
Program tersebut mencakup bantuan pangan berupa beras 10 kilogram per bulan bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat, bantuan subsidi upah bagi 13,3 juta pekerja, serta program satu orang satu rekening.
Selain itu, pemerintah merencanakan stimulus transportasi menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027, termasuk potongan harga tiket dan dukungan perjalanan udara domestik.
Sejumlah program lanjutan untuk 2027 juga disiapkan, antara lain magang nasional, pelatihan vokasi, serta dukungan di sektor perumahan dan ketenagakerjaan.
Pemerintah berharap kombinasi pertumbuhan ekonomi, penguatan sektor produktif, stabilitas keuangan, dan stimulus tersebut dapat menjaga aktivitas ekonomi nasional sekaligus memperluas manfaat pembangunan bagi masyarakat.