JAKARTA, RIAUEXPOSE.COM — Perombakan atau reshuffle Kabinet Merah Putih yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto menjelang dua tahun pemerintahan dinilai membawa pesan strategis, mempercepat realisasi visi-misi pemerintah sekaligus memperkuat konsolidasi politik.
Analisis tersebut disampaikan pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), Adi Prayitno, dalam program Primetime News Metro TV, Kamis (1/10/2026).
Menurut Adi, reshuffle tidak semata-mata berkaitan dengan pergantian nama dalam kabinet, tetapi juga menjadi instrumen Presiden untuk mempercepat kerja pemerintahan.
“Reshuffle kabinet hari ini ada dua hal, mempercepat bagaimana visi-misi dan keinginan Presiden itu bisa diwujudkan secara signifikan, dan tentu adalah bagian dari konsolidasi-konsolidasi politik menuju 2029,” ujar Adi.
Menurut dia, momentum menjelang dua tahun pemerintahan menjadi salah satu konteks penting dalam membaca keputusan Presiden melakukan perombakan kabinet.
Pergantian sejumlah pejabat dapat dipahami sebagai bagian dari evaluasi dan penataan untuk menghadapi fase pemerintahan berikutnya.
Dalam reshuffle terbaru, sejumlah posisi strategis mengalami perubahan. Sugiono dipercaya menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) menggantikan Pratikno. Sementara Bahlil Lahadalia mendapat mandat sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi.
Selain itu, Sekretaris Jenderal Partai Golkar M. Sarmuji ditunjuk menjadi Menteri Perindustrian menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita. Perubahan juga menyentuh sejumlah posisi strategis lain dalam pemerintahan.
Penilaian serupa sebelumnya juga disampaikan Adi. Ia menekankan bahwa reshuffle semestinya tidak berhenti pada pergantian personel, tetapi harus menghasilkan peningkatan kinerja pemerintahan.
“Semoga makin memperbaiki kinerja pemerintah, bukan hanya ganti pemain,” kata Adi, Kamis (1/10/2026).
Pandangan tersebut sejalan dengan konteks evaluasi kabinet yang sebelumnya telah dibicarakan menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Pada September 2026, Adi menyebut momentum dua tahun pemerintahan dapat menjadi ruang evaluasi terhadap kinerja menteri, termasuk sektor ekonomi yang banyak mendapat perhatian publik.
Dengan demikian, reshuffle Kabinet Merah Putih kali ini setidaknya dapat dibaca melalui dua arah sebagaimana disampaikan Adi Prayitno, yakni akselerasi pelaksanaan visi-misi Presiden dan konsolidasi politik.
Namun, efektivitas perubahan tersebut pada akhirnya akan terlihat dari pelaksanaan program setelah para pejabat baru menjalankan tugasnya.
Pergantian jabatan menjadi tahap awal, sedangkan capaian kebijakan dan pelayanan pemerintahan menjadi bagian yang akan menentukan dampaknya bagi masyarakat.
Presiden Prabowo sebelumnya juga telah melakukan beberapa kali perubahan komposisi kabinet. Karena itu, reshuffle terbaru menjadi bagian dari dinamika penataan pemerintahan dalam periode pertama kepemimpinannya.