PEKANBARU, RIAUEXPOSE.COM — Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) tak ingin pembangunan daerah hanya berhenti di meja perencanaan.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kuansing H. Muklisin memilih turun langsung ke Jakarta, membawa sejumlah agenda strategis untuk diperjuangkan kepada pemerintah pusat.
Salah satu agenda yang mendapat perhatian utama adalah pembangunan trase Jalan Tol Pekanbaru–Teluk Kuantan.
Infrastruktur tersebut dinilai menjadi kunci untuk membuka konektivitas baru, mempercepat pergerakan orang dan barang, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Kuansing.
Muklisin menyampaikan aspirasi pembangunan tersebut saat menyambangi kawasan Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Dalam kunjungan itu, Pemkab Kuansing membawa sedikitnya delapan agenda prioritas yang dinilai penting untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Pemkab Kuansing untuk menjemput dukungan pemerintah pusat di tengah keterbatasan kemampuan fiskal daerah.
“Kami hadir langsung mengajukan program pembangunan infrastruktur dan sektor-sektor prioritas. Ini yang kami usulkan dan perjuangkan saat ini demi kebutuhan mendesak masyarakat Kuantan Singingi,” ujar Muklisin.
Dari sejumlah agenda yang dibawa ke Jakarta, konektivitas menjadi salah satu isu paling strategis.
Pemkab Kuansing mendorong percepatan pembangunan dan integrasi jaringan jalan, termasuk trase Tol Pekanbaru–Teluk Kuantan.
Sebelumnya, Muklisin juga telah menemui sejumlah anggota DPD RI asal Riau di Jakarta untuk meminta dukungan terhadap perjuangan pembangunan trase tol tersebut.
Bagi Kuansing, keberadaan jalan tol bukan sekadar proyek infrastruktur. Akses tersebut bakal mampu membuka jalur ekonomi baru, memperlancar distribusi hasil pertanian dan perkebunan, meningkatkan daya tarik investasi, serta memperkuat sektor pariwisata.
Terlebih, Kuansing memiliki Festival Pacu Jalur yang telah menjadi magnet wisatawan.
Konektivitas yang semakin baik diyakini akan memudahkan mobilitas wisatawan sekaligus memperkuat posisi Kuansing sebagai salah satu destinasi budaya dan pariwisata unggulan Riau.
Selain pembangunan trase tol dan penanganan konektivitas jalan, Pemkab Kuansing membawa sejumlah agenda pembangunan lainnya.
Di sektor kawasan perkotaan dan pariwisata, pemerintah daerah mengusulkan pengembangan Water Front City Narosa sebagai kawasan terpadu yang diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis pariwisata dan budaya.
Kemudian di sektor pendidikan, Pemkab Kuansing mengusulkan rehabilitasi sekitar 400 gedung sekolah, sekaligus mendorong kehadiran Sekolah Nasional Terintegrasi dan Sekolah Garuda.
Pada sektor kesehatan, agenda yang diperjuangkan mencakup peningkatan status RSUD menjadi Kelas D, rehabilitasi 20 puskesmas, serta pemenuhan peralatan kesehatan untuk meningkatkan kualitas pelayanan medis masyarakat.
Sementara di sektor pertanian dan perkebunan, Pemkab Kuansing mengusulkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), program peremajaan tanaman atau replanting, pembangunan dan pembenahan jalan produksi, hingga dukungan beasiswa bagi anak-anak petani.
Pemkab Kuansing juga meminta dukungan pemerintah pusat untuk penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai dapat mengganggu kesehatan masyarakat sekaligus aktivitas ekonomi.
Seluruh agenda tersebut bermuara pada satu kebutuhan besar, yakni penguatan dukungan pemerintah pusat melalui optimalisasi Transfer ke Daerah (TKD).
Langkah Muklisin ke Jakarta menunjukkan bahwa Pemkab Kuansing berupaya menggunakan seluruh jalur komunikasi pemerintahan untuk memastikan kebutuhan daerah mendapat perhatian pemerintah pusat.
Terlebih, perjuangan pembangunan tol di Kuansing sebelumnya telah mendapat sinyal positif.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo pada Agustus 2026 menyatakan pemerintah pusat akan mengkaji rencana pembangunan jalan tol Pekanbaru menuju Kuantan Singingi.
Rencana tersebut kemudian terus didorong melalui komunikasi antara Pemkab Kuansing, Pemprov Riau, pemerintah pusat hingga legislator di Jakarta.
Muklisin menilai, jika konektivitas tol tersebut terealisasi, dampaknya tidak hanya dirasakan Kuansing, tetapi juga berpotensi membuka konektivitas yang lebih luas antara Riau dan wilayah Sumatera Barat.
Dengan demikian, perjuangan Tol Pekanbaru–Teluk Kuantan kini bukan sekadar wacana pembangunan jalan, melainkan bagian dari strategi besar membuka akses ekonomi, investasi, perdagangan dan pariwisata Kuansing.
Bagi masyarakat Kuansing, harapan itu kini sedang diperjuangkan dari Jakarta dengan satu pertanyaan besar, akankah trase tol yang selama ini dinanti akhirnya benar-benar masuk dalam peta pembangunan nasional?