Edy Ahmad RM, Seniman Riau Asal Rengat, Meninggal Dunia

Edy Ahmad RM, tokoh budayawan dan seniman Riau asal Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, yang pernah menjadi anggota DPRD Riau periode 2004–2009.
Penulis: Anto
Selasa, 13 Oktober 2026 | 09:32:00 WIB

PEKANBARU, RIAUEXPOSE.COM – Kabar duka menyelimuti dunia seni dan kebudayaan Riau. Edy Ahmad RM, tokoh budayawan dan seniman asal Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), yang pernah menjabat sebagai anggota DPRD Riau periode 2004–2009, meninggal dunia Senin malam (12/10/2026).

Almarhum mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Awal Bros Panam, Pekanbaru, sekitar pukul 23.40 WIB.

Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga, kerabat, serta kalangan yang mengenal kiprahnya dalam kehidupan sosial dan kebudayaan di Riau.

Berdasarkan informasi yang diterima Riauexpose.com , Edy Ahmad RM meninggal dunia setelah mengalami gangguan jantung yang menyebabkan detak jantungnya berhenti.

Pria kelahiran Rengat pada 1968 itu tutup usia di umur 58 tahun.

Jenazah disemayamkan di rumah duka, kediaman pribadi almarhum di Jalan Karyawan, RW 08/RT 02, Kecamatan Tuah Madani, Pekanbaru. Pemakaman dijadwalkan berlangsung menjelang siang pada Selasa (13/10/2026).

Almarhum meninggalkan seorang istri, Ny. Emylia Ahmad, serta empat orang anak, terdiri dari dua anak laki-laki dan dua anak perempuan.

Nama Edy Ahmad RM pernah menjadi perhatian publik Pekanbaru ketika ia menyuarakan penolakan terhadap penggusuran kawasan lokalisasi Teleju.

Sikap tersebut membuatnya berada di tengah perdebatan mengenai penanganan prostitusi, ketertiban kota, dan nasib para pekerja seks komersial (PSK).

Perlawanan Edy terhadap kebijakan penggusuran kala itu menuai beragam tanggapan.

Ia bahkan mendapat julukan kontroversial sebagai “Presiden Pelacur”, sebutan yang melekat pada dirinya di tengah polemik yang berkembang di masyarakat.

Namun begitu, Edy menegaskan bahwa dirinya bukan pihak yang menolak penggusuran secara mutlak.

Persoalan yang ia soroti adalah ketiadaan solusi nyata bagi para PSK setelah kawasan tersebut ditertibkan.

Menurut pandangannya, penertiban tanpa penanganan lanjutan justru berisiko membuat aktivitas prostitusi menyebar ke berbagai sudut Kota Pekanbaru, mulai dari gang, jalanan, hingga kawasan permukiman dengan beragam kedok usaha.

Ia juga menyoroti menjamurnya tempat-tempat yang diduga menjadi lokasi prostitusi terselubung setelah penggusuran Teleju.

Sejumlah kawasan yang disebut dalam sorotannya antara lain Jalan Kartama dan Jalan Nangka, termasuk tempat usaha berkedok panti pijat, salon, spa, dan karaoke.

Pandangan tersebut menempatkan Edy dalam perdebatan yang lebih luas mengenai efektivitas kebijakan penertiban, pengawasan tempat usaha, serta pentingnya solusi sosial bagi kelompok masyarakat terdampak.

Terlepas dari kontroversi yang pernah mengiringi namanya, kepergian Edy Ahmad RM menjadi bagian dari catatan perjalanan seorang tokoh yang pernah terlibat dalam dunia seni, kebudayaan, dan politik di Riau.

Peristiwa yang pernah menjadikannya sorotan publik juga mengingatkan bahwa persoalan sosial tidak selalu selesai melalui penertiban semata, melainkan membutuhkan kebijakan lanjutan, pengawasan, dan pendekatan yang menyentuh akar persoalan.

Hingga kini, kekhawatiran Edy Ahmad RM tersebut dinilai masih menjadi pekerjaan rumah (PR) Pemerintah Kota Pekanbaru yang belum terselesaikan.

Menjamurnya panti pijat, salon, dan tempat karaoke yang diduga menjadi kedok praktik prostitusi di berbagai sudut Kota Pekanbaru.

Kini, Edy Ahmad RM telah berpulang. Keluarga yang ditinggalkan berharap dapat menerima kepergian almarhum dengan sabar dan ikhlas.

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa almarhum, menerima amal ibadahnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Aamiin ya rabbal ‘alamin.

Reporter: Anto