Guruh Soekarnoputra Pernah Nikah dengan Gadis Uzbekistan, Kandas 2009

Guruh Soekarnoputra dan Sabina Eldar, perempuan asal Uzbekistan yang pernah menjadi istrinya. Kisah cinta keduanya bermula dari pertemuan di Korea Utara pada 2002 sebelum akhirnya berpisah pada 2009.
Penulis: Anto
Minggu, 27 September 2026 | 08:25:00 WIB

RIAUEXPOSE.COM, JAKARTA — Kisah cinta Guruh Soekarnoputra dengan perempuan asal Uzbekistan, Sabina Eldar, pernah menjadi salah satu cerita yang menarik perhatian publik.

Berawal dari pertemuan singkat di Korea Utara pada 2002, hubungan keduanya berlanjut hingga ke jenjang pernikahan.

Namun begitu, kisah cinta putra bungsu Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno itu akhirnya tidak berlangsung selamanya.

Setelah menjalani rumah tangga selama beberapa tahun, Guruh Soekarnoputra dan Sabina memutuskan berpisah pada 2009. Sabina kemudian kembali ke Uzbekistan.

Pertemuan Guruh dan Sabina terjadi pada April 2002 ketika keduanya mengikuti The April Spring Friendship Art Festival di Korea Utara.

Guruh hadir bersama kelompok kesenian GSP, sedangkan Sabina merupakan bagian dari rombongan tari asal Uzbekistan.

Guruh mengaku langsung tertarik ketika pertama kali melihat Sabina. Perbedaan usia yang cukup jauh tidak menghalangi hubungan keduanya. Saat itu Guruh berusia 49 tahun, sementara Sabina berusia 22 tahun.

“Saya langsung kesetrum. Dia cantik!” ujar Guruh, seperti dikutip dari pemberitaan mengenai kisah cintanya.

Setelah pertemuan tersebut, hubungan mereka berlanjut meski terpisah jarak. Guruh bahkan mengundang kelompok tari Uzbekistan untuk tampil dalam Pekan Raya Jakarta pada Juni 2002.

Sabina kemudian tampil dalam acara pencanangan Favoritku Indonesia I di hadapan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Kesempatan tersebut dimanfaatkan Guruh untuk memperkenalkan Sabina kepada Megawati yang merupakan kakaknya.

Hubungan keduanya kemudian semakin serius hingga Guruh memperkenalkan Sabina kepada keluarga besarnya.

Pada September 2002, Guruh berangkat ke Uzbekistan bersama empat rekannya untuk menemui keluarga Sabina.

Kedatangannya tidak sekadar bersilaturahmi. Guruh datang dengan niat melamar perempuan yang telah membuatnya jatuh cinta sejak pertemuan pertama.

Guruh tiba di Uzbekistan pada 18 September 2002. Sehari kemudian, ia secara resmi menyampaikan lamaran kepada keluarga Sabina. Di luar dugaan, keluarga Sabina menginginkan pernikahan segera dilaksanakan.

Pernikahan Guruh Soekarnoputra dan Sabina akhirnya berlangsung pada Jumat, 20 September 2002. Pencatatan pernikahan dilakukan di catatan sipil setempat menggunakan bahasa Rusia. Setelah itu, keduanya melangsungkan akad nikah di Masjid Kucha dengan bahasa Uzbekistan.

Dalam pernikahan tersebut, Guruh memberikan mas kawin berupa Al Quran, buku Di Bawah Bendera Revolusi, serta autobiografi Soekarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Guruh juga memberikan nama Padmavati kepada Sabina. Nama tersebut diambil dari nama ibunya, Fatmawati. Saat itu Guruh menyebut pemberian buku-buku tentang Indonesia sebagai bagian dari harapannya agar sang istri mengenal sejarah Indonesia dan keluarganya.

Setelah pernikahan, keluarga Sabina juga menggelar upacara adat setempat. Guruh dan Sabina kemudian menjalani kehidupan sebagai pasangan suami istri.

Namun, perjalanan rumah tangga tersebut akhirnya tidak berlangsung hingga akhir hayat. Pada 2009, Guruh Soekarnoputra dan Sabina memutuskan untuk berpisah. Setelah perceraian tersebut, Sabina kembali ke Uzbekistan.

Kisah Guruh dan Sabina pun menjadi bagian dari perjalanan hidup seniman sekaligus putra Soekarno tersebut—sebuah kisah yang bermula dari pertemuan di Korea Utara, berlanjut dengan pernikahan di Uzbekistan, tetapi akhirnya harus berakhir setelah tujuh tahun menjalani bahtera rumah tangga.

Reporter: Anto