TELUKKUANTAN,RIAUEXPOSE.COM — Jauh sebelum teknologi berkembang pesat seperti sekarang, Telukkuantan telah memiliki denyut pendidikan yang kuat. Di tepian Sungai Kuantan, tradisi Pacu Jalur tumbuh dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Di sisi lain, sekolah menjadi tempat ilmu, moral, adab dan etika ditanamkan kepada anak-anak negeri.
Salah satu lembaga pendidikan yang pernah memiliki nama besar dalam sejarah pendidikan Telukkuantan adalah Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Sekolah ini dikenal sebagai lembaga yang mencetak tenaga pendidik yang kemudian mengabdi di berbagai daerah.
SPG bukan sekadar tempat belajar membaca, menulis dan berhitung. Bagi generasi yang pernah mengenyam pendidikan pada masa itu, sekolah juga menjadi ruang pembentukan karakter.
Kemampuan berhitung, misalnya, menjadi salah satu gambaran kualitas pendidikan masa lalu. Perkalian tidak selalu harus dicari menggunakan kalkulator. Banyak siswa dituntut mampu menguasainya di luar kepala.
Berbeda dengan sebagian pola soal masa kini yang terkadang dibuat panjang dan berlapis. Dahulu, soal-soal pendidikan lebih banyak diarahkan pada kemampuan dasar yang terukur, termasuk ketelitian berhitung.
Namun, semua itu baru menjadi pengantar untuk membuka kembali satu bagian sejarah yang mungkin mulai terlupakan: siapa Kepala Sekolah pertama SPG Telukkuantan?
Untuk menelusuri jejak sejarah tersebut, Riauexpose.com berbincang dengan salah seorang tokoh Telukkuantan, H. Chaidir Arifin, yang merupakan mantan pejabat dan pernah menempuh pendidikan pamong.
Dalam perbincangan tersebut, Chaidir Arifin mengungkap sebuah ingatan yang tersimpan sejak masa kecilnya. Ketika masih duduk di kelas 3 SD, sekolah tempatnya belajar berada dalam satu kompleks dengan SPG.
Dari ingatan dan kesaksian masa kecil itulah, muncul satu nama yang disebut sebagai Kepala Sekolah pertama SPG Telukkuantan, yakni Musa Hasril, yang disebut berasal dari Koto Taluk.
Kesaksian tersebut menjadi bagian dari sejarah lisan mengenai awal keberadaan SPG di Telukkuantan. Sebab, dokumen sejarah pendidikan pada masa itu tidak selalu mudah ditemukan, sementara ingatan para saksi zaman menjadi salah satu sumber penting untuk merekonstruksi perjalanan sebuah lembaga pendidikan.
Menurut Chaidir Arifin, sosok Musa Hasril memiliki lima bersaudara dan seluruhnya laki-laki.
Beberapa nama saudara kandung Musa Hasril yang masih diingatnya antara lain almarhum Kadri Hasril dan Alhardi Hasril. Sementara dua nama saudara lainnya, Chaidir mengaku sudah tidak mengingatnya.
Karena itu, bagi masyarakat Koto Taluk yang mengetahui secara lebih lengkap silsilah keluarga Musa Hasril, informasi tersebut tentu sangat berharga untuk melengkapi potongan sejarah ini.
Menariknya, jejak keluarga Musa Hasril disebut masih bersambung dengan sejumlah tokoh yang kemudian berkiprah di pemerintahan.
Menurut Chaidir Arifin, salah seorang anak dari adik Musa Hasril disebut kemudian menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Indragiri Hulu.
Informasi ini menunjukkan bagaimana jejaring keluarga dan pendidikan dari Telukkuantan pada masa lalu kemudian melahirkan generasi yang berkiprah di berbagai daerah.
Telukkuantan dan Kuantan Singingi memang memiliki sejarah panjang dalam melahirkan sumber daya manusia yang kemudian mengabdi di luar daerah.
Karena itu, kisah tentang SPG bukan hanya cerita mengenai sebuah sekolah. Ia merupakan bagian dari perjalanan pendidikan masyarakat Kuantan Singingi, ketika anak-anak muda datang untuk menuntut ilmu, kemudian menjadi guru dan menyebarkan pengetahuan ke berbagai pelosok.
Kisah Musa Hasril sebagai sosok yang disebut menjadi Kepala Sekolah pertama SPG Telukkuantan masih memerlukan penelusuran lebih lanjut, terutama melalui arsip sekolah, dokumen pemerintah, alumni, keluarga dan saksi sejarah lainnya.
Kesaksian Chaidir Arifin menjadi salah satu pintu masuk untuk mengungkap kembali sejarah tersebut.
Sebab, sejarah sebuah daerah tidak selalu tersimpan dalam buku. Sebagian justru hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah menyaksikannya.
SPG Telukkuantan pernah menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikan di negeri yang dikenal dengan tradisi Pacu Jalur tersebut. Dari ruang-ruang kelasnya, lahir guru-guru yang kemudian mengabdi di berbagai tempat.
Kini, ketika generasi terus berganti dan teknologi pendidikan semakin maju, kisah tentang SPG dan tokoh-tokoh yang berada di baliknya menjadi penting untuk dicatat.
Bukan sekadar nostalgia, tetapi sebagai upaya menjaga ingatan bahwa Telukkuantan memiliki sejarah pendidikan yang panjang dan pernah melahirkan banyak pendidik serta tokoh yang berkiprah di berbagai daerah.