Pencarian

Jalan Rusak Jadi Batu Sandungan Pariwisata Siak, HPI Riau Bersuara Jelang HUT Siak ke-27

Dewan Penasehat HPI Riau Rahmat Taufiq RJB bahas jalan rusak yang dinilai menghambat pariwisata Siak menjelang HUT ke-27 Kabupaten Siak.

Dolly Sandro
Dolly Sandro Reporter · Minggu, 11 Oktober 2026 · 14:22:00 WIB · Editor: Redaksi
Jalan Rusak Jadi Batu Sandungan Pariwisata Siak, HPI Riau Bersuara Jelang HUT Siak ke-27
Dewan Penasehat Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Riau, Rahmat Taufiq, S.H., M.H., C.P.M., yang akrab disapa Taufiq RJB (Dok: istimewa).

RIAUEXPOSE.COM SIAK — Kekayaan destinasi wisata sejarah yang telah dikenal hingga mancanegara belum cukup menjadikan Kabupaten Siak sebagai tujuan wisata unggulan jika tidak ditopang infrastruktur yang memadai.

Kerusakan jalan menuju Negeri Istana dinilai menjadi salah satu hambatan yang dapat mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung dan menikmati pesona sejarah Siak.

Hal itu diungkapkan Dewan Penasehat Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Pekanbaru, Rahmat Taufiq, S.H., M.H., C.P.M., yang akrab disapa Taufiq RJB, saat berbincang dengan riauexpose.commenjelang peringatan Hari Jadi ke-27 Kabupaten Siak, Minggu (11/10/2026).

Menurut Taufiq, Kabupaten Siak memiliki potensi wisata sejarah yang besar, mulai dari peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura hingga berbagai destinasi yang menyimpan nilai budaya dan sejarah Melayu.

Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan akses jalan yang aman dan nyaman agar pengalaman wisatawan tidak terganggu sejak perjalanan menuju lokasi.

Ia menilai, kondisi infrastruktur jalan yang dikeluhkan wisatawan lokal maupun mancanegara menjadi pekerjaan rumah yang harus mendapat perhatian serius pemerintah daerah.

“Wisatawan itu ingin bersenang-senang dan menikmati liburan. Kalau jalan menuju Siak saja banyak yang rusak dan menjadi ancaman terhadap keselamatan, tentu mereka akan berpikir panjang untuk datang,” ujar Taufiq RJB.

Ia menambahkan, HPI Riau selama ini telah gencar mempromosikan destinasi wisata Kabupaten Siak. Namun, upaya promosi tersebut perlu berjalan beriringan dengan pembenahan infrastruktur agar wisatawan tidak hanya tertarik datang, tetapi juga merasa nyaman dan ingin kembali berkunjung.

Taufiq RJB juga menyinggung terkait kucuran dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp5,5 miliar untuk revitalisasi dua bangunan cagar budaya, Istana Siak dan Balairung Sri beberapa waktu lalu dari pemerintah pusat.

Penggunaan dana sebesar itu tidak boleh berhenti sebatas mempercantik warisan sejarah atau menjadi panggung pencitraan pembangunan.

Menurutnya, anggaran sebesar itu harus mampu memberikan manfaat nyata bagi daerah, termasuk mendorong kunjungan wisatawan dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Siak.

“Jangan sampai dana dari pemerintah pusat yang nilainya mencapai Rp5,5 miliar itu hanya menjadi bahan validasi di tengah masyarakat bahwa seorang pemimpin telah berjuang membangun daerah," ujar pengusaha yang juga berprofesi sebagai Advokat itu.

Pertanyaannya lanjut Taufiq, setelah direvitalisasi, apa dampak nyata yang dihasilkan untuk Siak?

Apakah kunjungan wisatawan meningkat, ekonomi masyarakat bergerak, dan PAD ikut bertambah?

Taufiq mengingatkan, dana miliaran rupiah yang dikucurkan pemerintah pusat harus benar-benar digunakan sesuai peruntukan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, penggunaan anggaran publik tidak luput dari perhatian masyarakat yang berhak mengawasi setiap proses pembangunan di daerah.

“Jangan sampai dana miliaran rupiah dari pemerintah pusat tidak tepat sasaran. Masyarakat mengamati semua itu. Setiap kebijakan dan penggunaan anggaran tentu menjadi perhatian publik,” ujar Taufiq.

Ia juga mengingatkan agar pengelolaan anggaran dilakukan secara cermat dan sesuai ketentuan, sehingga tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari.

Terlebih, Bupati Siak Afni Zulkifli tengah menjadi sorotan publik dan digadang-gadang memiliki peluang untuk maju sebagai calon Gubernur Riau pada masa mendatang.

“Jangan sampai persoalan pengelolaan anggaran justru menjadi celah munculnya persoalan hukum yang dapat menghambat langkah politik seorang kepala daerah," tegasnya.

Lebih jauh Taufiq berujar bahwa pembenahan bangunan bersejarah perlu berjalan beriringan dengan perbaikan akses jalan, peningkatan fasilitas wisata, penguatan promosi, serta penyediaan akomodasi yang memadai.

“Jangan sampai bangunannya sudah direvitalisasi dengan anggaran miliaran rupiah, tetapi akses menuju destinasi masih dikeluhkan, wisatawan tidak bertambah, dan pelaku usaha pariwisata tidak merasakan dampak nyata," kata dia.

Menurut Taufiq, Istana Siak dan Balairung Sri bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan aset daerah yang memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi.

Karena itu, pengelolaannya harus dirancang agar mampu menarik wisatawan lebih lama tinggal di Siak, menggunakan jasa pramuwisata, menginap di hotel, menikmati kuliner lokal, serta membeli produk UMKM.

Ia berpesan, pemerintah daerah perlu memiliki indikator keberhasilan yang terukur, mulai dari perkembangan jumlah kunjungan wisatawan, lama tinggal pengunjung, perputaran ekonomi masyarakat, hingga kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD.

Tidak hanya itu, ia turut menyoroti pembangunan jembatan kaca di Siak yang sempat viral dan menyedot perhatian masyarakat.

Menurutnya, pembangunan ikon wisata memang dapat menjadi daya tarik baru, tetapi keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari kemegahan satu objek atau besarnya anggaran yang digelontorkan.

Taufiq mengingatkan, pengalaman wisatawan selama perjalanan turut menentukan citra sebuah daerah. Jika akses menuju destinasi dipenuhi jalan rusak dan membahayakan keselamatan, kesan buruk tersebut berpotensi memengaruhi rekomendasi wisatawan kepada orang lain.

“Jangan sampai wisatawan yang datang ke Siak hanya sekali jalan, lalu pulang membawa cerita yang tidak sedap didengar. Kita ingin mereka menikmati wisata Siak, merasa nyaman, dan mau datang kembali,” katanya.

Lebih lanjut, Taufiq menilai Kabupaten Siak perlu belajar dari daerah tetangga, seperti Sumatera Barat, dalam mengembangkan sektor pariwisata.

Menurutnya, dukungan infrastruktur yang baik, mulai dari jalan hingga fasilitas penginapan, menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman wisata yang berkualitas.

Ia menilai, wisatawan membutuhkan lebih dari sekadar objek wisata yang menarik. Mereka juga memerlukan akses perjalanan yang layak, fasilitas akomodasi, pelayanan yang baik, serta kenyamanan selama berada di daerah tujuan.

Karena itu, pembenahan jalan menuju Siak dan antardestinasi wisata perlu menjadi perhatian.

Selain mendukung keselamatan perjalanan, infrastruktur yang memadai dapat memperkuat daya saing pariwisata dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

Menurut Taufiq, promosi wisata akan lebih efektif apabila didukung kesiapan daerah dalam menyambut pengunjung.

Kolaborasi antara pemerintah, pelaku pariwisata, pramuwisata, pengusaha perhotelan, dan masyarakat juga dibutuhkan untuk membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.

Menjelang Hari Jadi ke-27 Kabupaten Siak, Taufiq berharap momen tersebut tidak hanya menjadi perayaan atas perjalanan pembangunan daerah, tetapi juga kesempatan untuk mengevaluasi persoalan yang masih menghambat kemajuan sektor pariwisata.

Siak tidak cukup hanya dikenal karena sejarah dan kemegahan destinasi wisatanya. Negeri Istana juga harus mampu memberikan perjalanan yang aman, nyaman, dan berkesan agar wisatawan datang bukan hanya sekali, tetapi kembali membawa cerita baik tentang Siak.

Follow riauexpose.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Dolly Sandro
Profil Penulis Dolly Sandro

Editor: Redaksi

Lihat Profil

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks