JAKARTA riauexpose.Com– Kondisi ekonomi Indonesia kembali menghadapi tekanan seiring memanasnya konflik di Timur Tengah.
Dampaknya terlihat dari pergerakan pasar saham nasional, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada awal pekan ini.
Berdasarkan data RTI Business pada Senin (9/3/2026), IHSG tercatat terkoreksi lebih dari 5 persen dan sempat menyentuh level terendah di kisaran 7.100.
Penurunan ini dipicu oleh aksi jual investor yang mulai mengurangi kepemilikan aset berisiko di negara berkembang.
Situasi tersebut juga mencerminkan kondisi yang terjadi pada pekan sebelumnya. Pada Kamis (5/3/2026), IHSG juga sempat terkoreksi sekitar 4 persen dan berada di kisaran level 7.000.
Pelemahan pasar saham Indonesia itu dipengaruhi oleh ketidakpastian global akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda.
Eskalasi konflik bahkan mendorong Iran mempertahankan penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia.
Kebijakan ini berpotensi mengganggu distribusi energi global dan memicu lonjakan harga minyak.
Dampak dari kondisi tersebut tidak hanya dirasakan di pasar saham. Perekonomian Indonesia juga berpotensi menghadapi tekanan multisektor, terutama jika kenaikan harga minyak dunia terus berlanjut.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Hakam Naja, mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai tren kenaikan harga minyak global yang kini telah menyentuh US$92 per barel.
Angka ini jauh melampaui asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok sekitar US$70 per barel.
Menurutnya, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel dapat menambah beban defisit anggaran negara hingga Rp6,8 triliun.
“Kenaikan harga minyak dunia harus diantisipasi serius. Jika terus melonjak, dampaknya akan sangat besar terhadap fiskal negara,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (9/3/2026).
Kondisi ini membuat pemerintah dan pelaku pasar diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama menghadapi potensi gejolak ekonomi global yang dapat berdampak











