Kronologi Serda Rafli Handiyono Pakpahan tewas di Tangan Senior
RIAUEXPOSE.COM PEKANBARU – Duka menyelimuti keluarga besar TNI Angkatan Udara setelah Serda Rafli Handiyono Pakpahan (RHP), prajurit muda yang bertugas di lingkungan Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, meninggal dunia usai diduga menjadi korban kekerasan dalam kegiatan pembinaan senior terhadap junior di Mess Marzuki, Kamis (5/11/2026) malam.
Komandan Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Marsma TNI Abdul Haris, membenarkan adanya dugaan penganiayaan yang menimpa anggotanya.
Ia juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya Serda RHP.
“Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan dalam menghadapi musibah ini,” ujarnya, Sabtu (7/11/2026).
Peristiwa tragis yang terjadi sekitar pukul 22.00 WIB itu kini menjadi perhatian banyak pihak terutama di kalangan TNI-AU.
Berdasarkan informasi yang berhasil dikutip Riauexpose.com dari berbagai sumber dan pendalaman Intel Lanud Roesmin Nurjadin yang diterima redaksi, korban diduga mengalami pemukulan di bagian dada oleh sesama personel setelah kegiatan pengarahan dan pembinaan di mess.
Hingga kini, kronologi lengkap kejadian masih dalam pendalaman pihak Lanud Roesmin Nurjadin. Sejumlah personel yang berada di lokasi telah diidentifikasi sebagai saksi.
Kejadian bermula setelah sekitar 15 personel kembali dari Pilar Cafe di Jalan Durian, Pekanbaru. Setibanya di mess, para personel kemudian melaksanakan kegiatan pembersihan.
Tidak lama berselang, seorang senior bernama Serka Batubara mengumpulkan dan membariskan para personel junior.
Pengarahan tersebut berkaitan dengan teguran dari pihak kantor mengenai kondisi personel junior, khususnya anggota leting 57, yang sebelumnya kedapatan mengantuk saat menjalankan dinas.
Dalam pengarahan itu, Serka Batubara disebut turut menegur personel leting 55, terutama Serda Rafli, yang dinilai belum mampu mengarahkan dan membina juniornya dengan baik.
Situasi kemudian memanas setelah salah seorang personel leting 49, Serda Purba, disebut melontarkan perkataan, “Cas dulu leting 55-nya supaya bisa membina adik-adiknya.”
Tak lama setelah ucapan tersebut, Serda Muhammad Gilang Baruni, personel Skatek 045 Depohar 80, diduga melakukan pemukulan terhadap Serda Rafli.
Korban disebut menerima dua kali pukulan di bagian dada.
Akibat pukulan tersebut, Serda Rafli roboh dan kemudian tidak sadarkan diri. Insiden itu disebut disaksikan sejumlah personel yang berada di lokasi, di antaranya Serda Tobing, Serda Adi Satrio, dan Serda Purba.
Melihat Serda Rafli tidak sadarkan diri, rekan-rekannya segera berupaya memberikan pertolongan.
Karena kondisi korban tidak kunjung membaik, sejumlah personel kemudian membawa Serda Rafli ke Eka Hospital Pekanbaru menggunakan kendaraan roda empat.
Dalam proses evakuasi, korban dibantu oleh Purba, Ite, Rafa, dan Rifaldi.
Namun, setelah mendapatkan penanganan medis di rumah sakit, Serda Rafli dinyatakan meninggal dunia.
Kepergian prajurit muda tersebut menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan rekan-rekannya di lingkungan TNI Angkatan Udara.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Lanud Roesmin Nurjadin masih melakukan pendalaman terhadap personel yang diduga terlibat maupun saksi-saksi yang berada di lokasi kejadian.
Sejumlah nama yang disebut berada di sekitar lokasi antara lain Serka Batubara, Sertu Ite, Serda Adi, Serda Purba, Serda Novan, Serda Rafa, dan Serda Rifaldi.
Redaksi Riauexpose.com masih berupaya mengonfirmasi kronologi lengkap, hasil pemeriksaan, serta langkah hukum yang akan diambil.
Sementara itu, jenazah Serda Rafli Handiyono Pakpahan telah dipulangkan ke rumah orang tuanya di daerah Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, untuk dimakamkan.
Keluarga besar korban berharap peristiwa ini diusut secara transparan. Mereka berharap tidak ada lagi prajurit muda yang kehilangan nyawa akibat praktik pembinaan yang diduga melampaui batas.