Revitalisasi Istana Siak, Ketua MUI dan Tokoh Adat Doakan Afni
RIAUEXPOSE.COM SIAK – Revitalisasi Istana Siak Assyerayah Al Hasyimiah dan Balairung Sri Kerapatan Tinggi bukan sekadar pekerjaan memperbaiki bangunan bersejarah, tetapi juga ikhtiar menjaga marwah dan warisan kebesaran Kesultanan Siak.
Mengawali pekerjaan tersebut, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Siak bersama tokoh masyarakat dan adat memimpin doa keselamatan agar proses revitalisasi berjalan lancar, aman, serta mendapat keberkahan Allah SWT.
Doa bersama menandai dimulainya revitalisasi dua situs bersejarah tersebut, Kamis (5/11/2026), di koridor belakang Istana Siak.
Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Siak Afni Zulkifli, perwakilan Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Riau, Forkopimda, DPRD Siak, Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Siak, pihak kontraktor, serta masyarakat.
Doa dipimpin Ketua MUI Kabupaten Siak, Kiai H. Ahmad Muhaimin, bersama tokoh masyarakat Siak H. Makmur, yang juga Timbalan Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAMR Kabupaten Siak, Datuk H. Makmur.
Dalam doa tersebut, para tokoh memohon keselamatan bagi seluruh pekerja, kelancaran pelaksanaan pekerjaan, serta perlindungan terhadap seluruh benda dan barang bersejarah yang berada di lingkungan istana.
Selain itu, doa juga dipanjatkan untuk para Sultan Siak yang telah mendirikan dan membesarkan Kesultanan Siak, mulai Sultan ke-10 hingga Sultan terakhir, sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan perjuangan para pendahulu.
Tidak lupa, doa turut dipanjatkan untuk para pemimpin Siak terdahulu, termasuk almarhum Tengku Rafian dan almarhum H. Arwin AS, agar senantiasa memperoleh rahmat dan ampunan Allah SWT.
Bupati Siak Afni Zulkifli berharap pekerjaan revitalisasi dapat berjalan lancar, tepat waktu, dan sesuai prosedur yang telah ditetapkan, terutama karena Istana Siak merupakan bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Afni juga mengungkapkan pentingnya menjaga keutuhan seluruh benda bersejarah selama proses pengerjaan berlangsung.
Penataan dan pemindahan barang, apabila diperlukan, harus dilakukan secara hati-hati, terkontrol, dan sesuai ketentuan.
“Revitalisasi ini bukan hanya tentang memperbaiki bangunan, tetapi juga menjaga sejarah dan warisan kebesaran Kesultanan Siak," ujar Afni.
Revitalisasi ini merupakan hasil perjuangan dan koordinasi Pemerintah Kabupaten Siak di bawah kepemimpinan Afni Zulkifli bersama instansi terkait dan Kementerian Kebudayaan dalam mendorong pelestarian warisan budaya daerah.
Senada dengan itu, Timbalan MKA LAMR Kabupaten Siak, Datuk H. Makmur, menyampaikan bahwa revitalisasi Istana Siak dan Balairung Sri Kerapatan Tinggi merupakan langkah penting dalam menjaga warisan sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Siak.
Menurutnya, doa bersama menjadi simbol kebersamaan antara pemerintah, tokoh adat, ulama, masyarakat, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pekerjaan tersebut.
“Istana Siak bukan sekadar bangunan tua atau peninggalan masa lalu. Di dalamnya terdapat sejarah, marwah, dan kebesaran Kesultanan Siak yang menjadi kebanggaan masyarakat," ujar Datuk H Makmur.
Karena itu, lanjutnya, revitalisasi ini harus dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian, penghormatan, dan tanggung jawab.
Ia berharap seluruh pekerja diberikan kesehatan dan keselamatan, serta tidak terjadi gangguan maupun hal-hal yang dapat menghambat proses revitalisasi.
Datuk H. Makmur juga mengajak seluruh masyarakat Siak untuk mendukung proses revitalisasi dengan tetap menjaga lingkungan istana dan menghormati nilai-nilai adat serta sejarah yang melekat pada kawasan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Siak bersama Kementerian Kebudayaan mulai merevitalisasi Istana Siak Assyerayah Al Hasyimiah dan Balairung Sri Kerapatan Tinggi dengan anggaran yang bersumber dari APBN melalui Kementerian Kebudayaan.
Total anggaran revitalisasi mencapai Rp5 miliar. Sebesar Rp3 miliar dialokasikan untuk perbaikan Istana Siak, sementara Rp2 miliar digunakan untuk revitalisasi Balairung Sri Kerapatan Tinggi.
Revitalisasi ini menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian bangunan peninggalan Kesultanan Siak agar tetap berdiri kokoh dan terawat, sekaligus mempertahankan nilai sejarah serta identitas budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pelestarian Istana Siak tidak hanya memperkuat identitas budaya daerah, tetapi juga menjadi kebanggaan masyarakat Riau dan Indonesia.