Mengenal Rocky Gerung, Filsuf Kritis hingga Jadi Wantimpres Prabowo

Rocky Gerung resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Penulis: admin
Rabu, 07 Oktober 2026 | 09:34:00 WIB

JAKARTA, RIAUEXPOSE.COM — Nama Rocky Gerung selama bertahun-tahun identik dengan kritik tajam, pemikiran filsafat, dan keberaniannya menguji kebijakan pemerintah melalui sudut pandang yang berbeda.

Kini, sosok yang dikenal sebagai akademisi, filsuf, dan pengamat politik itu memasuki lingkaran istana setelah dipercaya Presiden Prabowo Subianto menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Rocky Gerung resmi dilantik sebagai anggota Wantimpres oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026.

Ia menjadi salah satu dari 26 anggota Wantimpres yang diangkat berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 107/P tentang Pengangkatan Keanggotaan Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia.

Pelantikan tersebut menjadi perhatian publik karena Rocky selama ini dikenal sebagai salah satu pengkritik kebijakan pemerintah yang vokal.

Namun demikian, memasuki lingkaran penasihat Presiden, Rocky menegaskan bahwa posisinya tidak serta-merta mengubah karakter berpikirnya.

Usai dilantik, Rocky menjelaskan bahwa Wantimpres justru memiliki fungsi untuk bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintah.

Menurutnya, kritis berbeda dengan sekadar mengkritik di ruang publik. Tugas Wantimpres adalah memberikan pertimbangan kepada Presiden dengan melihat berbagai dampak dan persoalan yang mungkin muncul dari sebuah kebijakan.

Rocky menyebut kedudukan Wantimpres bersifat etis, bukan teknis. Artinya, lembaga tersebut tidak mengambil alih pekerjaan kementerian atau lembaga pemerintah, tetapi memberikan pertimbangan mengenai arah kebijakan kepada Presiden.

Ia menggambarkan tugas tersebut seperti proses penyusunan sebuah keputusan: mengingat, menimbang, dan memutuskan, sementara keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden.

Dengan demikian, Wantimpres menjadi salah satu ruang bagi Presiden untuk memperoleh pandangan dan pertimbangan sebelum menentukan arah kebijakan.

Rocky Gerung lahir di Manado, Sulawesi Utara, 20 Januari 1959. Ia kemudian menempuh pendidikan tinggi di Universitas Indonesia (UI).

Rocky awalnya tercatat sebagai mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional. Namun, perjalanan akademiknya kemudian berbelok ke filsafat.

Berangkat dari sinilah nama Rocky mulai berkembang sebagai seorang pemikir yang banyak menggeluti persoalan filsafat, politik, demokrasi, serta kehidupan sosial.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya, Rocky kembali ke lingkungan Universitas Indonesia dan mengajar di Departemen Ilmu Filsafat.

Ia menghabiskan sekitar 15 tahun dalam dunia akademik dan turut terlibat dalam pengembangan materi serta mata kuliah di bidang filsafat dan kajian sosial-politik.

Perjalanan akademik Rocky juga menjadi salah satu bagian yang kerap dibicarakan publik.

Ia dikenal tidak menempuh pendidikan hingga jenjang doktoral dan memilih membangun kapasitas intelektualnya melalui aktivitas membaca, mengajar, menulis, berdiskusi, serta terlibat dalam berbagai forum publik.

Dekat dengan Dunia Demokrasi dan Gus Dur

Selain dunia akademik, Rocky Gerung juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap isu demokrasi dan hak asasi manusia.

Namanya pernah dikaitkan dengan lingkungan intelektual yang dekat dengan tokoh-tokoh demokrasi, termasuk mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Rocky juga aktif dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan demokrasi, kebebasan berpikir, dan kehidupan politik Indonesia.

Karakter tersebut kemudian semakin dikenal masyarakat luas ketika Rocky kerap tampil sebagai narasumber dalam berbagai program televisi dan forum diskusi politik.

Kemampuan retorikanya yang kuat, pilihan kata yang tajam, serta gaya argumentasinya yang tidak biasa membuat Rocky menjadi salah satu figur yang mudah dikenali dalam perdebatan politik nasional.

Perubahan posisi Rocky Gerung dari figur yang berada di luar pemerintahan menjadi bagian dari Wantimpres menjadi salah satu babak paling menarik dalam perjalanan kariernya.

Namun Rocky menegaskan dirinya tidak merasa harus meninggalkan sikap kritis setelah masuk ke lingkungan Istana. Ia bahkan menyebut dirinya hanya berpindah posisi dari luar ke dalam, sementara pandangan dan sikapnya tetap.

Menurut Rocky, justru di dalam Wantimpres diperlukan kemampuan untuk membaca persoalan secara lebih mendalam agar setiap kebijakan pemerintah dapat dilihat bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi etika dan dampaknya bagi masyarakat.

Presiden Prabowo sendiri memberikan pesan bahwa Wantimpres memiliki kedudukan etis, bukan teknis.

Rocky mengatakan fungsi tersebut menuntut anggota Wantimpres mengambil jarak dari berbagai persoalan konkret agar dapat melihat arah kebijakan secara lebih objektif dan memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Masuknya Rocky Gerung ke dalam Wantimpres Prabowo sekaligus menandai perubahan posisi seorang intelektual yang selama ini dikenal lantang menyampaikan pandangan dari luar kekuasaan.

Kini, argumentasi dan pemikirannya tidak hanya terdengar dalam forum televisi, seminar, maupun diskusi publik. Pemikiran tersebut akan menjadi bagian dari ruang pertimbangan di lingkungan kepresidenan.

Publik tentu akan menunggu bagaimana Rocky menjalankan peran barunya. Apakah karakter kritis yang selama ini menjadi identitasnya tetap terjaga ketika berada di dalam lingkaran kekuasaan?

Jawabannya akan terlihat dari bagaimana Rocky memberikan pertimbangan kepada Presiden Prabowo dan sejauh mana suara kritis tersebut mampu menjadi bagian dari proses pengambilan kebijakan negara.

Satu hal yang sudah ditegaskan Rocky, menjadi bagian dari Wantimpres bukan berarti berhenti berpikir kritis. Justru, menurutnya, sikap kritis merupakan bagian dari tugasnya dalam memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Reporter: admin