ISPU Siak Memburuk, 14 Kecamatan Tidak Sehat, Pelajar PJJ

Kabut asap Siak memburuk, 14 kecamatan tidak sehat, pelajar kembali PJJ.
Penulis: Dolly Sandro
Rabu, 16 September 2026 | 10:41:00 WIB

RIAUEXPOSE.COM SIAK — Kabut asap kembali menjadi ancaman serius bagi aktivitas masyarakat Kabupaten Siak.

Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang dipublikasikan Pemerintah Kabupaten Siak menunjukkan 14 kecamatan berada pada kategori tidak sehat dan sangat tidak sehat, sehingga perlindungan terhadap kelompok rentan, khususnya pelajar, kembali menjadi perhatian.

Data yang ditampilkan Pemkab Siak pada 15 September 2026 pukul 15.00 WIB memperlihatkan nilai ISPU di 14 kecamatan berada pada rentang 163 hingga 251. Data tersebut diolah dari sumber ISPU Kementerian Lingkungan Hidup dan weather.com.

Dalam kategori ISPU yang ditampilkan, nilai 151–200 masuk kategori tidak sehat, sedangkan 201–500 masuk kategori sangat tidak sehat.

Kondisi terburuk tercatat di Kecamatan Bunga Raya dengan nilai ISPU 251, disusul Minas 218, Kandis 220, Kerinci Kanan 206, Tualang 205, Sungai Mandau 204, dan Koto Gasib 202. Seluruh wilayah tersebut masuk kategori sangat tidak sehat. IMG_4375.jpeg

Sementara itu, Kecamatan Siak tercatat pada angka 163, Mempura 181, Lubuk Dalam 192, Dayun 182, Sabak Auh 189, Sungai Apit 188 dan Pusako 181. Seluruhnya berada dalam kategori tidak sehat.

Memburuknya kualitas udara tersebut berdampak langsung terhadap penyelenggaraan pendidikan.

Pemkab Siak sebelumnya telah menerapkan penyesuaian pola pembelajaran berdasarkan tingkat pencemaran udara di masing-masing wilayah.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Siak Romy Lesmana Dermawan mengatakan kebijakan pembelajaran harus mengikuti perkembangan ISPU dan kondisi faktual di lapangan.

Disdik Siak sebelumnya juga menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi kelompok peserta didik tertentu ketika kualitas udara memburuk.

“Keselamatan dan kesehatan peserta didik menjadi pertimbangan utama. Pola pembelajaran akan terus kami sesuaikan dengan perkembangan ISPU di masing-masing wilayah,” ujar Romy Lesmana.

Romy menjelaskan, penyesuaian tidak semata-mata didasarkan pada kondisi udara secara umum, tetapi juga mempertimbangkan perbedaan tingkat pencemaran antarwilayah.

Karena itu, sekolah dan satuan pendidikan diminta mengikuti perkembangan informasi ISPU serta arahan dari Dinas Pendidikan.

Sebelumnya, Disdik Siak menerapkan PJJ untuk jenjang TK/PAUD/KB serta SD kelas 1 hingga 3, sementara SD kelas 4–6 dan SMP tetap dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan penyesuaian jam belajar serta protokol kesehatan.

Kepala sekolah dan koordinator wilayah juga diberi kewenangan mengalihkan pembelajaran menjadi PJJ atau memulangkan siswa lebih awal apabila kualitas udara memburuk.

Memburuknya kualitas udara Siak juga tidak serta-merta menunjukkan bahwa sumber asap berada di wilayah kabupaten tersebut.

Kepala Daerah Operasi Manggala Agni Sumatera VI Siak, Ihsan Abdillah, sebelumnya menjelaskan bahwa arah angin pada periode Juni–Desember cenderung bergerak dari selatan ke utara sehingga asap dari wilayah selatan Pulau Sumatera dapat terbawa menuju Siak.

Menurutnya, untuk menentukan sumber asap secara ilmiah perlu melihat secara bersama-sama hotspot, luas kebakaran, citra satelit, arah angin dan dinamika atmosfer. Kondisi lokasi kebakaran yang sudah padam juga tidak otomatis membuat kualitas udara langsung kembali normal.

Pemkab Siak sebelumnya juga telah meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus keluar rumah.

Dinas Kesehatan bahkan telah mendistribusikan puluhan ribu masker sebagai langkah perlindungan masyarakat dari paparan polutan asap.

Dengan ISPU yang kembali berada pada level tidak sehat hingga sangat tidak sehat di seluruh 14 kecamatan, perkembangan kualitas udara menjadi faktor penting dalam menentukan aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar.

Reporter: Dolly Sandro