Tampak depan Hotel Hollywood di Riau

Warga Suak Rengas Siak Keluhkan Limbah SPPG MBG, Bau Menyengat Saat Hujan dan Panas Terik

Warga Suak Rengas Siak mengeluhkan limbah dapur SPPG Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimbulkan bau menyengat dari saluran drainase di sekitar permukiman.
Penampakan limbah dapur SPPG Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimbulkan bau menyengat dari saluran drainase di sekitar permukiman.

Riauexpose.com SIAK – Aroma menyengat yang diduga berasal dari limbah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Samudera Biru menuai keluhan warga Dusun Suak Rengas, Kelurahan Sungai Mempura, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak.

Bau tidak sedap itu disebut semakin menyengat saat cuaca panas maupun usai hujan, hingga terbawa angin masuk ke dalam rumah-rumah warga sekitar dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Promo Fakultas Hukum UPBI

Fakultas Hukum UPBI

Keluhan tersebut disampaikan warga karena aroma yang diduga berasal dari saluran drainase pembuangan limbah dapur penyedia makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu telah berulang kali terjadi sejak dapur mulai beroperasi.

Salah seorang warga, Dep, mengatakan air limbah yang mengalir ke drainase di depan rumahnya kerap berwarna putih berbusa dan mengeluarkan aroma menyengat seperti bangkai.

“Air limbah itu berwarna putih berbusa, aromanya seperti bangkai dan sangat menusuk hidung. Kami benar-benar merasa terganggu,” ujar Dep, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, bau tidak sedap akan semakin kuat ketika cuaca panas akibat proses penguapan.

Sementara setelah hujan, aroma tersebut kembali muncul dari saluran drainase dan terbawa angin hingga masuk ke dalam rumah meski pintu dan jendela telah ditutup.

Pria 46 tahun itu menjelaskan, persoalan tersebut sebenarnya sudah beberapa kali disampaikan kepada pihak pengelola dapur SPPG, terutama terkait kondisi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)yang dinilai belum berfungsi secara optimal.

Setelah menerima keluhan, pengelola sempat melakukan pembersihan bak penampung serta filter IPAL. Upaya tersebut sempat mengurangi bau untuk beberapa waktu.

Namun begitu, kondisi itu tidak berlangsung lama. Saat aktivitas dapur kembali normal, khususnya setelah proses pencucian ompreng atau wadah makan usai distribusi makanan MBG, aroma menyengat kembali tercium.

“Bahkan saat musim panas baunya semakin kuat karena terjadi penguapan. Baunya terbawa angin sampai ke dalam rumah,” katanya.

Tidak hanya persoalan limbah, warga juga mengeluhkan kebisingan yang muncul saat proses pencucian ribuan ompreng berlangsung setiap hari. Aktivitas tersebut dinilai cukup mengganggu kenyamanan warga yang tinggal di sekitar lokasi dapur.

Meski demikian, Dep mengungkapkan masyarakat tetap mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah.

Hanya saja, menurutnya, operasional dapur harus diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang baik agar tidak menimbulkan dampak bagi masyarakat sekitar.

“Program pemerintah ini bagus, tetapi pengelola dapur juga harus memperhatikan lingkungan. Yang kami rasakan sekarang bukan hanya polusi udara akibat bau limbah, tetapi juga polusi suara,” ujarnya.

Warga berharap pengelola segera melakukan pembenahan terhadap sistem IPAL, termasuk membersihkan bak penampung limbah secara berkala agar bau tidak lagi mencemari lingkungan permukiman.

“Kalau memang IPAL-nya belum memenuhi standar, segera diperbaiki dan dikuras secara rutin. Pemilik dapur jangan mau untungnya saja, sementara kami tinggal di samping dapat bau limbah saja,” pungkas Dep kesal.

Menanggapi keluhan tersebut, pemilik Dapur SPPG Yayasan Samudera Biru, Maksum, mengakui sistem pengolahan limbah yang digunakan saat ini masih perlu penyempurnaan.

Ia mengatakan pihaknya telah melakukan evaluasi dan berencana mengganti model IPAL dengan sistem yang dinilai lebih efektif untuk mengatasi persoalan limbah.

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Mungkin bapak juga sudah melihat upaya yang kami lakukan. Untuk IPAL, kami akan mencoba memasang model lain karena pemasangan yang pertama kurang maksimal,” kata Maksum.

Selain itu, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan pemerintah setempat mengenai kondisi drainase di sekitar lokasi dapur.

“Berkaitan dengan drainase di depan lokasi, kami sudah berkoordinasi dengan lurah dan camat,” ujarnya.

Pengelola berharap perbaikan sistem IPAL yang akan dilakukan dapat menghilangkan bau limbah sehingga operasional dapur SPPG tetap berjalan optimal tanpa mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.

Dengan demikian, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis dapat terus berlangsung selaras dengan prinsip kesehatan lingkungan dan kenyamanan warga.

75 / 100 Skor SEO
https://riauexpose.com/wp-content/uploads/2024/06/Merah-Ilustratif-Modern-Dirgahayu-Bhayangkara-Instagram-Story_20240629_090843_0000.png