Tampak depan Hotel Hollywood di Riau

Uji B50 Tunjukkan Hasil Positif, ESDM Klaim Mesin Lebih Stabil dan Emisi Lebih Bersih

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memastikan performa mesin tetap stabil, bahkan emisi kendaraan diesel semakin ramah lingkungan.
Penampakan Bahan Bakar Bio Diesel B 50

Riauexpose.com | Uji coba bahan bakar biodiesel campuran 50 persen (B50) menunjukkan hasil menggembirakan.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terus mematangkan implementasi program B50 yang ditargetkan mulai berjalan pada Juli 2026.

Promo Fakultas Hukum UPBI

Fakultas Hukum UPBI

Hasil uji laboratorium dan uji jalan menunjukkan kualitas bahan bakar ini memenuhi bahkan melampaui standar teknis yang ditetapkan.

Direktur Jenderal EBTKE, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan salah satu indikator penting yakni kandungan air (water content) berada jauh di bawah ambang batas maksimum.

“Angka water content tercatat 208,81 ppm, ini di bawah batas 300 ppm. Semakin rendah kandungan air, semakin baik untuk menjaga performa mesin diesel,” jelasnya saat meninjau uji jalan B50 di Lembang.

Menurutnya, kadar air yang rendah menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas mesin selama pengujian, sekaligus meminimalisir gangguan performa yang kerap terjadi pada bahan bakar dengan kandungan air tinggi.

Tak hanya itu, pemerintah juga memperketat spesifikasi teknis dibandingkan program sebelumnya, yakni B40. Parameter monogliserida ditekan maksimal 0,47 persen massa, sementara stabilitas oksidasi ditingkatkan hingga minimal 900 menit.

“Standar ini kami naikkan agar kualitas bahan bakar nabati semakin baik dan performa mesin tetap optimal,” tambah Eniya.

Dari sisi lingkungan, penggunaan B50 terbukti mampu menurunkan kadar sulfur hingga 50 persen. Hal ini berdampak langsung pada kualitas emisi kendaraan diesel yang semakin bersih dan mendekati standar Euro-4.

“Campuran FAME dalam B50 berfungsi menurunkan sulfur. Jika komposisinya 50 persen, maka kandungan sulfurnya juga turun sekitar setengahnya,” ujarnya.

Dalam pengujian performa mesin, hasilnya juga terbilang konsisten dengan klaim pabrikan. Tidak ditemukan kendala signifikan seperti penyumbatan filter, bahkan konsumsi bahan bakar tetap efisien.

“Tidak ada pergantian filter selama uji. Konsumsi bahan bakar juga sesuai, bahkan sedikit lebih baik dari klaim pabrikan,” tegasnya.

Secara ekonomi, implementasi B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun. Selain itu, program ini juga berpotensi membuka lebih dari 2,2 juta lapangan kerja baru.

Dari sisi lingkungan, B50 ditargetkan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton CO2 pada tahun 2026.

Hingga pertengahan April 2026, realisasi penyaluran biodiesel nasional telah mencapai 3,90 juta kiloliter atau sekitar 24,9 persen dari total alokasi tahunan sebesar 15,65 juta kiloliter.

Pemerintah menargetkan seluruh uji coba sektor otomotif rampung pada Juni 2026, sementara sektor lain seperti alat berat dan perkeretaapian akan diselesaikan secara bertahap hingga akhir tahun.

Dengan hasil uji yang menunjukkan performa andal, efisiensi terjaga, dan dampak lingkungan yang lebih baik, program B50 diyakini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mendorong transisi menuju energi yang lebih bersih.

73 / 100 Skor SEO
https://riauexpose.com/wp-content/uploads/2024/06/Merah-Ilustratif-Modern-Dirgahayu-Bhayangkara-Instagram-Story_20240629_090843_0000.png