Riauexpose.com PEKANBARU – Menjelang Hari Jadi Kabupaten Siak ke-27 pada 12 Oktober 2026, kabar membanggakan datang dari khazanah budaya Melayu.
Syair Perang Siak resmi ditetapkan sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) 2026 oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) pada 14 September 2026.
Penetapan tersebut menjadi kado istimewa bagi Kabupaten Siak sekaligus tonggak penting bagi pelestarian sejarah dan budaya Melayu Riau.
Sertifikat IKON yang telah diterima Wakil Bupati Siak Syamsurizal di Jakarta kemudian dibawa ke Riau untuk disambut dalam sebuah kenduri syukuran di Balairung Tenas Effendy, Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau, Pekanbaru, Jumat (25/9/2026).
Sertifikat tersebut sebelumnya diserahkan kepada Wakil Bupati Siak Syamsurizal oleh Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Setelah prosesi penyambutan di Balai Adat LAMR Riau, piagam IKON Syair Perang Siak selanjutnya dibawa ke Kabupaten Siak untuk disambut di Gedung LAMR Kabupaten Siak.
Ketua Umum DPH LAMR Provinsi Riau, Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, menyampaikan rasa syukur atas pengakuan nasional terhadap manuskrip bersejarah tersebut.
“Alhamdulillah, Syair Perang Siak merupakan naskah kuno pertama di Provinsi Riau yang telah diakui oleh Perpustakaan Republik Indonesia. Setelah sekian lama naskah kuno di Provinsi Riau belum ada yang diakui secara nasional,” ujar Taufik Ikram Jamil.
Menurutnya, penetapan tersebut memiliki arti penting bagi keberadaan warisan intelektual Melayu di Riau.
Syair Perang Siak tidak hanya menjadi bagian dari khazanah kesusastraan Melayu, tetapi juga merekam jejak sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sementara itu, Wakil Bupati Siak Syamsurizal menyebut penetapan Syair Perang Siak sebagai Ingatan Kolektif Nasional merupakan anugerah luar biasa bagi Kabupaten Siak.
“Manuskrip Syair Perang Siak yang ditulis oleh bangsawan Melayu dari Kerajaan Siak pada masa dahulu, bukan sekadar lembaran kertas tua, melainkan saksi bisu heroisme perjuangan rakyat Siak melawan kolonialisme, sebuah catatan literasi yang menggambarkan keteguhan sikap dan kedalaman intelektual nenek moyang kita,” kata Syamsurizal.
Ia menilai pengakuan tersebut menjadi bentuk validasi negara terhadap kekayaan peradaban Melayu yang diwariskan kepada generasi saat ini.
Syamsurizal juga mengungkapkan keterikatan sejarah dirinya dengan lokasi yang menjadi bagian penting dalam kisah Syair Perang Siak.
Ia menyebut dirinya lahir dan besar di Sungai Apit, Muara Siak, kawasan yang berkaitan dengan peperangan melawan Belanda sekitar 260 tahun lalu.
Peristiwa tersebut, kata Syamsurizal, berlangsung pada April 1761. Jejak sejarahnya kini masih menyisakan sejumlah bukti fisik berupa peninggalan arkeologi bawah air yang telah diteliti oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Riau pada 2024 dan diharapkan dapat terus dikembangkan serta dilestarikan.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Siak, kami mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada seluruh pihak yang telah berjasa dan mendukung pengusulan Syair Perang Siak hingga berhasil meraih Sertifikat IKON dari Perpustakaan RI,” ujarnya.
Ucapan terima kasih tersebut disampaikan kepada jajaran LAMR Provinsi Riau, tenaga ahli dan pakar independen, institusi serta lembaga terkait, akademisi, praktisi dan seluruh pihak yang ikut mendorong proses pengusulan hingga penetapan Syair Perang Siak sebagai Ingatan Kolektif Nasional.
Syamsurizal menegaskan, pencapaian tersebut bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan momentum untuk memperkuat upaya pelestarian budaya, sejarah dan literasi di Kabupaten Siak.
Ia berharap pengakuan nasional terhadap Syair Perang Siak dapat menjadi pemantik semangat masyarakat, khususnya generasi muda, untuk semakin mengenal sejarah daerah dan menjaga warisan budaya Melayu.
“Kepada generasi muda, jadikanlah pencapaian ini sebagai cermin identitas untuk mewujudkan Siak Negeri Bersyair dan Siak sebagai Pusat Kebudayaan Melayu Nusantara,” pesannya.
“Mari kita perkuat literasi kita, mari kita cintai sejarah kita, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan melestarikan ingatan kolektifnya. Semoga langkah ini menjadi wasilah untuk memperkokoh jati diri Melayu yang beradab dan berkemajuan di Bumi Lancang Kuning yang kita cintai,” pungkas Syamsurizal.