RIAUEXPOSE.COM, PEKANBARU – Sebelum pusat perbelanjaan modern dan tempat rekreasi tumbuh menjamur di Kota Bertuah, Kolam Renang Kalinjuhang pernah menjadi salah satu ruang favorit warga Pekanbaru.
Di tempat inilah anak-anak belajar berenang, pelajar menjalani praktik olahraga, atlet berlatih, hingga keluarga menikmati akhir pekan yang sederhana namun penuh kenangan.
Kini, kolam renang legendaris yang berada di depan Masjid Agung An-Nur, Pekanbaru, itu telah menjadi bagian dari masa lalu.
Namun begitu, bagi warga yang pernah merasakan suasananya pada era 1980-an hingga 1990-an, nama Kalinjuhang bukan sekadar tempat berenang. Ia menyimpan cerita tentang kehidupan sosial, olahraga, dan kuliner yang pernah mewarnai wajah Kota Pekanbaru.
Berdasarkan catatan sejarah yang dihimpun Riauexpose.com, Kolam Renang Kalinjuhang dibangun oleh PT Caltex Pacific Indonesia sekitar 1976 dan rampung pada 1977.
Pembangunannya disebut berlangsung beriringan dengan renovasi Stadion Hang Tuah, yang juga menjadi salah satu fasilitas olahraga penting di Pekanbaru pada masa itu.
Kehadiran kolam renang tersebut menjadi bagian dari perkembangan fasilitas olahraga di Riau.
Dengan ukuran yang disebut mengikuti standar kolam renang untuk pertandingan tingkat Olimpiade, Kalinjuhang pernah menjadi salah satu sarana olahraga renang yang diperhitungkan di ibu kota Provinsi Riau.
Kolam ini memiliki dua bagian, yakni kolam untuk orang dewasa dan kolam khusus anak-anak.
Pembagian tersebut membuat Kalinjuhang tidak hanya menjadi tempat berlatih bagi perenang, tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk mengenal olahraga air sejak usia dini.
Dalam perjalanan pengelolaannya, Kolam Renang Kalinjuhang pada awalnya berada di bawah pengelolaan Pemerintah Daerah Tingkat I Riau.
Sekitar 1988, pengelolaannya kemudian beralih kepada PD Pembangunan Kota Pekanbaru.
Pada era 1990-an, Kalinjuhang semakin lekat dengan kehidupan warga. Kolam ini pernah digunakan sebagai lokasi praktik dan pengambilan nilai mata pelajaran olahraga renang bagi siswa sekolah di Pekanbaru.
Bagi sebagian pelajar pada masa itu, pelajaran berenang di Kalinjuhang menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Ada yang datang untuk pertama kali belajar mengapung, ada yang berlatih menyempurnakan gaya renang, dan ada pula yang sekadar menikmati kebersamaan dengan teman-teman sekolah.
Selain untuk kegiatan pendidikan, kolam renang ini juga pernah dimanfaatkan sebagai lokasi latihan atlet renang dan tempat pelaksanaan seleksi tes masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri), menurut catatan yang dihimpun.
Kenangan tentang Kolam Renang Kalinjuhang tidak hanya tersimpan di dalam air, tetapi juga melekat pada aroma makanan di sekitarnya.
Pada era 1980-an hingga 1990-an, kawasan ini dikenal dengan jajanan yang membekas dalam ingatan masyarakat.
Salah satunya adalah Bakwan Kalinjuhang, kuliner yang namanya ikut populer bersama tempat tersebut.
Selain bakwan, sate dan mi rebus juga menjadi bagian dari cerita kuliner yang menemani pengunjung setelah berenang. Bakso Gang Banten pun disebut pernah hadir di kawasan itu, meski hanya dalam waktu relatif singkat.
Bagi pengunjung kala itu, menikmati makanan setelah berenang menjadi pengalaman tersendiri.
Rasa lapar seusai bermain air, suasana ramai, dan obrolan bersama teman maupun keluarga menjadikan kunjungan ke Kalinjuhang terasa lengkap.
Kuliner-kuliner tersebut kini menjadi bagian dari nostalgia warga yang pernah menikmati kehidupan Pekanbaru pada masa itu.
Nama Bakwan Kalinjuhang bahkan tetap mudah dikenali dalam cerita sebagian masyarakat ketika mengenang tempat tersebut.
Perjalanan Kolam Renang Kalinjuhang perlahan memasuki babak akhir. Setelah Pekanbaru menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII pada 2012, kolam renang tersebut disebut semakin terabaikan hingga akhirnya dibongkar untuk mendukung perluasan halaman Masjid Agung An-Nur.
Kini, generasi yang tumbuh pada era 1980-an dan 1990-an hanya dapat mengenang Kalinjuhang melalui cerita, foto, serta pengalaman yang tersimpan dalam ingatan masing-masing.
Sejarah sebuah kota tidak hanya tersimpan dalam gedung pemerintahan, monumen, atau bangunan bersejarah. Ia juga hidup dalam ruang-ruang publik yang pernah menjadi tempat masyarakat bertemu, tumbuh, belajar, dan membangun kenangan.
Kolam Renang Kalinjuhang merupakan salah satu bagian dari cerita tersebut. Meski wujud fisiknya telah tiada, kisahnya tetap layak dihimpun sebagai sejarah perkembangan Kota Pekanbaru.