JAKARTA riauexpose.Com.- Konflik yang memanas antara Iran dan Amerika Serikat mulai menimbulkan dampak tidak langsung terhadap Indonesia, khususnya di sektor penerbangan, energi, hingga nilai tukar rupiah.
Meskipun Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut, efek ekonomi global mulai terasa di dalam negeri seiring terganggunya jalur penerbangan dan meningkatnya ketidakpastian pasar energi dunia.
Salah satu dampak paling nyata terjadi di sektor penerbangan internasional. Sebanyak 35 jadwal penerbangan internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, dilaporkan batal akibat penutupan ruang udara di sejumlah wilayah Timur Tengah.
Dari jumlah tersebut, 20 penerbangan merupakan jadwal keberangkatan dan 15 lainnya adalah kedatangan. Total sekitar 5.905 calon penumpang tercatat terdampak akibat pembatalan penerbangan tersebut.
Tidak hanya itu, gangguan penerbangan juga menyebabkan sekitar 2.000 jemaah umrah asal Indonesia sempat tertahan di kawasan Timur Tengah karena keterbatasan jalur penerbangan menuju Tanah Air.
Di sektor energi, situasi konflik juga sempat memengaruhi aktivitas pengiriman energi nasional. Dua kapal milik Pertamina International Shipping, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, dilaporkan sempat tertahan di kawasan Timur Tengah akibat meningkatnya risiko keamanan di jalur pelayaran.
Meski demikian, pemerintah memastikan pasokan energi nasional tetap aman. Dua kapal lainnya, yakni PIS Rinjani dan PIS Paragon, dilaporkan telah keluar dari kawasan konflik dan melanjutkan perjalanan sesuai rute yang telah ditetapkan.
Dampak konflik juga tercermin pada kondisi pasar keuangan. Nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan hingga menembus level Rp17 ribu per dolar AS, seiring meningkatnya kekhawatiran global terhadap lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Indonesia menyatakan terus memantau perkembangan situasi internasional, terutama terkait stabilitas pasokan energi dan dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Para analis menilai, jika konflik antara Iran dan Amerika Serikat terus berlanjut, dampak terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia, berpotensi semakin meluas, terutama pada sektor energi, transportasi udara, dan stabilitas nilai tukar.












