Tampak depan Hotel Hollywood di Riau

Luhut Ingatkan Dampak Perang Israel–AS–Iran ke Ekonomi Indonesia

IMG 0341
Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Panjaitan bertemu Presiden Prabowo belum lama ini di Jakarta. (istimewa).

Jakarta riauexpose.Com – Ketegangan geopolitik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran dinilai berpotensi memberi dampak berkelanjutan terhadap perekonomian global, termasuk bagi Indonesia.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Panjaitan, menyebut situasi tersebut perlu terus dipantau karena berisiko memicu gangguan pada distribusi energi dunia.

Promo Fakultas Hukum UPBI

Fakultas Hukum UPBI

Menurut Luhut, eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional jika tidak diantisipasi sejak dini, terutama terkait jalur distribusi energi global.

“Ketegangan yang terjadi antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran merupakan dinamika strategis di Timur Tengah yang memiliki potensi dampak berkelanjutan, terutama bagi kondisi perekonomian Indonesia,” ujar Luhut lewat keterangannya di media sosial.

Ia menilai, salah satu titik krusial yang harus menjadi perhatian adalah jalur distribusi energi dunia, khususnya di kawasan Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak global.

“Satu hal yang saya terus pantau dari eskalasi ketegangan ini adalah adanya potensi gangguan pada jalur distribusi energi seperti di Selat Hormuz. Tentu saja dampaknya akan terasa langsung pada stabilitas ekonomi nasional,” kata Luhut.

Luhut menegaskan bahwa ketahanan energi merupakan faktor penting bagi keberlangsungan ekonomi nasional serta kesinambungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Ketahanan energi merupakan urat nadi yang menentukan kesejahteraan masyarakat serta kesinambungan APBN. Oleh karena itu, Dewan Ekonomi Nasional secara intensif terus mengkaji langkah-langkah kontinjensi,” ujarnya.

Dalam konteks geopolitik global yang semakin kompleks, Luhut juga menegaskan pentingnya Indonesia tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif yang sejak lama menjadi landasan diplomasi Indonesia.

“Di tengah tarik-menarik kepentingan kekuatan besar, prinsip politik luar negeri bebas aktif harus terus menjadi pedoman yang paling relevan bagi bangsa ini,” katanya.

Ia menambahkan bahwa Indonesia tidak berada dalam posisi untuk memihak negara mana pun, melainkan menjaga hubungan baik dengan seluruh negara demi kepentingan nasional.

“Indonesia tidak dalam posisi untuk memihak negara manapun; bermitra dan membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan negara-negara maju maupun menghormati hubungan persahabatan dengan negara-negara berkembang dan juga negara muslim seperti Iran,” jelasnya.

Luhut juga mengingatkan bahwa menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen bangsa.

“Menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional bukanlah tugas pemerintah semata, melainkan tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Diplomasi Indonesia harus dijalankan secara luwes, proaktif, dan selalu berorientasi pada penguatan ketahanan domestik,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat tetap solid dalam menghadapi dinamika global yang penuh ketidakpastian.

“Saya berharap dengan kesadaran kolektif dan kekompakan seluruh elemen bangsa dalam mendukung langkah-langkah strategis pemerintah, kita dapat melewati tantangan ini bersama dengan tetap menjaga stabilitas ekonomi serta keamanan dalam negeri,” tutup Luhut.

73 / 100 Skor SEO
https://riauexpose.com/wp-content/uploads/2024/06/Merah-Ilustratif-Modern-Dirgahayu-Bhayangkara-Instagram-Story_20240629_090843_0000.png