Riauexpose.com SIAK – Kalimat “ Maaf sayang, aku dah gak tertolong lagi” menjadi pesan terakhir yang ditemukan penyidik di telepon genggam almarhum dr. Alex Cristo Loris.
Pesan WhatsApp yang ditujukan kepada sang istri itu belum sempat terkirim dan menjadi salah satu temuan penting dalam rangkaian penyelidikan ilmiah yang dilakukan Satreskrim Polres Siak untuk mengungkap penyebab kematian dokter muda tersebut.
Selain pesan tersebut, penyidik juga menemukan riwayat keluhan mengenai utang pinjaman online (pinjol) serta dugaan indikasi penggunaan uang dalam jumlah besar.
Temuan digital itu kemudian menjadi bagian dari analisa psikologi forensik guna memetakan kondisi psikologis korban sebelum meninggal dunia.
Kapolres Siak AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar didampingi Kasat Reskrim AKP Dr Raja Kosmos, Tim Laboratorium Forensik Polda Riau, dokter forensik Bid Dokkes Polda Riau, tim psikologi forensik, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian penyelidikan dilakukan secara profesional melalui metode Scientific Crime Investigation (SCI).
“Kami memastikan setiap tahapan penyelidikan dilakukan sesuai standar Scientific Crime Investigation dengan melibatkan berbagai ahli,” ujar Kapolres.
Seluruh alat bukti, hasil autopsi, laboratorium forensik, digital forensik, psikologi forensik, rekaman CCTV, serta keterangan para saksi telah dianalisis secara komprehensif.
Berdasarkan seluruh fakta yang ditemukan, tidak terdapat bukti yang mengarah pada tindak pidana pembunuhan.
Sebagai informasi, penyidik memulai penyelidikan dengan melakukan olah tempat kejadian perkara, mengamankan barang bukti, memeriksa rekaman CCTV, meminta keterangan saksi, hingga melibatkan sejumlah ahli dari berbagai disiplin ilmu.
Korban diketahui ditemukan meninggal dunia di semak belukar di samping pagar RSUD Tengku Rafian Siak, Jalan Raja Kecik, Kecamatan Siak, pada Selasa, 14 Juli 2026 sekitar pukul 11.30 WIB.
Di lokasi kejadian, polisi menemukan tas milik korban yang berisi sejumlah perlengkapan medis, di antaranya stetoskop, obat anestesi Propofol, ampul Lidocaine, spuit berisi Fentanyl Citrate dan Rocuronium Bromide, serta beberapa jarum suntik.
Rekaman CCTV dari dua titik berbeda memperlihatkan korban berjalan seorang diri menuju lokasi kejadian pada malam sebelum ditemukan meninggal dunia.
Hingga proses penyelidikan selesai, penyidik tidak menemukan adanya orang lain yang mendampingi maupun dugaan keterlibatan pihak lain.
Tim psikologi forensik menyebut korban diduga mengalami tekanan psikologis akibat akumulasi berbagai persoalan, mulai dari tekanan ekonomi, beban pendidikan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), hingga tanggung jawab terhadap keluarga.
Terkait peristiwa tersebut, Kasat Reskrim Polres Siak AKP Dr. Raja Kosmos turut mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola keuangan serta tidak mudah tergiur dengan kemudahan pinjaman online yang tidak dikelola secara sehat.
Menurut Kasat, tekanan ekonomi akibat jeratan utang dapat berdampak serius terhadap kondisi psikologis seseorang.
“Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Jangan mudah terjebak dalam pinjaman online tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial,” ujar Kasat.
Tekanan ekonomi yang terus menumpuk dapat memicu stres berat hingga berujung pada keputusan mengakhiri hidup dengan cara yang salah.
Jika menghadapi kesulitan, jangan dipendam sendiri. Libatkan keluarga, cari solusi, dan manfaatkan layanan konsultasi atau pendampingan agar persoalan tidak berkembang menjadi tragedi.















