100 Tahun Jam Gadang Bukittinggi: Ikon Minangkabau yang Menjadi Saksi Bisu Perjalanan Zaman

Tepat Seabad Berdiri, Jam Jam Gadang Bukittinggi-Sumbar Tetap Kokoh Jadi Simbol Kebanggaan Ranah Minangkabau.
Jam Gadang Bukittinggi-Sumatera Barat (istimewa).

Riauexpose.com || Tepat Seabad Berdiri, Jam Jam Gadang Bukittinggi Tetap Kokoh Jadi Simbol Kebanggaan Ranah Minangkabau.

Jam Gadang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah selama satu abad.

Promo Fakultas Hukum UPBI

Fakultas Hukum UPBI

Idul Fitri

Selamat dan sukses ketua DPD KAI Riau

Tepat pada tahun 2026, ikon kebanggaan masyarakat Minangkabau itu genap berusia 100 tahun sejak pertama kali dibangun pada 1926 di pusat Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Tak hanya menjadi penanda waktu, Jam Gadang juga menjelma sebagai simbol budaya, sejarah, dan identitas masyarakat Ranah Minangkabau yang terus hidup lintas generasi.

Keberadaannya tetap kokoh berdiri di tengah perkembangan zaman, menarik ribuan wisatawan lokal maupun mancanegara setiap tahunnya.

Hadiah Ratu Belanda yang Menjadi Ikon Bukittinggi

Menara jam bersejarah ini dibangun pada masa kolonial Belanda sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada controleur Fort de Kock, Rook Maker.

Pembangunannya menelan biaya sekitar 3.000 Gulden dan dirancang langsung oleh arsitek Minangkabau, Yazid Abidin Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh.

Dengan tinggi mencapai 26 meter, Jam Gadang memiliki konstruksi unik yang hingga kini masih menjadi perhatian.

Bangunan ini disebut dibangun tanpa semen modern, melainkan menggunakan campuran kapur, putih telur, dan pasir putih sebagai perekat utama.

Keunikan itu menjadi bukti kecerdasan teknik arsitektur masa lampau yang mampu bertahan hingga seabad lamanya.

Mesin Jam Langka, Hanya Dua di Dunia

Salah satu daya tarik utama Jam Gadang terletak pada mesin jamnya.

Mesin tersebut merupakan produksi Vortmann Recklinghausen, Jerman, dan disebut hanya ada dua unit di dunia.

Mesin serupa juga digunakan pada menara jam terkenal dunia, Big Ben. Hingga kini, mesin mekanik Jam Gadang masih berfungsi dengan baik dan terus menjadi daya tarik wisata sejarah di Bukittinggi.

Keunikan lain terlihat pada angka Romawi di permukaan jam. Angka empat ditulis menggunakan format “IIII”, bukan “IV” seperti penulisan umum jam Romawi lainnya.

Atap Jam Gadang Berubah Mengikuti Zaman

Selama perjalanan sejarahnya, Jam Gadang mengalami perubahan bentuk atap sebanyak tiga kali, mengikuti pergantian kekuasaan di Indonesia.

Pada era kolonial Belanda, atap Jam Gadang berbentuk kubah khas Eropa lengkap dengan ornamen ayam jantan.

Saat pendudukan Jepang tahun 1942–1945, bentuk atap diubah menyerupai pagoda Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, bentuk atap kembali diubah menjadi gonjong khas rumah adat Minangkabau yang bertahan hingga saat ini dan menjadi ciri paling ikonik Jam Gadang.

Jadi Pusat Wisata dan Kebanggaan Masyarakat Minangkabau

Kini, kawasan Jam Gadang menjadi pusat wisata utama di Bukittinggi.

Ribuan wisatawan datang untuk menikmati suasana kota, berburu kuliner khas Minang, hingga mengabadikan momen di depan ikon legendaris tersebut.

Memasuki usia 100 tahun pada 2026, Jam Gadang tidak hanya menjadi simbol Kota Bukittinggi, tetapi juga lambang kejayaan budaya Minangkabau yang tetap hidup di tengah modernisasi.

Seabad berdiri, Jam Gadang terus berdetak menjadi pengingat bahwa sejarah, budaya, dan identitas daerah akan selalu memiliki tempat di hati masyarakat Ranah Minangkabau.

Exit mobile version