JAKARTA Riauexpose.Com.~ Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran terkait akses pelayaran di Selat Hormuz.
Dalam pernyataan tegasnya, Trump menuntut agar Iran segera membuka jalur vital tersebut tanpa ancaman dalam waktu 48 jam.
Jika tidak dipatuhi, Washington mengancam akan melancarkan serangan langsung terhadap berbagai fasilitas pembangkit listrik milik Iran.
“Jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz tanpa ancaman dalam 48 jam, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar,” tegas Trump.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis dunia yang diapit oleh Iran di sisi utara, serta Oman dan Uni Emirat Arab di sisi selatan.
Koridor ini menjadi penghubung utama antara Teluk Persia dan Laut Arab serta menjadi nadi perdagangan energi global.
Data menunjukkan, sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz pada tahun 2025, dengan nilai perdagangan energi mencapai hampir 600 miliar dolar AS per tahun.
Selain minyak, sekitar 20 persen distribusi gas alam cair (LNG) dunia juga melewati jalur ini, sebagian besar berasal dari Qatar.
Tak hanya itu, selat ini juga berperan penting dalam distribusi pupuk global serta jalur masuk berbagai kebutuhan pokok ke kawasan Timur Tengah, mulai dari bahan pangan hingga obat-obatan dan teknologi.
Di tengah meningkatnya ketegangan, situasi keamanan di perairan tersebut semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan laporan AFP per 18 Maret, sedikitnya 21 kapal telah menjadi target serangan atau mengalami insiden sejak konflik memanas.
Salah satu insiden bahkan melibatkan kapal dengan empat anak buah kapal (ABK) asal Indonesia, di mana tiga di antaranya hingga kini masih belum diketahui keberadaannya.
Meski ancaman meningkat, aktivitas pelayaran belum sepenuhnya berhenti. Data dari Kpler menunjukkan hanya sekitar 99 kapal yang melintasi Selat Hormuz sepanjang bulan ini, atau rata-rata lima hingga enam kapal per hari—angka yang jauh menurun dari kondisi normal.
Ketegangan ini memicu kekhawatiran global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur paling krusial bagi stabilitas pasokan energi dunia.
Jika konflik terus meningkat, dampaknya diperkirakan akan merembet ke harga energi global hingga stabilitas ekonomi internasional.







