Eks Lahan Karhutla 2.400 Hektare di Bengkalis Berhasil Direstorasi

Potret Lahan gambut seluas sekitar 2.400 hektare di Tanjung Leban, Bengkalis, yang sebelumnya mengalami degradasi akibat karhutla kini berhasil direstorasi dan dikembangkan menjadi living laboratory gambut.
Penulis: Dolly Sandro
Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:24:00 WIB

BENGKALIS, RIAUEXPOSE.COM – Pernah menjadi kawasan yang berulang kali dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hamparan gambut seluas sekitar 2.400 hektare di Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Riau, kini berhasil dipulihkan melalui program restorasi gambut.

Kawasan yang sebelumnya mengalami degradasi akibat kebakaran tersebut perlahan berubah menjadi kawasan hijau sekaligus living laboratory atau laboratorium hidup untuk pembelajaran pengelolaan dan restorasi ekosistem gambut.

Transformasi ini menjadi salah satu contoh pemulihan gambut berbasis kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, peneliti, dan pemangku kepentingan lainnya.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat meninjau Rumah Runding Restorasi di Desa Tanjung Leban, Rabu (30/9/2026), menyebut kawasan tersebut sebelumnya merupakan lokasi kebakaran yang terjadi berulang hingga menyebabkan degradasi gambut.

Menurutnya, kawasan tersebut kini telah mengalami pemulihan yang signifikan, termasuk melalui penanaman kembali tanaman-tanaman endemik.

“Ini dulu adalah tempat di mana kebakaran berulang terjadi, terjadi degradasi gambut. Namun daerah yang terdegradasi ini berhasil direstorasi,” ujar Raja Juli.

Pemulihan lahan gambut seluas sekitar 2.400 hektare tersebut dilakukan melalui sejumlah pendekatan, salah satunya pengelolaan tata air gambut dengan konsep water sharing.

Sekat-sekat kanal dibangun untuk menjaga kelembapan gambut sehingga ekosistem tidak mudah mengering dan rentan terbakar ketika musim kemarau.

Program tersebut kemudian dipadukan dengan revegetasi untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan.

Rumah Runding Restorasi yang berada di kawasan tersebut juga dikembangkan sebagai ruang konsolidasi masyarakat, pusat pembelajaran, sekaligus lokasi penelitian mengenai ekosistem gambut.

Kawasan ini melibatkan kelompok masyarakat seperti Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Masyarakat Peduli Gambut (MPG) sebagai bagian penting dalam menjaga kawasan sekaligus memperkuat pencegahan karhutla secara mandiri.

Raja Juli menyebut kawasan restorasi di Tanjung Leban dapat menjadi laboratorium hidup untuk mempelajari praktik pengelolaan gambut yang telah dilakukan masyarakat.

Model tersebut tidak berhenti di Bengkalis, tetapi dapat menjadi bahan pembelajaran dan direplikasi di wilayah lain yang memiliki karakteristik gambut serta ancaman karhutla.

Konsep tersebut juga diperkuat dengan program Eco Learning Stay dan Sekolah Restorasi Gambut, yang diarahkan sebagai sarana pembelajaran, kaderisasi, penelitian, dan pengembangan model restorasi gambut.

Keberhasilan restorasi tersebut menjadi catatan penting di tengah tantangan karhutla yang masih dihadapi Kabupaten Bengkalis.

Pemkab Bengkalis mencatat berdasarkan ground check per 22 September 2026, karhutla di Bengkalis mencapai 946 hektare dengan 87 titik api. Sementara berdasarkan pemantauan citra satelit per 28 September 2026, luas indikatif mencapai 8.573,25 hektare dengan 73 titik api.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan gambut tidak cukup hanya dilakukan setelah kebakaran terjadi. Pengelolaan tata air, pencegahan, patroli, penguatan masyarakat serta perlindungan ekosistem harus berjalan secara berkelanjutan.

Dengan pengalaman restorasi di Tanjung Leban, lahan bekas karhutla seluas 2.400 hektare kini tidak sekadar menjadi kawasan yang dipulihkan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bahwa pengelolaan gambut, pencegahan karhutla dan pelibatan masyarakat dapat berjalan secara beriringan.

Dari lahan yang pernah terbakar, Tanjung Leban kini membawa pesan bahwa gambut yang rusak masih dapat dipulihkan—dengan tata kelola, ilmu pengetahuan dan kolaborasi yang konsisten.

Reporter: Dolly Sandro