Mbappe Buka Suara soal Jersey Ceuta, Ini Penjelasannya
RIAUEXPOSE.COM MADRID — Kylian Mbappe akhirnya buka suara mengenai kontroversi jersey dukungan untuk Ceuta yang terjadi sebelum laga Real Madrid menghadapi Elche.
Bintang asal Prancis itu menegaskan, sikapnya bukan bentuk penolakan terhadap masyarakat Ceuta, melainkan keinginannya untuk tidak membandingkan penderitaan satu kelompok dengan kelompok lainnya.
Kontroversi tersebut mencuat ketika Mbappe, Vinicius Junior dan Ibrahima Konate terlihat mengenakan jersey dukungan terhadap Ceuta hanya sebagian sebelum pertandingan Elche kontra Real Madrid pada 15 September 2026.
Tulisan “Todos somos caballas” yang berarti “Kita semua adalah warga Ceuta” tidak terlihat jelas karena jersey dinaikkan hingga bagian dada.
Dalam keterangannya kepada AS, Mbappe mengatakan dirinya tetap memiliki solidaritas terhadap masyarakat Ceuta dan seluruh korban.
Namun, sebagai seorang manusia, ia juga ingin menunjukkan perhatian kepada para migran yang kehilangan nyawa serta mengalami kondisi sulit.
“Karena sebelum menjadi pemain, saya adalah manusia,” demikian inti pernyataan Mbappe ketika menjelaskan sikapnya terhadap kontroversi jersey tersebut.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki masalah dengan masyarakat Ceuta dan tetap memberikan dukungan kepada mereka.
Mbappe juga menjelaskan bahwa persoalan tersebut merupakan situasi yang tidak mudah. Ia tidak ingin sikap solidaritas terhadap satu kelompok dipahami sebagai mengabaikan penderitaan kelompok lain.
Menurutnya, banyak orang di dunia yang sedang mengalami penderitaan. Karena itu, pemain Real Madrid tersebut memilih menyampaikan pesan kemanusiaan yang lebih luas dan berharap persoalan yang terjadi dapat segera menemukan penyelesaian.
Kontroversi bermula dari aksi solidaritas yang dilakukan sejumlah klub Spanyol untuk masyarakat Ceuta. Jersey tersebut membawa pesan “Todos somos caballas”, yang merujuk kepada sebutan bagi masyarakat Ceuta.
Kampanye itu berkaitan dengan situasi migrasi yang terjadi di wilayah tersebut.
Real Madrid kemudian menegaskan bahwa para pemain memiliki kebebasan dalam menentukan apakah akan ikut mengenakan jersey tersebut. Klub juga menyatakan menghormati pilihan pribadi para pemain.
Di tengah kontroversi tersebut, Mbappe memilih memberikan penjelasan langsung. Ia ingin publik memahami bahwa tindakannya bukan ditujukan untuk menentang masyarakat Ceuta, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap seluruh manusia yang terdampak penderitaan.
Sikap Mbappe itu sekaligus memperlihatkan bagaimana sepak bola modern tidak selalu berhenti di lapangan.
Pesan sosial yang dibawa seorang pemain dapat dengan cepat menjadi perhatian publik, terutama ketika bersinggungan dengan isu kemanusiaan dan politik.
Bagi Mbappe, sepak bola tetap menjadi ruang untuk menyampaikan pesan positif. Ia berharap perbedaan pandangan tidak menghilangkan sisi kemanusiaan dan solidaritas terhadap mereka yang sedang mengalami kesulitan.