SHANGHAI riauexpose.com– Presiden Xi Jinping kembali menegaskan ambisi strategis Beijing untuk mengangkat yuan sebagai mata uang cadangan global, menantang dominasi dolar AS yang menguasai sistem moneter internasional sejak era pasca-Perang Dunia II.
Melalui publikasi resmi di Qiushi—jurnal teori Partai Komunis ChinaChina—pidato Xi tahun 2024 yang sebelumnya tidak dipublikasikan kini disebarluaskan sebagai sinyal kebijakan.
Dalam pidato tersebut, Xi menekankan urgensi membangun “mata uang yang kuat”, yakni yuan yang digunakan secara luas dalam perdagangan internasional, arus investasi lintas batas, serta pasar valuta asing global, sekaligus memiliki status sebagai reserve currency.
Langkah ini mempertegas agenda internasionalisasi yuan yang telah dimulai sejak 2009 melalui penyelesaian transaksi lintas batas dalam mata uang domestik.
Momentum penting tercapai pada 2016 ketika yuan resmi masuk dalam keranjang Special Drawing Rights (SDR) milik International Monetary Fund, menempatkannya sejajar dengan dolar AS, euro, yen, dan pound sterling dalam sistem cadangan internasional.
Dalam kerangka yang disebutnya sebagai pembangunan “kekuatan finansial”, Xi menggarisbawahi sejumlah prasyarat struktural: bank sentral yang kredibel dan independen, institusi keuangan yang kompetitif secara global, penguatan pusat keuangan internasional, tata kelola regulasi yang prudent, serta pengembangan talenta sektor finansial.
Meski demikian, Xi mengakui sistem keuangan China masih menghadapi kesenjangan kualitas.
“Sistem kita besar, tetapi belum kuat,” ujarnya, menekankan bahwa transformasi menuju kekuatan finansial global memerlukan reformasi jangka panjang dan konsistensi kebijakan.
Dalam praktik komunikasi Partai, publikasi ulang pidato pemimpin melalui Qiushi kerap dipandang sebagai arahan strategis bagi birokrasi sekaligus sinyal kepada pasar global.
Analis menilai langkah ini mencerminkan peningkatan urgensi Beijing dalam memperkuat posisi yuan di tengah fragmentasi sistem keuangan global dan meningkatnya risiko geopolitik.
Secara makro, ambisi menjadikan yuan sebagai mata uang cadangan global menuntut liberalisasi akun modal yang lebih dalam, peningkatan transparansi pasar obligasi domestik, serta penguatan kepercayaan investor internasional terhadap stabilitas kebijakan moneter China.
Tanpa reformasi tersebut, peran yuan dalam portofolio cadangan bank sentral dunia akan sulit menyaingi greenback yang hingga kini masih mendominasi likuiditas dan settlement global.
Dengan sinyal kebijakan yang semakin eksplisit, Beijing tampak ingin mempercepat reposisi yuan dalam arsitektur moneter internasional—sebuah langkah yang berimplikasi luas bagi dinamika pasar keuangan global dan keseimbangan kekuatan ekonomi dunia.









