Riauexpose.Com- Kapolda Riau, Herry Heryawan, turun langsung meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sekodi, Kabupaten Bengkalis, Jumat (3/4/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan proses pemadaman berjalan optimal sekaligus memperkuat koordinasi lintas instansi.
Di lokasi, Kapolda menyapa para personel gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) yang terus berjibaku memadamkan api.
“Kami hadir untuk memberikan motivasi dan memastikan upaya pemadaman berjalan maksimal. Penanganan karhutla ini tidak bisa dilakukan sendiri, harus kolaboratif melibatkan semua pihak,” ujar Herry.
Ia menegaskan bahwa langkah strategis utama saat ini adalah menemukan dan memutus titik api sedini mungkin guna mencegah kebakaran meluas, terutama menjelang puncak musim kemarau.
“Lebih baik kita bekerja keras sekarang daripada harus menghadapi kebakaran yang lebih besar saat puncak kemarau,” tegasnya.
Selain upaya pemadaman, Kapolda juga menyoroti pentingnya penegakan hukum sebagai bagian dari strategi penanganan karhutla. Sepanjang 2025, Polda Riau tercatat telah menangani 74 kasus karhutla dengan jumlah tersangka yang sama.
“Penegakan hukum harus tegas dan berkeadilan. Tidak ada toleransi bagi pelaku pembakaran, baik disengaja maupun karena kelalaian,” katanya.
Sebagai langkah pencegahan, Polda Riau bersama sejumlah stakeholder telah memasang ratusan papan imbauan di wilayah rawan karhutla. Papan tersebut berisi ancaman pidana sekaligus larangan pemanfaatan lahan bekas terbakar.
“Kami ingin menimbulkan efek jera. Lahan yang terbakar tidak boleh dimanfaatkan kembali, termasuk untuk penanaman sawit,” tambahnya.
Dalam peninjauan tersebut, Kapolda turut didampingi Guru Besar Institut Pertanian Bogor bidang perlindungan hutan, Bambang Hero Suharjo, serta Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar.
Bambang mengingatkan bahwa tahun ini berpotensi menghadirkan ancaman serius seiring munculnya fenomena El Niño ekstrem atau Super El Nino yang dapat memicu kekeringan panjang.
Ia menjelaskan, fenomena tersebut ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut hingga 2,7 derajat Celsius di atas normal, yang berdampak pada perubahan sirkulasi atmosfer global dan memicu cuaca ekstrem.
“Dengan kondisi seperti ini, risikonya sangat tinggi. Ini mirip dengan kebakaran besar tahun 1997–1998 yang melahap hingga 10–11 juta hektare lahan dan menimbulkan ratusan korban jiwa,” jelasnya.
Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan pun diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah mitigasi guna mencegah karhutla semakin meluas di wilayah Riau.












