Dispar Siak Dukung Puan LAMR Lestarikan Kebaya Leboh dan Wisata Budaya

Dispar Siak Dukung Puan LAMR Lestarikan Kebaya Leboh dan Wisata Budaya
Screenshot

Siak Dinas Pariwisata Kabupaten Siak memberikan apresiasi  kepada Perempuan Lembaga Adat Melayu Riau (Puan LAMR) yang memilih Kabupaten Siak sebagai destinasi wisata budaya dalam rangka memperkenalkan kebaya leboh, busana tradisional khas Melayu Riau yang sarat makna dan nilai sejarah.

Kepala Dinas Pariwisata Siak, Tekad Perbatas Setia Dewa, menyebut kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata kolaborasi antara pelestarian budaya dan pengembangan sektor pariwisata daerah.

Ia menilai langkah Puan LAMR merupakan wujud cinta terhadap budaya Melayu yang mulai jarang ditampilkan di ruang publik.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif Puan LAMR yang menjadikan Siak sebagai lokasi pengenalan kebaya leboh. Ini sejalan dengan semangat kami untuk menjadikan Siak sebagai pusat wisata budaya Melayu di Riau,” ujar Tekad, Senin (6/10/2025).

Menurutnya, Dinas Pariwisata Siak siap memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan budaya yang mengangkat identitas Melayu sebagai warisan tak benda bangsa.

Ia bilang, program serupa akan terus digalakkan agar kearifan lokal tidak sekadar menjadi kenangan, tetapi terus hidup di tengah masyarakat modern.

Rombongan Puan LAMR yang berjumlah 25 orang itu disambut hangat oleh jajaran Dinas Pariwisata dan masyarakat setempat.

Kegiatan diawali dengan kunjungan ke Istana Siak Sri Indrapura, ikon sejarah yang menjadi simbol kejayaan Kesultanan Siak pada masa lampau.

Usai dari istana, rombongan melanjutkan perjalanan ke kompleks Makam Sultan Syarif Kasim IIyang terletak di samping Masjid Syahabuddin, masjid bersejarah yang masih berdiri megah hingga kini.

Di sana, para peserta melakukan doa bersama dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh-tokoh pendiri negeri.

Puncak kegiatan berlangsung di Sungai Siak, yang dikenal masyarakat lokal sebagai Sungai Jantan. Di atas perahu kayu tradisional, para peserta menikmati pengalaman unik makan beghanyut, yaitu makan bersama di atas perahu sambil menyusuri aliran sungai selama kurang lebih tiga jam.

“Makan beghanyut ini menjadi pengalaman luar biasa bagi peserta. Mereka bisa menikmati suasana tenang Sungai Siak sembari menikmati kuliner khas Melayu. Ini bukan sekadar wisata, tapi juga bentuk refleksi budaya,” jelas Tekad.

Tekad juga bilang, konsep wisata makan beghanyut kini mulai banyak diminati wisatawan lokal dan luar daerah. Dinas Pariwisata Siak, kata dia, sedang mendorong komunitas lokal untuk mengelola paket wisata tersebut secara profesional agar mampu menarik lebih banyak wisatawan.

“Bagi masyarakat umum yang ingin mencoba wisata makan beghanyut, bisa langsung menghubungi komunitas penyedia perahu. Biasanya kapasitas perahu berkisar antara 10 hingga 15 orang,” ungkapnya.

Selain menikmati pemandangan Sungai Siak, para peserta juga diajak singgah di Sungai Mempura, lokasi wisata yang menawarkan panorama alam dan sejarah. Di sana, pengunjung dapat melihat makam Tengku Buwang Asmara, tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Siak yang mewariskan kisah cinta dan perjuangan rakyat Melayu.

Rombongan Puan LAMR juga mengunjungi bekas penjara Tangsi Belanda yang berada di kawasan Mempura. Tempat bersejarah ini menjadi saksi bisu masa kolonial dan kini dijadikan situs edukatif untuk generasi muda mengenal perjuangan masa lalu.

Pimpinan rombongan, Puan Dinawati, menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Siak. Ia menilai Siak bukan hanya kaya sejarah, tetapi juga berhasil menjaga marwah dan jati diri Melayu.

“Kami ingin kebaya leboh menjadi simbol keanggunan perempuan Melayu. Dan Siak adalah tempat yang tepat untuk mengenalkannya karena di sinilah akar budaya Melayu tumbuh kuat,” kata Dinawati.

Dengan semangat kebersamaan itu, Dispar Siak dan Puan LAMR berkomitmen untuk melanjutkan kerja sama ke depan. Mereka berencana menggelar festival tahunan yang menggabungkan unsur busana tradisional, kuliner, serta atraksi wisata air khas Siak.

“Siak adalah jantung kebudayaan Melayu Riau. Dengan sinergi seperti ini, kami yakin wisata budaya bisa menjadi motor penggerak ekonomi kreatif masyarakat,” pungkas Tekad menyudahi.

Exit mobile version