SIAK riauexpose.Com– Bupati Siak Afni Zulkifli meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Siak agar memprioritaskan pembelian bahan pangan dari hasil pertanian serta produk UMKM tempatan.
Permintaan tersebut disampaikan Afni saat memimpin Rapat Koordinasi dan Monitoring Evaluasi Program MBG di Kantor Bupati Siak, Rabu (11/3/2026).
Dia menilai program MBG yang digagas Presiden Prabowo Subianto seharusnya mampu memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat, khususnya pelaku UMKM di daerah.
Menurut Afni, saat ini terdapat sekitar 1.568 pelaku UMKM di Kabupaten Siak, sebagian besar bergerak di sektor pertanian dan sebagian kecil di sektor perikanan.
Namun begitu, hingga kini, ia menilai belum ada dapur SPPG yang secara optimal membeli hasil produksi para pelaku usaha tempatan.
“Tujuan utama program MBG salah satunya untuk membantu UMKM lokal. Kalau SPPG lebih banyak belanja ke luar daerah seperti Pekanbaru dan hanya sedikit belanja di Siak, tentu ini sangat kita sesalkan,” tegas Afni.
Di Kabupaten Siak sendiri terdapat 56 SPPG yang tersebar di berbagai kecamatan. Afni meminta agar seluruh dapur MBG tersebut ke depan dapat menjalin kemitraan dengan UMKM lokal.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah daerah siap memfasilitasi kebutuhan SPPG dengan melibatkan dinas terkait untuk mencari dan membina pelaku UMKM yang mampu memenuhi kebutuhan bahan pangan maupun produk olahan.
“Ambil dulu produk UMKM lokal. Bina mereka, yayasan berkolaborasi dengan dinas kami, nanti kami yang akan carikan UMKM-nya,” ujarnya.
Afni menambahkan, Pemerintah Kabupaten Siak berkomitmen mendukung penuh pelaksanaan program MBG, bahkan jika harus melakukan penyesuaian anggaran daerah demi menyukseskan program prioritas nasional tersebut.
Selain itu, ia juga menyoroti kualitas menu MBG yang diberikan kepada anak-anak selama bulan Ramadan. Berdasarkan laporan yang diterimanya, menu yang disajikan masih sangat sederhana, seperti kacang polong, kacang goreng, pisang, dan brownies.
“Saya mendapat laporan menu yang diberikan ke anak-anak PAUD hanya kacang-kacangan seperti kue hari raya. Seharusnya bahan itu bisa diolah menjadi makanan yang lebih layak untuk anak-anak,” kata Afni.
Sementara itu, Kepala Kantor Pelayanan Pangan Gizi (KPPG) Pekanbaru, Syartiwidya, menyarankan agar pelaku UMKM di Siak menjalin kerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) setempat untuk mempermudah akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Menurutnya, dukungan permodalan sangat penting agar UMKM mampu memenuhi kebutuhan produksi dalam jumlah besar yang dibutuhkan dapur SPPG.
“Misalnya kebutuhan 2.500 kue per hari. UMKM tentu membutuhkan tambahan modal, tenaga kerja, dan kapasitas produksi. Di sinilah perbankan bisa masuk memberikan KUR,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan bahwa perputaran dana program MBG di Kabupaten Siak sangat besar. Setiap satu dapur SPPG dapat mengelola anggaran hingga sekitar Rp1 miliar per bulan.
Dengan total 56 SPPG, potensi perputaran dana yang masuk ke Kabupaten Siak diperkirakan mencapai sekitar Rp56 miliar per bulan.
Karena itu, ia berharap dana tersebut dapat berputar di daerah dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
“Dana MBG ini nilainya triliunan secara nasional. Sekitar 93 persen kembali ke masyarakat. Karena itu kita harapkan uangnya beredar di Siak dan tidak keluar dari daerah,” pungkasnya menyudahi.(infotorial).












