Limbah Sawit Disulap Jadi Gas, Pangkas Emisi 28 Ribu Ton
RIAUEXPOSE.COM, JAKARTA — Limbah cair pabrik kelapa sawit yang selama ini menjadi tantangan pengelolaan lingkungan kini berpeluang menjadi sumber energi masa depan.
Melalui teknologi pengolahan biogas dan pemurnian biometana, limbah sawit dapat diubah menjadi gas terbarukan yang bernilai ekonomi sekaligus berpotensi menekan emisi gas rumah kaca hingga 28.000 ton setara karbon dioksida per tahun.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari pengembangan energi bersih di Indonesia, seiring meningkatnya kebutuhan energi industri dan tuntutan pengurangan emisi karbon.
Bagi Riau sebagai salah satu daerah penghasil kelapa sawit, pemanfaatan limbah menjadi energi juga membuka peluang pengembangan industri yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Dikutip dari detikFinance, Sabtu (17/10/2026), reNIKOLA Holdings Sdn Bhd melalui anak usahanya, PT reNIKOLA Primer Satu, menandatangani perjanjian jual beli gas biometana terkompresi atau Compressed Biomethane Gas (CBG) selama 15 tahun dengan PT Gagas Energi Indonesia, anak usaha PT Perusahaan Gas Negara (PGN).
Kerja sama tersebut mencakup pasokan gas dari proyek yang berlokasi di pabrik kelapa sawit milik PT Karya Pratama Niagajaya (KPNJ), anak perusahaan PT Mahkota Group Tbk, di Sumatera Utara.
Proyek dengan skema Build-Own-Operate-Transfer (BOOT) tersebut memiliki nilai investasi lebih dari US$5 juta.
Fasilitas yang dikembangkan mencakup instalasi pengolahan anaerobik untuk menghasilkan biogas dari limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME), serta fasilitas pemurnian biometana.
Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada kuartal II-2028, dengan proyeksi kapasitas produksi CBG lebih dari 102.000 MMBtu per tahun.
Gas yang dihasilkan dari pengolahan limbah akan dimurnikan terlebih dahulu sebelum dipasok kepada PGN Gagas sesuai perjanjian jual beli yang telah disepakati.
Selain menghasilkan energi, teknologi ini juga berperan dalam menangkap gas metana yang berpotensi terlepas ke atmosfer dari limbah cair pabrik sawit.
Berdasarkan estimasi proyek, upaya tersebut dapat menghindari emisi gas rumah kaca sekitar 28.000 ton setara karbon dioksida setiap tahun.
Chief Executive Officer sekaligus Direktur PT reNIKOLA Primer Satu, Amran Yusof, menyatakan perusahaan menargetkan pengembangan 40 fasilitas produksi biometana di Indonesia dalam dua hingga tiga tahun mendatang.
“Kami berada di jalur yang tepat untuk mengembangkan 40 fasilitas produksi biometana di seluruh Indonesia dalam dua hingga tiga tahun ke depan,” kata Amran dikutip detikFinance, Sabtu (17/10/2026).
Ia menjelaskan, target tersebut didukung proyek-proyek yang telah memiliki perjanjian kerja sama serta portofolio pengembangan yang dinilai potensial.
Amran juga menegaskan komitmen perusahaan untuk memperkuat kerja sama dengan Pertamina dan anak-anak usahanya dalam mendorong pengembangan biometana.
“Kami akan terus bekerja sama secara erat dengan Pertamina beserta anak-anak perusahaannya untuk meningkatkan pengembangan biometana dan berkontribusi terhadap target NDC Indonesia,” ujarnya.
Pemanfaatan limbah cair sawit menjadi biogas dan biometana dinilai relevan bagi daerah dengan aktivitas industri kelapa sawit yang besar, termasuk Riau.
Limbah yang sebelumnya membutuhkan penanganan khusus dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi, selama didukung teknologi, investasi, dan tata kelola lingkungan yang memadai.
Contoh pemanfaatan tersebut telah terlihat pada fasilitas penangkapan metana milik PT Astra Agro Lestari Tbk di Riau.
ANTARA melaporkan pada September 2026 bahwa tiga fasilitas di PT Eka Dura Indonesia, PT Tunggal Perkasa Plantations, dan PT Kimia Tirta Utama menghasilkan pemanfaatan biogas sekitar 8,01 juta meter kubik hingga semester I-2026.
Direktur Astra Agro Lestari, Tingning Sukowignjo, menjelaskan bahwa penangkapan metana tidak hanya menekan emisi, tetapi juga meningkatkan efisiensi energi perusahaan.
“Jadi intinya adalah mentransformasi atau mengubah emisi itu menjadi sumber energi terbarukan,” kata Tingning dalam Astra Media Day 2026, sebagaimana diberitakan ANTARA.
Ia menambahkan, “Dengan methane capture ini kita punya dua manfaat, kita bisa menurunkan emisi dan meningkatkan efisiensi energinya juga.”
Data tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah sawit menjadi energi bukan sekadar konsep.
Teknologi penangkapan metana telah digunakan untuk mengurangi emisi sekaligus mendukung kebutuhan energi operasional industri.
Ke depan, pengembangan biometana berpotensi memperluas nilai ekonomi industri kelapa sawit, mulai dari pengelolaan limbah, penyediaan energi rendah karbon, hingga terbukanya peluang investasi baru.