Tampak depan Hotel Hollywood di Riau

Dari Soekarno hingga Jokowi, Mungkinkah Prabowo Injakkan Kaki di Istana Siak?

Presiden Prabowo Subianto diharapkan berkunjung ke Istana Siak peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura
Presiden Prabowo Subianto diharapkan berkunjung ke Istana Siak peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura

Riauexpose.com SIAK — Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sebuah catatan sejarah kembali menjadi perhatian Bupati Siak Afni Zulkifli. Hingga hampir 81 tahun Indonesia merdeka, belum ada satu pun Presiden Republik Indonesia yang tercatat datang dan masuk langsung ke Istana Asserayah Hasyimiyah, peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Afni berharap Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dapat menjadi kepala negara pertama yang menginjakkan kaki di istana bersejarah tersebut.

Promo Fakultas Hukum UPBI

Fakultas Hukum UPBI

Harapan itu disampaikan Afni saat berada di Siak Sri Indrapura, Minggu (16/8/2026). Menurutnya, kedatangan Presiden ke Istana Siak tidak sekadar menjadi kunjungan seremonial, tetapi dapat menjadi simbol penghormatan negara terhadap sejarah dan pengorbanan Kesultanan Siak bagi Republik Indonesia.

“Bolehlah Presiden Indonesia datang ke Siak membuat sejarah, datang ke rumah Sultan,” kata Afni.

Dari Soekarno hingga Jokowi, Belum Ada Presiden Masuk Istana Siak

Harapan agar Prabowo datang ke Istana Siak tidak terlepas dari perjalanan sejarah hubungan Kesultanan Siak dengan Republik Indonesia.

Setelah kabar Proklamasi Kemerdekaan sampai ke Siak, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kesetiaan dan dukungannya kepada Republik Indonesia.

Pada 28 November 1945, Sultan Syarif Kasim II mengirim telegram kepada Presiden Soekarno yang berisi pernyataan dukungan terhadap Republik Indonesia.

Tidak hanya memberikan dukungan politik, Sultan Syarif Kasim II juga menyumbangkan harta dalam jumlah besar untuk membantu perjuangan Republik Indonesia. Sumbangan tersebut disebut mencapai 13 juta gulden.

Sultan juga menyerahkan kedaulatan Kesultanan Siak kepada Republik Indonesia serta turut mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Sejumlah catatan sejarah juga menunjukkan keterlibatan Sultan Siak dalam pembentukan Komite Nasional Indonesia, Tentara Keamanan Rakyat dan Barisan Pemuda Republik di Siak.

Mahkota Kesultanan Siak yang kini menjadi bagian dari koleksi sejarah nasional turut menjadi simbol perjalanan penyatuan Kesultanan Siak ke dalam Republik Indonesia.

Karena itu, bagi Afni, Istana Asserayah Hasyimiyah bukan sekadar bangunan tua peninggalan kerajaan ataupun destinasi wisata.

Istana tersebut merupakan simbol sejarah tentang keputusan besar Kesultanan Siak untuk berdiri bersama Republik Indonesia ketika negara masih berjuang mempertahankan kemerdekaan.

SBY dan Jokowi Pernah Hampir Berkunjung

Menurut Afni, sejumlah Presiden RI sebenarnya pernah memiliki momentum untuk berkunjung ke Siak, tetapi belum sampai masuk ke Istana Siak.

Pada 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) datang ke Kabupaten Siak untuk meresmikan Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah.

Namun, agenda kunjungan ke Istana Siak disebut tidak terlaksana.

Hal serupa terjadi pada 2016 ketika Presiden Joko Widodo disebut hampir datang ke Siak dalam rangkaian puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Namun, agenda tersebut akhirnya dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Kini, harapan kembali muncul. Afni berharap Presiden Prabowo Subianto dapat membuat sejarah baru dengan berkunjung langsung ke Istana Asserayah Hasyimiyah.

“Hingga saat ini kami anak cucu Siak setia pada Indonesia. Namun hampir 81 tahun Indonesia merdeka, belum ada satu Presiden pun yang datang ke Istana Sultan Siak,” ujarnya.

Dari 13 Juta Gulden hingga Minyak dan Sawit

Bagi Afni, kontribusi Siak terhadap Indonesia tidak berhenti pada sejarah sumbangan 13 juta gulden Sultan Syarif Kasim II.

Delapan dekade setelah kemerdekaan, Kabupaten Siak masih menjadi salah satu daerah yang memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional melalui sumber daya alam, termasuk minyak dan gas bumi serta perkebunan kelapa sawit.

Karena itu, Afni menilai sejarah kontribusi tersebut semestinya menjadi bagian dari konteks ketika pemerintah pusat dan daerah membicarakan hubungan fiskal, khususnya Dana Bagi Hasil (DBH).

Dalam pertemuan dengan jajaran Kementerian Keuangan beberapa waktu lalu, Afni menyampaikan apresiasi atas penyaluran sisa kurang bayar DBH tahun 2023 sebesar Rp29,8 miliar kepada Kabupaten Siak.

Namun, menurut Afni, pembayaran tersebut belum menyelesaikan seluruh persoalan.

Ia menyebut dari pengakuan kurang bayar sekitar Rp100 miliar pada 2023, baru Rp29,8 miliar yang direalisasikan. Sementara total kewajiban pemerintah pusat kepada Kabupaten Siak, menurut perhitungannya, masih berada di kisaran Rp460 miliar.

“Kami membutuhkan kurang salur Dana Bagi Hasil ini dibayarkan pusat, karena harus membayarkan utang pada pihak ketiga lebih dari Rp300 miliar. DBH ini merupakan hak daerah,” kata Afni.

Menurutnya, tekanan fiskal tersebut turut memengaruhi kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai kebutuhan rutin dan pembangunan, termasuk pembayaran gaji ASN dan PPPK.

Istana Siak dan Pesan untuk Pemerintah Pusat

Di tengah momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Afni juga mengajak rombongan Kementerian Keuangan melihat sejumlah situs sejarah peninggalan Kesultanan Siak.

Pesan yang ingin disampaikan, menurut Afni, lebih besar daripada sekadar memperkenalkan bangunan bersejarah.

Siak tidak ingin hanya dikenang sebagai daerah penghasil minyak, gas bumi dan kelapa sawit. Siak juga ingin sejarah perjuangan Kesultanan Siak dalam mendukung berdirinya Republik Indonesia tetap menjadi bagian dari ingatan bangsa.

Kesultanan Siak telah menyerahkan harta dan kekuasaannya untuk bergabung dengan Republik Indonesia.

Kini, setelah hampir 81 tahun Indonesia merdeka, masyarakat Siak berharap kontribusi tersebut tidak hanya dikenang sebagai catatan sejarah, tetapi juga mendapat perhatian dalam hubungan pembangunan dan fiskal antara pusat dan daerah.

Jika Presiden Prabowo Subianto benar-benar berkunjung ke Istana Siak, momen tersebut akan memiliki makna lebih dari sekadar kunjungan kenegaraan.

Kedatangan Prabowo dapat menjadi simbol penghormatan negara terhadap Sultan Syarif Kasim II sekaligus mempertemukan kembali sejarah pengorbanan Kesultanan Siak dengan kontribusi Kabupaten Siak bagi Indonesia masa kini.

Dari halaman Istana Asserayah Hasyimiyah, pesan itu kembali digaungkan menjelang 81 tahun Indonesia merdeka: Siak tidak hanya ingin dikenang karena apa yang pernah diberikannya kepada Indonesia, tetapi juga berharap kontribusinya hari ini mendapat perhatian dan keadilan.

“BACA JUGA”

Toyota Fortuner Laka Tunggal di Sorek, 1 Orang Dikabarkan Tewas

Bareskrim Amankan 2 WN India, Bongkar Dugaan Pengolahan 30 Kg Emas per Hari

Sandiwara Pembunuhan di Pelalawan Terbongkar, Pelaku Hubungi 110

71 / 100 Skor SEO
https://riauexpose.com/wp-content/uploads/2024/06/Merah-Ilustratif-Modern-Dirgahayu-Bhayangkara-Instagram-Story_20240629_090843_0000.png