riauexpose.Com.- Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, Ramadan adalah madrasah ruhani yang mengajarkan kesabaran, keikhlasan, serta mempererat tali silaturahmi di tengah keluarga dan masyarakat.
Dalam tradisi masyarakat di Indonesia, khususnya di tanah Melayu dan Minangkabau, bulan suci ini sejak dahulu selalu menjadi momentum berkumpulnya keluarga besar dalam suasana penuh keberkahan.
Dahulu, tradisi berbuka puasa bersama keluarga besar memiliki nilai kebersamaan yang sangat kuat.
Buka puasa pertama biasanya dilakukan di rumah orang tua, kemudian dilanjutkan secara bergiliran di rumah anak tertua hingga saudara lainnya.
Setiap keluarga datang membawa hidangan dari rumah masing-masing, sehingga tidak memberatkan tuan rumah.
Tradisi ini bukan hanya sekadar makan bersama, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi, saling berbagi rezeki, serta menumbuhkan rasa kebersamaan dalam keluarga.
Di tengah suasana itu, kearifan lokal juga ikut hidup dan terjaga. Setiap keluarga membawa makanan khas daerahnya.
Orang Minangkabau, misalnya, sering membawa hidangan seperti Rendang, gulai itik lado hijau, atau aneka masakan khas lainnya.
Sementara orang Melayu menghadirkan menu seperti Tempoyak, asam pedas, dan berbagai hidangan tradisional yang sarat cita rasa budaya.
Dari meja makan sederhana itulah identitas budaya diwariskan dari generasi ke generasi hingga turun temurun.
Namun begitu, seiring perkembangan zaman, tradisi yang penuh makna tersebut mulai perlahan tergerus oleh waktu.
Saat ini, berbuka puasa bersama lebih sering dilakukan di kafe, restoran, atau hotel berbintang.
Pilihan ini memang terasa lebih praktis di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari. Akan tetapi, tanpa disadari, kebiasaan tersebut juga perlahan menjauhkan keluarga dari tradisi berkumpul di rumah orang tua atau sanak saudara.
Fenomena ini tentu patut menjadi bahan renungan bersama. Sangat disayangkan apabila buka puasa bersama orang lain di luar rumah justru menjadi lebih trend dibandingkan berbuka bersama keluarga besar sendiri.
Padahal, dalam ajaran Islam, menjaga silaturahmi memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi dan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.
Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.
Nilai inilah yang sebenarnya hidup dalam tradisi buka bersama keluarga sejak dahulu.
Ramadan sejatinya adalah momentum untuk kembali kepada nilai-nilai tersebut.
Kebersamaan di rumah orang tua, hidangan sederhana yang dibawa dari rumah masing-masing, serta canda tawa keluarga adalah kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan anak-anak dan cucu kita kelak.
Karena itu, sudah sepatutnya kita menjaga tradisi dan kearifan lokal yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Tradisi berbuka puasa bersama keluarga bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang merawat kasih sayang, memperkuat ukhuwah, serta menanamkan nilai budaya kepada generasi penerus.
Hendaknya Ramadan tahun ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk kembali merawat tradisi silaturahmi dalam keluarga. Sebab di sanalah keberkahan itu bermula, dari rumah, dari orang tua, dan dari meja makan sederhana yang dipenuhi rasa syukur kepada Allah SWT.
Selamat menunaikan ibadah puasa di penghujung bulan suci Ramadan dan bersiap menyambut hari kemenangan Idul Fitri 1447 H.
Semoga setiap amal ibadah yang telah dijalankan diterima oleh Allah SWT, membawa keberkahan, kedamaian, serta mempererat tali silaturahmi di antara kita semua. Mohon maaf lahir dan batin. Wassalam.












