JAKARTA.~ Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo membuka secara gamblang catatan merah kinerja Polri dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR di Jakarta, Selasa (18/11) lalu.
Dalam rapat tersebut, Dedi mengatakan bahwa reformasi kepolisian, khususnya pada aspek budaya kerja, masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera dibenahi Polri untuk menjawab tuntutan dan ekspektasi publik.
“Reformasi budaya adalah tantangan terbesar kami. Publik menuntut perubahan, dan kami harus menjawabnya dengan kerja nyata,” ujar Dedi di hadapan anggota Komisi III.
Dedi menyampaikan bahwa terdapat 11 isu utama yang selama ini memengaruhi citra Polri di mata masyarakat. Beberapa di antaranya meliputi kekerasan aparat, pungutan liar, penyalahgunaan wewenang, serta penggunaan kekuatan yang berlebihan dalam penanganan perkara.
“Isu-isu ini menjadi sorotan publik dan tidak boleh dianggap remeh. Ini adalah catatan merah yang harus segera dibersihkan,” tegasnya.
Selain itu, Dedi turut menyoroti kinerja sejumlah kapolsek dan kapolres yang dinilainya belum optimal. Ia menegaskan bahwa Polri akan memperkuat pengawasan internal dan melakukan evaluasi menyeluruh.
“Kami sudah memetakan daerah dan satuan yang kinerjanya buruk. Evaluasi akan dilakukan secara ketat dan berkelanjutan,” tambahnya.
Rapat kerja tersebut menjadi momentum penting bagi Polri untuk menyampaikan komitmen mereka dalam meningkatkan profesionalisme dan kepercayaan publik. Dedi menutup laporannya dengan menekankan kembali urgensi perubahan internal.
“Polri harus berubah. Dan perubahan itu dimulai dari kami sendiri,” pungkas Dedi.






