Tampak depan Hotel Hollywood di Riau

Wafat di Tengah Perjuangan Tolak Tambang Emas, Kepergian Helmud Hontong Tinggalkan Duka dan Tanda Tanya

Wafat di Tengah Perjuangan Tolak Tambang Emas, Kepergian Helmud Hontong Tinggalkan Duka dan Tanda Tanya

SANGIHE — Duka mendalam menyelimuti Kabupaten Kepulauan Sangihe atas wafatnya Wakil Bupati Sangihe, Helmud Hontong, sosok yang dikenal vokal menolak aktivitas pertambangan emas oleh PT Tambang Mas Sangihe (TMS). Helmud menghembuskan napas terakhirnya secara mendadak saat berada di dalam pesawat dalam perjalanan dari Bali menuju Manado.

Semasa hidup, Helmud Hontong menjadi figur sentral dalam penolakan rencana eksploitasi tambang emas dengan konsesi lahan mencapai 42 ribu hektare di Pulau Sangihe. Ia secara terbuka menyuarakan kekhawatiran akan kerusakan lingkungan, ancaman terhadap ekosistem pulau kecil, serta dampak sosial bagi masyarakat adat dan nelayan.

Bahkan, dalam langkah yang jarang dilakukan pejabat daerah, Helmud diketahui mengirimkan surat protes resmi secara pribadi kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menegaskan penolakannya terhadap izin tambang tersebut.

Tak lama setelah sikap kritis itu disuarakan, kabar duka datang. Kepergian Helmud secara tiba-tiba memunculkan rasa kehilangan mendalam, sekaligus menyisakan pertanyaan besar di tengah masyarakat.

Tokoh masyarakat Sangihe, Pdt. Markus Tahulending, menyebut Helmud sebagai pemimpin yang berani berdiri di garda depan demi kepentingan rakyat.

“Beliau bukan hanya pejabat, tapi suara nurani masyarakat Sangihe. Pak Helmud berani melawan arus demi menjaga tanah dan laut warisan leluhur,” ujarnya dengan nada haru, Senin.

Hal senada disampaikan Ketua Dewan Adat Sangihe, Samuel Makisanti, yang menilai Helmud sebagai simbol perlawanan terhadap eksploitasi berlebihan di wilayah pulau kecil.

“Kami kehilangan penjaga tanah Sangihe. Beliau paham betul bahwa tambang emas bukan sekadar soal investasi, tapi soal masa depan generasi kami,” katanya.

Sementara itu, aktivis lingkungan lokal Maria Rantung menegaskan bahwa perjuangan Helmud tidak boleh berhenti meski sang wakil bupati telah tiada.

“Kepergian Pak Helmud adalah duka nasional bagi pejuang lingkungan. Kami berharap negara membuka mata dan meninjau ulang izin tambang yang ditolak masyarakat,” tegasnya.

Hingga kini, masyarakat Sangihe masih mengenang Helmud Hontong sebagai pemimpin yang konsisten membela kepentingan lingkungan dan rakyat kecil. Kepergiannya di tengah perjuangan tersebut menjadi pengingat bahwa suara kritis terhadap eksploitasi sumber daya alam kerap menuntut keberanian besar—bahkan hingga pengorbanan tertinggi.

58 / 100 Skor SEO
https://riauexpose.com/wp-content/uploads/2024/06/Merah-Ilustratif-Modern-Dirgahayu-Bhayangkara-Instagram-Story_20240629_090843_0000.png