Tragedi Zara Qairina: Seruan Keadilan Usai Kepergian Pelajar 13 Tahun di Sabah

Tragedi Zara Qairina: Seruan Keadilan Usai Kepergian Pelajar 13 Tahun di Sabah

Zara Qairina

Kota Kinabalu – Malaysia diguncang rasa duka mendalam atas kepergian Zara Qairina Mahathir (13), seorang siswi SMKA Tun Datu Mustapha, Sabah, yang meninggal dunia pada 17 Juli 2025 setelah sebelumnya ditemukan tidak sadarkan diri di kawasan asrama sekolahnya.

Zara ditemukan dalam kondisi pingsan pada dini hari 16 Juli di saluran pembuangan dekat asrama. Diduga ia terjatuh dari lantai tiga bangunan. Meski segera dilarikan ke Rumah Sakit Queen Elizabeth I, upaya medis tidak mampu menyelamatkannya.

Kejadian ini menyisakan luka mendalam bagi keluarganya, terutama sang ibu, Noraidah Lamat, yang terakhir bertemu putri semata wayangnya pada 12 Juli dalam kegiatan gotong royong sekolah.

“Saya hanya ingin kebenaran yang jujur dan adil untuk anak saya. Harapan saya, kepergiannya tidak berlalu begitu saja tanpa jawaban,” ujar Noraidah dengan penuh haru.

Kasus ini mencuat sejak pertengahan Juli dan hingga kini terus menjadi perhatian publik. Pihak berwenang menyatakan penyelidikan dilakukan secara menyeluruh dan profesional.

Insiden bermula di kawasan asrama sekolah SMKA Tun Datu Mustapha, sebelum kemudian dibawa ke rumah sakit di Kota Kinabalu. Zara kemudian dimakamkan di Kampung Kalamauh Mesapol, Sipitang, disaksikan keluarga dan kerabat.

Meski berbagai dugaan beredar di masyarakat, termasuk isu perundungan, polisi menegaskan penyelidikan masih berjalan. Komisaris Polisi Sabah, Jauteh Dikun, meminta masyarakat bersabar dan tidak membuat spekulasi.

“Kami memahami keresahan publik. Namun, kami mohon semua pihak tetap tenang, karena penyelidikan sedang dilakukan secara menyeluruh dan profesional,” jelasnya.

Hingga akhir Juli, lebih dari 60 orang telah dimintai keterangan, termasuk pihak sekolah. Berkas penyelidikan telah diserahkan ke kepolisian pusat untuk ditinjau sebelum diteruskan ke Kejaksaan Agung.

Seiring berjalannya waktu, sang ibu juga meminta agar makam putrinya dibuka kembali untuk keperluan otopsi demi memperoleh kejelasan. Pengacaranya pun menegaskan agar masyarakat menahan diri dari komentar yang dapat menambah beban keluarga.

“Keluarga hanya menginginkan kebenaran. Biarlah proses hukum berjalan dengan tenang tanpa tekanan dari luar,” kata salah satu kuasa hukum keluarga.

Exit mobile version