Tampak depan Hotel Hollywood di Riau

Tak Kan Melayu Hilang di Bumi, Afni Canangkan Siak sebagai Pusat Budaya Riau

IMG 9837
Bupati Afni Didampingi Wabup Syamsurizal Menerima Penghargaan dari Pemprov Riau belum lama ini

SIAK  riauexpose.com– Pemerintah Kabupaten Siak menegaskan langkah konkret untuk menjadikan Siak sebagai Pusat Kebudayaan Melayu Riau. Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, usai pelaksanaan Simposium Besar Kebudayaan Melayu di Siak Sri Indrapura, Selasa (10/2/2026).

Menurut Afni, pasca-simposium pihaknya akan segera membentuk tim khusus yang bertugas menyusun strategi, peta jalan, serta program berkelanjutan guna memperkuat posisi Siak sebagai episentrum kebudayaan Melayu di tingkat regional maupun nasional.

“Simposium ini bukan akhir, tetapi awal dari langkah besar kita. Kami akan membentuk tim khusus untuk mempersiapkan Siak sebagai Pusat Kebudayaan Melayu,” tegas Afni.

Ia menilai, kegiatan tersebut menjadi momentum bersejarah yang menunjukkan kuatnya komitmen berbagai elemen dalam menjaga marwah dan kebesaran Kesultanan Siak Sri Indrapura sebagai warisan peradaban Melayu.

Simposium menghadirkan tokoh adat, alim ulama, cerdik pandai, para tetua kampung, raja dan sultan Melayu di Sumatera, serta pemuka masyarakat dari berbagai daerah. Kehadiran mereka dinilai memperkuat legitimasi moral dan kultural atas cita-cita besar tersebut.

Sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Syamsuar selaku Ketua Perkumpulan Keluarga Siak Riau (PKSR), Wan Abu Bakar sebagai inisiator kegiatan, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Ketua LAMR Siak, perwakilan organisasi masyarakat, akademisi, guru, mahasiswa, hingga pelajar.

Afni juga menyampaikan apresiasi kepada para narasumber yang dinilai memberikan perspektif ilmiah dan historis dalam memperkuat gagasan pelestarian budaya Melayu. Mereka antara lain Prof. Dr. Anhar Gonggong (UI), Prof. OK. Saidin, S.H., M.Hum. (USU dan Ketua Umum PP MABMI), Prof. Dr. Syarif Hidayat (Universitas Nasional), Prof. Dr. Abdul Malik (UMRAH), Prof. Dr. Setiadi (UGM), Prof. Dr. Mukhlis Paeni (ANRI), serta Dr. Hadri Mulya (Universitas Mercu Buana).

Bupati perempuan pertama di Kabupaten Siak itu menegaskan, upaya menjadikan Siak sebagai pusat kebudayaan Melayu bukan sekadar agenda seremonial. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan bagian dari ikhtiar strategis untuk menjaga identitas, sejarah, serta nilai-nilai luhur Melayu agar tetap relevan di tengah arus modernisasi.

“Ini tentang menjaga jati diri dan memastikan warisan budaya kita terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. Tak Kan Melayu Hilang di Bumi,” pungkas Afni.***

68 / 100 Skor SEO
https://riauexpose.com/wp-content/uploads/2024/06/Merah-Ilustratif-Modern-Dirgahayu-Bhayangkara-Instagram-Story_20240629_090843_0000.png