Sidratul Muntaha — Ujung Segala Semesta

Sidratul Muntaha — Ujung Segala Semesta

RE.~ Ketika kita menatap langit yang luas tak bertepi, pernahkah kita bertanya dalam hati: di manakah ujung dari semua semesta ini?

Pertanyaan itu terlalu besar untuk dijawab oleh akal manusia.
Bahkan dengan kemajuan ilmu astronomi yang luar biasa, manusia masih belum mampu menembus batas paling akhir dari ciptaan Allah.

Namun, Al-Qur’an dan hadis Rasulullah ﷺ memberikan petunjuk tentang tempat yang menjadi puncak seluruh ciptaan, batas tertinggi dari segala yang diciptakan.
Tempat itu disebut Sidratul Muntaha — lokasi yang berada di atas langit ketujuh, ujung dari semua semesta, tempat berhentinya semua ilmu dan makhluk.

Tempat yang Tak Terjangkau, Kecuali Oleh Sang Nabi

Sidratul Muntaha adalah tempat yang tak pernah bisa dimasuki oleh siapa pun, termasuk para malaikat yang paling mulia sekalipun.
Bahkan Malaikat Jibril ‘alaihis salam pun berhenti di batas itu.
Namun dengan izin Allah, Nabi Muhammad ﷺ menjadi satu-satunya makhluk yang pernah melangkah ke dalamnya — dalam peristiwa agung yang dikenal dengan Mi‘raj.

Bentuk dan Keindahan Sidratul Muntaha

Dalam berbagai riwayat sahih, Sidratul Muntaha digambarkan sebagai sebatang pohon besar — sidrah berarti pohon bidara.
Rasulullah ﷺ tidak menggambarkannya secara detail, karena keindahannya melampaui batas bahasa.
Beliau hanya bersabda:

“Ketika aku dimi‘rajkan ke langit ketujuh, aku diajak menuju Sidratul Muntaha. Ketika pohon itu diliputi oleh perintah Allah, ia berubah wujud. Tak ada seorang pun manusia yang mampu menggambarkannya, karena keindahannya yang tak terlukiskan.”
(HR. Abu Ya‘la)

Dalam riwayat Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu disebutkan:

“Dinamakan Sidratul Muntaha karena segala ketetapan Allah yang turun berpangkal dari sana, dan semua yang naik ujungnya berakhir di sana.”

Imam As-Sa‘di rahimahullah juga menegaskan dalam tafsirnya:

“Sidratul Muntaha dinamakan demikian karena ia menjadi tempat berakhirnya segala yang naik dari bumi, dan pangkal turunnya semua ketetapan Allah — baik wahyu maupun rahmat.”

Artinya, Sidratul Muntaha adalah puncak segala urusan, tempat batas pengetahuan makhluk.
Di atasnya, tak ada seorang pun yang tahu — bahkan Jibril ‘alaihis salam sekalipun.

Gambaran yang Disampaikan Rasulullah ﷺ

Nabi ﷺ bersabda:

“Aku melihat Sidratul Muntaha di langit ketujuh. Buahnya seperti kendi besar dari daerah Hajar, dan daunnya seperti telinga gajah. Dari akarnya mengalir empat sungai: dua di dalam surga dan dua di luar surga.”
(HR. Bukhari)

Ketika beliau bertanya kepada Jibril tentang sungai-sungai itu, Jibril menjawab:

“Adapun dua yang di dalam surga adalah sungai rahmat, sedangkan dua yang di luar adalah sungai Nil dan Eufrat.”

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan betapa rindangnya pohon itu:

“Bayang-bayangnya dapat dilalui oleh penunggang kuda selama seratus tahun. Daunnya meneduhkan seratus penunggang kuda, dan di sana terdapat laron-laron dari emas.”
(HR. Tirmidzi)

Begitulah Rasul menggambarkan keagungan Sidratul Muntaha — tempat yang begitu indah, luas, dan bercahaya.

Tempat Rasul Melihat Jibril dalam Wujud Aslinya

Di tempat inilah Nabi Muhammad ﷺ melihat Malaikat Jibril dalam rupa aslinya.
Sepanjang hidup beliau, Jibril biasanya menampakkan diri dalam wujud manusia.
Namun di Sidratul Muntaha, Jibril menampakkan diri sebagaimana Allah menciptakannya — makhluk cahaya yang menakjubkan.

Inilah yang kemudian diabadikan Allah dalam Al-Qur’an,
dalam Surat An-Najm ayat 12–18:

“Apakah orang-orang musyrik hendak membantah apa yang telah dilihatnya?
Dan sungguh, Muhammad telah melihat Jibril itu pada waktu yang lain,
yaitu di Sidratul Muntaha.
Di dekatnya ada surga tempat tinggal,
ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu, dan tidak melampaui batas.
Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang paling besar.”

Makna Sidratul Muntaha Bagi Orang Beriman

Sidratul Muntaha menjadi simbol batas antara dunia makhluk dan wilayah kekuasaan Ilahi.
Di sanalah Rasulullah ﷺ menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah, surga, neraka, dan berbagai rahasia gaib.
Ia bukan sekadar tempat, melainkan puncak perjalanan spiritual tertinggi yang pernah dialami manusia.

Para ulama berpendapat, di dekat Sidratul Muntaha terdapat Surga Ma’wa — tempat bagi arwah yang suci, yang tak dapat disentuh setan atau arwah yang buruk.
Di situlah letak kenikmatan tertinggi yang hanya Allah yang tahu hakikatnya.

Ketika Rasulullah ﷺ sampai di sana, beliau tidak menoleh, tidak melebihi batas, dan tidak pula menuntut untuk melihat lebih banyak.
Sikap itu menunjukkan adab tertinggi seorang hamba di hadapan Tuhannya.

Penutup

Sidratul Muntaha adalah tanda kebesaran Allah, sekaligus bukti kemuliaan Rasulullah ﷺ sebagai makhluk yang paling dekat dengan-Nya.
Keindahannya tak bisa dibayangkan, dan hakikatnya hanya Allah yang mengetahuinya.

Semoga kisah agung ini menumbuhkan dalam diri kita rasa takjub dan tunduk akan kebesaran Allah,
serta menambah cinta kepada Rasulullah ﷺ — sosok yang diizinkan menembus batas semesta untuk menerima kehormatan tertinggi dari Tuhannya.

Wallāhu a‘lam.

Exit mobile version