Opini  

Pintu Kehormatan Riau: Dari Siak untuk Indonesia, Mengawal Gelar Tengku Agung Syarifah Latifah”

Pintu Kehormatan Riau: Dari Siak untuk Indonesia, Mengawal Gelar Tengku Agung Syarifah Latifah"

Oleh Taupik, Tenaga Ahli Bupati Siak, Anggota Perkumpulan FITRA Riau

RE.~ Artikel ini mengangkat kembali sosok Tengku Agung Syarifah Latifah, perempuan visioner dari Siak Sri Indrapura. Di masa ketika huruf jarang dibaca dan suara perempuan nyaris tak terdengar, ia berdiri di garis depan memperjuangkan pendidikan dan hak-hak kaum perempuan.

Lahir di Tanjung Pura pada 1896 dan wafat pada 2 November 1929, beliau adalah permaisuri Sultan Syarif Kasim II sekaligus pendiri sekolah pertama di Riau yang hingga kini masih tegak berdiri di Kota Siak.

Putri dari Tengku Pangeran Embung Jaya Setia dan Tengku Aisiah ini menyandang gelar Tengku Agung saat suaminya naik takhta pada 3 Maret 1915. Sejak itu, langkahnya semakin tegap sebagai penggerak sekaligus penguat peran perempuan Melayu di tengah arus perubahan zaman.

Lebih dari sekadar kisah sejarah, artikel ini adalah ajakan untuk bergandeng tangan, berkolaborasi, dan bersuara bersama demi mengembalikan marwah kehormatan bangsa melalui upaya mendorong gelar pahlawan nasional bagi Tengku Agung Syarifah Latifah.

12 Agustus 2025, Menjelang pembacaan detik-detik Proklamasi setiap 17 Agustus, kita selalu diminta berhenti sejenak, mengheningkan cipta, mengenang jasa para pahlawan, dan merenungkan arti kemerdekaan.

Dalam momen penuh makna ini, penulis ingin mengajak kita membuka kembali pandangan pada sosok perempuan bangsawan yang cintanya kepada rakyat begitu tulus, Tengku Agung Syarifah Latifah.

Namanya hidup di hati masyarakat Siak, bahkan diabadikan sebagai salah satu jembatan termegah yang menghubungkan Kota Siak dengan kecamatan di seberang.

Namun, pengabadian nama di sebuah bangunan belum cukup untuk menggambarkan kedalaman perjuangannya.

Di masa lalu, istana Siak pernah ia sulap menjadi rumah pendidikan rakyat di tengah tekanan kolonial Belanda. Saat sebagian besar masyarakat masih buta huruf, Syarifah Latifah justru membuka pintu sekolah dan memberi rakyat kesempatan belajar.

Sekolah yang ia dirikan pada 1927, bernama Sultanah Latifah School, mengadopsi sistem pembelajaran Barat dengan kurikulum yang ia susun sendiri. Para siswi diajarkan keterampilan mengurus rumah tangga, pekerjaan tangan, kebersihan, dan menenun di mana keterampilan menenun menjadi ciri khas sekolah ini.

Uniknya, sekolah tersebut menerima murid dari berbagai latar belakang, anak bangsawan, masyarakat kampung, hingga yatim piatu.

Lebih dari sekadar pendidik, Syarifah Latifah adalah pejuang emansipasi perempuan. Ia meyakini bahwa perempuan seharusnya berdiri sejajar dengan laki-laki, memiliki kesempatan untuk bekerja dan berkarya, bukan sekadar berada di balik bayang-bayang.

Pandangan inilah yang terus ia perjuangkan hingga akhir hayatnya, meninggalkan warisan yang tak ternilai bagi perempuan Melayu dan bangsa Indonesia.

Sejarah yang Terlupakan

Latifah dan R.A. Kartini memiliki benang merah perjuangan yang sama memerdekakan pikiran perempuan sebelum kemerdekaan bangsa. Namun, bila nama Kartini telah mengakar dalam ingatan nasional, kisah Syarifah Latifah justru meredup di sudut sejarah yang jarang terjamah pena.

Minimnya penulisan sejarah lokal, terutama tentang peran perempuan di garis depan pendidikan dan perjuangan bangsa, membuat sosok setangguh beliau terpinggirkan dari narasi besar Indonesia.

Akibatnya, generasi emas Indonesia tumbuh dengan referensi pahlawan perempuan yang terbatas, padahal tanah air ini menyimpan begitu banyak figur yang tak kalah menginspirasi.

Syarifah Latifah perempuan bangsawan yang berani membuka akses pendidikan, menentang keterkungkungan adat yang menghambat kemajuan perempuan, dan menjadi teladan kepemimpinan adalah salah satunya.

Sudah sepatutnya negara memberi ruang penghargaan setinggi-tingginya kepada Syarifah Latifah sebagai Pahlawan Nasional. Apalagi Riau bukan sekadar bagian dari peta Indonesia, melainkan salah satu fondasi sejarah perjuangan bangsa.

Dari bumi Melayu inilah bahasa persatuan lahir, dan dari istana Siak inilah Sultan Syarif Kasim II, sang suami, rela menyerahkan harta kekayaannya untuk Republik yang baru lahir. Pasangan ini bukan hanya kisah cinta, tetapi juga kisah pengorbanan tanpa pamrih untuk tanah air.

Kolaborasi Mengawal Gelar

Gubernur Riau dan Bupati Siak adalah pintu utama dalam mengawal proses pemberian gelar kehormatan ini. Peran keduanya bukan hanya administratif, tetapi juga amanah sejarah. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah memastikan seluruh dokumen, arsip, dan naskah akademik yang memuat rekam jejak perjuangan Syarifah Latifah tersusun rapi sesuai persyaratan pengusulan Pahlawan Nasional.

Selanjutnya, mereka perlu menggalang dukungan politik dan sosial dari DPRD, akademisi, sejarawan, hingga organisasi perempuan untuk memperkuat legitimasi di tingkat pusat.

Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) memiliki posisi penting sebagai penjaga marwah dan warisan budaya. Melalui forum budaya, seminar sejarah, dan kampanye edukasi, LAMR dapat menanamkan pemahaman di masyarakat tentang jasa besar beliau.

Dengan begitu, dukungan tidak hanya mengalir dari pemerintah, tetapi juga tumbuh dari kesadaran publik.

Kolaborasi ini akan semakin kuat jika dibentuk tim khusus pengusulan gelar Pahlawan Nasional yang melibatkan unsur pemerintah, LAMR, akademisi, dan tokoh masyarakat. Tim ini bertugas merancang peta jalan advokasi, menyusun strategi komunikasi ke pemerintah pusat, dan memastikan narasi perjuangan Tengku Agung Syarifah Latifah tersampaikan dengan utuh dan menggugah.

Mengawal gelar ini bukan sekadar urusan administrasi, melainkan sebuah ikhtiar mengembalikan marwah sejarah perempuan Melayu ke panggung kehormatan bangsa. Ini adalah perjuangan untuk memastikan bahwa peran perempuan dalam sejarah Riau tidak lagi terpinggirkan. Kerja bersama seluruh elemen masyarakat, akademisi, pemerintah, dan pemerhati sejarah menjadi syarat mutlak untuk mewujudkannya.

Sebagai tenaga ahli Bupati, penulis memiliki komitmen untuk mendorong penobatan Sultan Agung Syarifah Latifah sebagai Pahlawan Nasional. Langkah ini bukan hanya bentuk penghargaan, tetapi juga tonggak sejarah yang akan memperkuat identitas dan kebanggaan masyarakat Riau.

Perhatian penulis terhadap sejarah dan nilai budaya, khususnya di Kabupaten Siak, menjadi motivasi kuat untuk mengawal proses ini sebab yang kita perjuangkan bukan hanya gelar, tetapi kehormatan, warisan, dan jati diri bangsa serta perempuan.

Exit mobile version