Mentri LH Hanif Faisol
Pekanbaru, 23 Juli 2025 — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali meningkat di Provinsi Riau dan menjadi perhatian serius pemerintah pusat.
Berdasarkan data per 20 Juli 2025, sebanyak 790 titik panas (hotspot) telah terdeteksi, dengan 27 di antaranya merupakan titik api aktif. Hanya dalam waktu satu hari, luas lahan yang terbakar melonjak tajam dari 546 hektare menjadi sekitar 1.000 hektare.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, dalam kunjungannya ke Pekanbaru Selasa (22/7), menyampaikan keprihatinan mendalam atas kondisi terkini di Riau.
Ia menekankan bahwa peningkatan karhutla secara drastis dalam waktu singkat menunjukkan adanya tantangan serius di lapangan, termasuk lemahnya pengawasan serta masih adanya praktik pembakaran lahan.
“Situasi ini sudah melewati batas normal. Kami melihat adanya pola berulang dalam kebakaran lahan, yang mengindikasikan perlunya penanganan yang lebih terkoordinasi dan tegas,” ujar Menteri Hanif dalam konferensi pers di Pekanbaru, Selasa (22/7/2025).
Pemerintah, melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), telah mengambil sejumlah langkah konkret.
Penegakan hukum dilakukan terhadap pelaku pembakaran, baik individu maupun perusahaan. Saat ini, 29 tersangka telah diamankan oleh jajaran kepolisian Riau.
“Kami memberikan apresiasi kepada Polda Riau atas kerja cepatnya. Ini menjadi pesan bahwa pelanggaran terhadap lingkungan tidak akan ditoleransi,” imbuh Menteri Hanif.
KLH/BPLH juga menindaklanjuti temuan di lapangan dengan memberikan sanksi administratif kepada perusahaan pemegang izin konsesi yang dinilai lalai.
Beberapa perusahaan besar seperti RAPP, Sinar Mas Group, dan PTPN IV Regional III telah diminta memperkuat langkah pencegahan, termasuk membangun sekat kanal di lahan gambut dan meningkatkan patroli bersama masyarakat.
Selain langkah hukum, pemerintah juga menggandeng BMKG untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) demi mempercepat hujan buatan.
Tujuannya adalah menurunkan risiko kebakaran di wilayah dengan lahan gambut yang sangat kering.
Sementara itu, BNPB telah mengerahkan satu helikopter water bombing, dan dalam waktu dekat akan menambah tiga unit lagi.
Dukungan juga datang dari sektor swasta, di antaranya Sinar Mas Group yang mengirimkan helikopter ke wilayah Bangko Sempurna, Rokan Hilir, daerah dengan titik api terbanyak saat ini.
Penyebaran api diperparah oleh kondisi angin kencang, lahan gambut yang kering, serta medan yang sulit dijangkau. Saat ini, 12 kabupaten di Riau telah menetapkan status siaga karhutla.
Seluruh langkah penanganan telah dijalankan sejak meningkatnya titik panas pada pertengahan Juli 2025, dan akan terus ditingkatkan seiring situasi di lapangan.
Sebaran titik api terpantau saling berdekatan di beberapa wilayah strategis, menunjukkan kemungkinan adanya pembakaran terorganisir.
Menteri Hanif mengajak seluruh pemangku kepentingan, dari kepala daerah hingga tokoh masyarakat, untuk memperkuat edukasi dan pengawasan di tingkat lokal.
“Kami mengajak semua pihak untuk bergerak bersama. Edukasi masyarakat, patroli darat, dan pelibatan masyarakat peduli api sangat penting. Perlindungan lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya.













