Sri Mulyani Menteri Keuangan RI
Jakarta, – Pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani terkait pembiayaan guru dan dosen menuai respons dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Dalam sebuah forum, Sri Mulyani menyampaikan bahwa profesi guru dan dosen sering kali dianggap kurang dihargai karena gaji yang relatif kecil.
Menurutnya, hal ini menjadi salah satu tantangan besar dalam pengelolaan keuangan negara.
“Banyak di media sosial yang menyebut, menjadi dosen atau guru tidak dihargai karena gajinya tidak besar. Ini memang salah satu tantangan bagi keuangan negara. Pertanyaannya, apakah seluruh pembiayaan harus ditanggung APBN, atau ada kemungkinan partisipasi dari masyarakat?” ujar Sri Mulyani.
Pernyataan tersebut kemudian ditanggapi oleh PGRI. Ketua Badan Khusus Komunikasi dan Digitalisasi Organisasi PGRI, Wijaya, menyampaikan harapan agar pernyataan itu tidak menimbulkan kesalahpahaman bahwa guru dianggap sebagai beban negara.
“Guru, terutama yang berstatus honorer dan mengabdi di daerah pelosok, justru menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kami berharap pemerintah terus memberikan penghargaan dan dukungan yang lebih besar kepada para pendidik,” ungkap Wijaya dalam keterangan tertulis, Selasa (19/8).
Menurut PGRI, dialog terkait pembiayaan pendidikan sebaiknya menekankan pada solusi bersama tanpa mengurangi penghormatan terhadap profesi guru.
“Kami memahami adanya keterbatasan anggaran, namun apresiasi terhadap perjuangan guru juga harus ditunjukkan dengan cara yang konstruktif,” tambah Wijaya.
Dengan demikian, diskusi mengenai pembiayaan guru dan dosen diharapkan dapat melibatkan berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk mencari jalan terbaik dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.








